
WARNING!!!
Masih area 21+
Yang belum cukup umur dan belum memiliki suami/istri, silahkan skip sampai muncul tanda π₯π₯π₯.
...Happy readingπ€§...
..._____________________...
"Are you ready, Honey? Kita akan memulai acaranya sekarang," ucap kak Rey, sambil melemp*r h*nduk yang tadinya melil*t di p*ngg*ngnya ke sembarang arah.
Aku hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan suamiku. Sejujurnya sekarang inilah yang membuat aku deg-degan. Sebentar lagi aku akan menyerahkan mahkotaku kepada laki-laki yang saat ini berstatus sebagai suamiku.
Ku lihat senj*ta pam*ngk*s milik kak Rey sudah dia arahkan ke aset milikku yang paling berharga. Sejujurnya aku merasa takut dan teg*ng. Kata orang, rasanya sangat sakit jika baru pertama kali melakukannya.
"Rileks Sayang, jangan tegang. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati," ucap kak Rey. Mungkin dia bisa merasakan keteg*nganku karena aku mencengkram pergelangan tangannya kuat-kuat.
Aku menurut. Tanganku tidak lagi berpegangan pada pergelangan tangan suamiku, namun aku alihkan pada bantal.
Kak Rey mulai m*ngg*s*kkan miliknya naik turun dengan pelan dan lembut pada asetku. Ras*nya sangat geli saat kedua aset itu saling bersent*han untuk yang pertama kalinya. Sampai-sampai aku meng****** tubuhku dan bergerak sedikit mundur saking g*linya.
"Tahan Sayang, jangan banyak bergerak." Kak Rey menarik kakiku agar posisiku kembali turun ke bawah.
Setelah posisiku kembali ke posisi semula, kak Rey kembali m*ngg*s*kkan sen*at*nya bergerak ke atas dan ke bawah pada asetku. Awalnya aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa g*li yang teramat sangat, namun lama kelamaan rasa g*li itu berubah menjadi n*km*t. Aku tidak hanya menginginkan g*s*kan antar aset saja. Aku ingin kak Rey segera m*m*s*kkan mil*knya pada mil*kku.
Seolah mengerti bahwa aku meminta dan menginginkan lebih, kak Rey pun tersenyum. "Tahan Sayang, aku akan benar-benar m*m*s*kk*nnya sekarang. Tahan ya."
"Agh." Aku memekik tertahan saat merasakan benda k*r*s nan t*mp*l itu mulai memaksa masuk. Rasanya sakit dan perih.
"Tahan Sayang, aku akan pelan-pelan."
__ADS_1
"Eugh. Sakit ..." ucapku saat kak Rey melakukan dor*ng*n keduanya.
"Iya, iya Sayang. Sedikit lagi. Cup." Sebelum menuntaskan penerobosannya, kak Rey mencium kening, kedua pipi, dan bib*rku.
"I love you," bisiknya lalu kembali pada posisinya semula, bersiap untuk menuntaskan peng*bor*nnya.
Tap.
"Aakh!" Aku memekik saat merasakan milik suamiku sudah masuk memenuhi bagian intiku.
"Sakit sekali ..." ucapku dengan lirih. Air mataku sampai menetes dari kedua ujung mataku saking sakit dan perihnya.
"I Love you so much, Sayang. I love you so much," ucapnya sambil mengusap air mataku lalu mencium keningku cukup lama.
Cup.
Kak Rey kembali m*l*m*t bi*irku sebelum mulai menggerakkan p*ngg*lnya m*ju m*ndur, hingga rasa sakit yang aku rasakan berganti menjadi rasa n*kmat yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Rasanya, aku seperti dibuat melayang-layang oleh kak Rey.
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
...π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯...
2 Jam kemudian.
Aku akhirnya terjaga setelah tidur dan beristirahat selama beberapa puluh menit. Badanku rasanya sangat pegal, serta aset bagian bawahku rasanya sangat perih dan sakit.
Aku melihat ke arah samping, ternyata kak Rey sudah tidak ada di sampingku. Rupanya dia sudah bangun lebih dulu tanpa membangunkan aku.
Aku segera bangkit dari posisi berbaringku. Refleks aku menggigit sudut bibirku saat merasakan sakit dan perih di area pangk*l pah*ku, namun rasa sakitnya masih bisa aku tahan dan aku masih kuat berjalan.
Dengan selimut yang membalut tubuhku, aku berjalan menuju kamar mandi. Aku ingin mandi dan membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.
__ADS_1
Sekitar 20 menit kemudian. Aku sudah selesai mandi dan sudah lengkap dengan pakaianku. Aku pun segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Rasanya aku sudah sangat lapar, tapi aku belum memasak apa pun sejak tadi pagi. Dan ternyata, selain penyayang, suamiku juga sangat pengertian. Dia ternyata sudah memesan makanan untuk menu makan siang kami, dan sekarang makanan itu sudah ada di atas meja makan.
Aku mencari-cari keberadaan kak Rey. Aku ingin mengajaknya untuk makan bersama sekarang juga. Tapi ... di mana dia? Aku belum pernah melihatnya semenjak aku bangun. Dia tidak ada di kamar, juga tidak ada di dapur. Itu artinya, dia pasti sedang berada di ruang tamu. Ke mana lagi kalau bukan di sana. Dia juga tidak mungkin keluar tanpa memberitahu aku.
Semakin dekat aku berjalan menuju ruang tamu, samar-samar aku mendengar suara laki-laki sedang berbicara. Aku juga tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Ku lihat pintu sedikit terbuka, dan kak Rey tidak ada di ruang tamu. Itu artinya, kak Rey yang sedang mengobrol di luar sana. Entah dengan siapa, aku juga belum tahu. Baru saja aku ingin mengeceknya.
Kalau ada orang yang datang, kenapa tidak diajak masuk? Pikirku.
"Memangnya kenapa kalau aku cuma pura-pura amnesia? Apa urusannya denganmu? Hah."
Dug.
Jantungku seketika berdetak dengan cepat. Suara itu jelas-jelas adalah suara milik suamiku. Dan apa aku tidak salah dengar? Dia berkata bahwa dia hanya berpura-pura amnesia? Tapi kenapa? Apa alasan dia melakukannya?
"Jelas saja ada urusannya denganku. Kamu memanfaatkan itu semua untuk merebut Keisha dariku."
Oh, tidak! Itu suara mas Darren.
Seketika aku menjadi panik sendiri, sedangkan detak jantungku, jangan tanya lagi. Sudah pasti tidak bisa aku kondisikan. Seketika badanku jadi gemetar, tangan dan kakiku juga tiba-tiba terasa dingin. Entah karena takut, khawatir, atau apa. Yang jelas, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini. Suamiku dan kakak tiriku sepertinya akan bertengkar gara-gara aku.
Aduh mas Darren ... kenapa dia pakai acara ke sini segala dan membuat masalah? Bukankah status pernikahanku dengan kak Rey sudah memperjelas bahwa aku dan dia sudah tidak mungkin lagi untuk bisa bersatu kembali. Kenapa dia tidak bisa mengerti juga?
"Hah? Aku? Aku yang merebut Kei darimu? Tidak salah? Bukannya terbalik? Kamu yang sudah merebutnya dariku. Jangan pikir aku tidak tahu mengenai hal itu. Aku tahu semuanya. Aku punya video bukti perselingkuhan kalian. Kamu mencium wanita yang sudah menjadi milikku sebanyak dua kali."
Meski pun suaranya tidak dibesar-besarkan, akan tetapi terdengar jelas bahwa kak Rey sangat marah. Setiap kalimat yang dia ucapkan penuh dengan penekanan.
"Dan apa kamu tahu, saat aku mengalami kecelakaan, aku sebenarnya ingin pergi menghajarmu habis-habisan. Aku ingin membuatmu babak belur dan hanya menyisakan nyawamu saja."
Dug dug dug dug dug dug.
Detak jantungku semakin lama semakin tidak karuan. Aku tidak sanggup lagi mendengar pertengkaran mereka. Kenyataan bahwa kak Rey mengetahui semua pengkhianatanku membuat aku benar-benar shock. Ternyata selama ini dia menutupi semua sakit hati dan kekecewaannya padaku dengan berpura-pura amnesia.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...