Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 50


__ADS_3

Begitu Laras keluar dari kamar, kak Andra terlihat berbisik di dekat telinga kak Rey. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


"Terserah Kak Andra saja. Yang penting dia tidak pergi jauh-jauh dariku," ucap kak Rey menanggapi bisikan kak Andra.


Aku yakin, mereka berdua pasti sedang membicarakan aku, karena hanya aku yang tidak boleh pergi jauh-jauh dari pandangan kak Rey.


Kak Andra terlihat tersenyum lebar. Lalu berjalan menghampiriku.


"Mm ... Kei. Apa aku boleh meminta tolong sesuatu padamu?" Kak Andra terlihat malu-malu dan sungkan meminta tolong padaku.


"Minta tolong apa, Kak? Ngomong aja. Kalau aku bisa, pasti aku akan membantu Kak Andra," jawabku.


.


.


2 Jam kemudian.


"Kak Andra punya request-an apa? Cake-nya mau dikasih tulisan apa gitu di atasnya?" tanyaku pada kak Andra.


Beberapa jam yang lalu, kak Andra meminta tolong padaku untuk dibuatkan cake ulang tahun. Dia ingin memberikan kejutan pada seorang gadis yang dia sukai, yang katanya akan dia tembak nanti kalau momentnya pas dan tidak ada pengganggu.


"Tulis saja, Happy Birthday Cerewet," jawabnya malu-malu. Sepertinya kata 'cerewet' merupakan panggilan sayang kak Andra untuk gadis itu.


"Loh, kok cerewet sih Kak? Memangnya nggak ada panggilan lain? Kenapa nggak pake namanya aja?" tanyaku sambil tertawa kecil dan memberondongi kak Andra dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak usah pakai nama. Aku memang lebih suka memanggil sekretarisku dengan panggilan cerewet, karena dia orangnya sangat cerewet," jawabnya sembari senyam-senyum. Dari ekspresinya kak Andra terlihat sangat senang dan bersemangat.


Emang dasar orang kalau lagi jatuh cinta. Mengingat orang tersayang saja sudah mampu membuat kita senyam-senyum sendiri.


Oh ... jadi rupanya gadis yang ditaksir oleh kak Andra adalah sekretarisnya sendiri. Begitu rupanya. Ya ya ya. Batinku seraya mulai menulis sesuai dengan permintaan kak Andra. Aku ikut senyam-senyum sendiri membayangkan kak Andra suka pada sekretarisnya. Pasti kisah cinta mereka lumayan seru. Ditambah lagi kak Andra yang tidak terlalu suka banyak bicara kemudian jatuh cinta pada seorang gadis yang katanya sangat cerewet.


Oh iya, aku lupa menjelaskan, bahwa kak Andra itu adalah seorang pimpinan perusahaan cabang milik keluarganya, sama seperti kak Rey sebelum kecelakaan.


Setelah selesai menghias kue pesanan kak Andra, aku pun segera membawakan cake kesukaan kak Rey, sesuai dengan resep yang diajarkan oleh tante Rena waktu itu, beberapa minggu sebelum kak Rey siuman.

__ADS_1


Tadi aku memang sengaja membuat dua resep kue. Satu untuk kak Andra, dan yang satunya lagi spesial aku buat untuk calon suamiku, kak Rey. Mumpung aku memiliki kesempatan untuk kembali mengacak-acak dapur setelah sekian lama vakum, aku pun akhirnya bisa mengobati kerinduanku pada hobbiku tersebut.


"Choco butter cheese cake spesial untuk orang spesial." Aku tersenyum sembari berjongkok di hadapan kak Rey. Di tanganku sudah ada piring berisi kue kesukaan kak Rey yang sempat aku janjikan akan membuatkannya setiap hari jika dia minta saat dia masih belum sadarkan diri waktu itu.


Kak Rey tersenyum tipis. "Dari mana kamu tahu kalau kue ini adalah kue kesukaanku?"


"Tentu saja aku tau apa yang kamu suka. Memangnya kamu? Sama aku aja kamu lupa, apalagi sama kesukaan-kesukaan aku," ucapku seraya mengerucutkan bibirku cemberut.


"Kalau begitu suapi aku," ucapnya. Dia tidak menggubris ucapanku sama sekali.


"Ck, manja banget sih," ucapku seraya mengambil sepotong kue lalu mulai menyuapi kak Rey.


"Gimana? Enak nggak?" tanyaku meminta pendapatnya.


Kak Rey mengangguk. "Mirip buatan mama."


Tentu saja mirip, resepnya aku dapat dari mama kamu tau. Batinku sambil tersenyum.


Setelah menghambis waktu beberapa jam di dapur, kami akhirnya kembali ke kamar. Sedangkan kak Andra, dia sudah berangkat ke apartemen gadis pujaannya.


.


.


"Ras, gimana keadaan mas Darren?" tanyaku pada Laras.


"Mas Darren baik-baik aja kok. Kamu nggak usah khawatir, fokus aja sama kak Rey. Ok," jawab Laras di ujung telepon sana.


"Oke. Makasih ya, Ras, karena kamu sudah mau jagain mas Darren."


"Iya, sama-sama. Kamu nggak usah sungkan sama aku."


Setelah mengakhiri sambungan teleponku dengan Laras, aku pun kembali menghubungi ibu. Aku ingin mengabarkan pada beliau bahwa di rumah sakit sudah ada Laras yang menjaga mas Darren, agar ibu dan ayah tidak khawatir.


"Halo, Bu."

__ADS_1


"Iya, Nak. Kamu sudah di rumah sakit?" Pertanyaan itu yang langsung dilontarkan oleh ibu. Sebagai orang tua, ibu dan ayah Gilang pasti sangat mengkhawatirkan kondisi mas Darren. Apalagi mereka tinggal jauh dari kami.


"Nggak, Bu. Bukan Kei yang ke sana," jawbaku.


"Loh, kenapa? Terus siapa yang menunggui masmu di rumah sakit kalau begitu?" tanya Ibu, beliau tiba-tiba terdengar sangat khawatir. Terdengar jelas dari nada bicaranya.


"Ibu tenang aja. Mas Darren ada Laras yang nemenin, Bu, karena Kak Rey nggak mau aku tinggal sama Kei," jelasku menjadikan kak Rey sebagai alasan. Padahal, aku sendiri yang memang tidak mau.


"Syukurlah. Ibu merasa sangat lega mendengarnya. Kalau begitu, sampaikan ucapan terima kasih Ibu dan ayah pada Laras, Nak."


"Iya, Bu. Nanti aku sampaiin," jawabku.


...****************...


1 Minggu kemudian.


Aku mendapat kabar bahwa sekarang mas Darren sudah keluar dari rumah sakit. Dan sekarang kondisinya sudah kembali stabil seperti semula.


Sedangkan kondisi kak Rey, sekarang dia sudah belajar berjalan kembali. Meski pun terkadang masih harus dibantu dengan kursi roda karena dia masih belum terlalu kuat untuk jalan jauh-jauh.


"Duduk dulu," ucapku mengajak kak Rey untuk duduk di sofa ruang keluarga. Saat ini aku sedang memapahnya membantunya untuk belajar berjalan di dalam rumah. Aku belum berani membawanya keluar karena takut dia tidak kuat.


"Bagaimana Kei, Rey sudah bisa berjalan seberapa jauh?" Tante Rena tiba-tiba saja muncul dan menanyakan hal tersebut.


"5 Sampai 10 meter sudah kuat tanpa istirahat, Tante," jawabku.


"Oh, berarti sudah banyak kemajuan, ya?" Tante Rena tersenyum seraya duduk di salah satu sofa tidak jauh dari tempat kami duduk.


"Lumayan Tante." Aku menjawab sembari ikut tersenyum.


"Oh iya, Kei, Tante mau membicarakan sesuatu hal yang sangat penting sama kamu," ucap tante Rena.


"Sesuatu yang sangat penting apa itu Tante?" tanyaku penasaran.


"Begini, Tante sama om berpikir begini, bagaimana kalau kalian berdua menikah saja secepatnya?" tanya tante Rena.

__ADS_1


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2