Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 36


__ADS_3

Selepas mendapatkan imun dariku, mas Darren lalu memelukku dengan erat. Sesekali dia mendaratkan bibirnya di keningku. Sampai aku bertanya padanya, barulah perlahan-lahan dia mulai melepaskan pelukannya.


"Memangnya kenapa Mas nggak mau masuk ke dalam?" Aku bertanya seraya mendongak menatapnya, dan yang aku maksud dengan kata 'ke dalam' adalah kamar perawatan tempat kak Rey sedang dirawat.


Sebelum menjawab, mas Darren terlebih dahulu tersenyum sambil menunduk dan balas menatapku, membelai pipiku, dan rambutku secara bergantian.


"Tidak apa-apa. Hanya saja kalau kita bertemu di sana, kita berdua tidak bisa bermesraan seperti ini. Iya, 'kan?" jawabnya lalu mengecup bibirku secara sekilas.


"Serius? Bukan karena Mas ada masalah?" tanyaku ingin memastikan, dan mas Darren menjawab pertanyaanku hanya dengan anggukan.


"Lalu pergi ke mana Mas beberapa hari yang lalu saat Mas Darren mengantar Kei kembali ke rumah sakit? Mas ikut masuk melihat keadaan kak Rey yang sedang kritis saat itu atau tidak?" tanyaku lagi. Aku benar-benar penasaran dengan hal itu.


"Oh, itu. Mas tidak sempat menjenguknya. Waktu itu Mas tiba-tiba mendapat telepon penting dari manajer restoran Mas," jawab mas Darren.


Entah mas Darren jujur atau tidak, entah ada masalah yang sedang dia tutup-tutupi atau tidak, aku hanya tidak ingin dia memendam masalah sendirian.


"Mas serius, 'kan? Mas nggak bohong? Mas pergi waktu itu bukan gara-gara Mas marah sama Kei?" tanyaku lagi ingin memastikan. Aku hanya tidak ingin ada masalah yang ditutup-tutupi di antara kami. Aku hanya ingin mas Darren dan aku saling terbuka satu sama lain. Karena itu merupakan salah satu kunci kelanggengan hubungan kami ke depannya.


"Buat apa Mas marah sama kamu? Kalau Mas marah, Mas sendiri nanti yang akan rugi. Kalau kamu tidak mau membujuk Mas bagaimana?" Mas Darren berkata seraya mencubit hidungku dengan pelan.

__ADS_1


"Dan satu hal lagi, beberapa hari ini Mas tidak pernah muncul bukan karena Mas sedang marah, tapi karena Mas memang benar-benar sangat sibuk," imbuh mas Darren.


"Mas serius, 'kan? Mas benar-benar nggak bohong? Kei cuma nggak mau diantara kita ada masalah yang ditutup-tutupi Mas. Kei mau, Mas Darren sama Kei saling jujur dan saling terbuka. Kalau ada masalah kita berdua bicarakan baik-baik, jangan dipendam sendiri-sendiri," jelasku.


Mas Darren mengusap puncak kepalaku dengan lembut. "Iya, Mas tahu Sayang. Kamu jangan khawatir, ya. Jangan terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan.


Tidak terasa sudah hampir 15 menit aku meninggalkan ruang perawatan kak Rey, aku pun segera berpamitan pada mas Darren, takut ibu dan tante Rena mencariku jika aku pergi lebih lama.


.


.


Aku mengambil tissue basah kemudian mulai mengelap dan membersihkan tubuh kak Rey dengan telaten sambil mengajaknya berbicara. Menceritakan berbagai hal yang aku ketahui dan lain sebagainya. Berharap suatu saat nanti dia tiba-tiba terbangun dan merespon ucapanku.


Setelah membersihkan tubuh kak Rey, aku kemudian menggenggam sebelah tangannya.


"Kamu ini sebenarnya pangeran tidur atau bukan sih? Mau sampai kapan kamu akan terus tidur kayak gini? Apa kamu sedang menunggu seorang tuan putri untuk datang mencium kamu baru kamu mau bangun? Kayak cerita yang ada di dongeng-dongeng, begitu?"


"Apa kamu tidak berniat mencobanya?" Seketika suara bariton yang sangat khas mengagetkanku. Aku tahu persis siapa pemilik suara itu tanpa perlu melihat langsung siapa orangnya. Dia adalah dokter Rizal, dokter spesialis yang bertugas menangani masalah kak Rey.

__ADS_1


"Eh, selamat pagi, Dok." Aku langsung berdiri dari dudukku untuk menyapa dokter Rizal yang datang untuk memeriksa keadaan kak Rey.


"Apa kamu tidak berniat mencobanya?" Dokter Rizal mengulang pertanyaan yang sama seraya berjalan menghampiri kami. Saat ini dia datang ditemani oleh seorang dokter muda yang merupakan asistennya.


"Me-men-coba apa ya, Dok?" tanyaku kebingungan. Aku belum mengerti arah pembicaraan dokter berusia 50-an tersebut.


"Mencoba untuk menjadi tuan putri untuk pangeran tidur," jawabnya sembari tersenyum, lalu berjalan mendekat untuk mulai memeriksa kondisi kak Rey.


Mendengar ucapan dokter Rizal, seketika aku menjadi malu. Rupanya saat aku mengajak kak Rey berbicara tadi, dokter Rizal mendengarnya.


"Saya sarankan, sebaiknya kamu mencoba untuk menjadi tuan putri untuk pangeran tidur. Siapa tahu dengan cara seperti itu, ada keajaiban yang membuat kamu berhasil membangunkannya," ucap dokter Rizal setelah selesai memeriksa kondisi kak Rey.


Aku tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya menunduk malu lalu menanyakan kondisi terkini kak Rey.


"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa ada kemajuan?"


"Tidak ada perubahan, masih sama seperti kemarin-kemarin," jawab dokter Rizal.


"Saya sarankan, sebaiknya kamu melakukan sesuatu yang lain agar dia bisa segera terbangun. Bukan hanya dengan mengajaknya berbicara seperti yang sering kamu lakukan setiap hari, meski pun sebenarnya mengajak dia berbicara juga sangatlah penting. Tapi kamu juga bisa melakukan cara seperti tadi, cara yang dilakukan oleh seorang tuan putri untuk membangunkan pangeran tidurnya."

__ADS_1


__ADS_2