Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 18


__ADS_3

"Memangnya tadi kamu tidak dengar Mas bilang apa? Mas bilang, Mas buru-buru," ucapnya lagi masih dengan nada yang ketus.


Mendengar mas Darren masih berbicara dengan nada tinggi, mataku langsung berkaca-kaca.


"Mas Darren kenapa sih, kok Kei diketusin sama dibentak-bentak? Emang Kei salah apa?" tanyaku.


Aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Aku pun langsung keluar dari dalam mobil mas Darren dan berlari masuk ke dalam toko. Aku mendengar suara mas Darren berteriak memanggilku tapi aku memilih untuk tidak mempedulikannya. Aku sudah terlanjur kecewa dengan sikap mas Darren. Bisa-bisanya dia membentakku. Padahal, aku tidak berbuat salah apa-apa padanya.


Saat aku berlari menaiki tangga, aku masih mendengar suara teriakan mas Darren memanggilku. Itu artinya, mas Darren keluar dari mobilnya dan menyusulku masuk. Mungkin dia merasa bersalah karena sudah membuatku menangis.


Aku masuk ke dalam kamarku dan menguncinya dari dalam. Kalau mas Darren mengejarku hanya karena dia ingin meminta maaf, aku tidak mau. Aku tidak mau langsung memaafkannya begitu saja. Biarkan saja dia merasa bersalah untuk beberapa waktu. Sekali-kali dia harus diberi pelajaran. Siapa suruh memperlakukan aku seperti itu.


Tok! Tok! Tok!


"Dek! Buka pintunya Dek! Mas mau minta maaf!" Terdengar suara ketukan pintu bergantian dengan suara teriakan mas Darren.


Nah, tuh 'kan. Aku bilang juga apa. Mas Darren mengejarku pasti karena sekarang dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf padaku.


Meski pun sekarang aku sudah berhenti menangis, tapi aku tetap tidak ingin membuka pintu kamarku untuknya. Biarlah mas Darren merasa bersalah, agar dia tidak berani lagi memperlakukan aku seperti itu di kemudian hari.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Dek! Mas minta maaf! Tolong buka pintunya!"


Daripada mendengar suara gedoran pintu bergantian dengan suara teriakan mas Darren, lebih baik aku masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi sore. Rasanya tubuhku terasa sangat lengket oleh keringat sehabis jalan seharian dengan kak Rey.


Berbicara tentang kak Rey, seketika aku jadi teringat dengan ciumannya tadi yang sangat tiba-tiba di dalam mobil. Aku jadi berpikir, jika ke depannya kak Rey seperti itu, itu artinya, aku harus lebih waspada. Bisa saja dia kembali mengulangi hal yang sama. Pokoknya aku harus melakukan ekstra penjagaan terhadap bibirku.


Jika tadi kak Rey hanya menempelkan bibirnya saja pada bibirku, bisa saja ke depannya dia melakukan hal yang lebih. Dan aku sama sekali belum siap dengan hal yang lebih itu. Karena aku, belum mencintainya.


...****************...


Tidak ku sangka aku ketiduran saat berendam air hangat di dalam bathup. Ditambah lagi dengan lilin aroma terapi yang sempat aku nyalakan tadi sebelum berendam. Hal itu pastinya membuatku semakin rileks hingga gampang tertidur.


Setelah membilas tubuhku hingga bersih di bawah guyuran air shower, aku kemudian mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer. Setelah itu aku pun segera keluar dari kamar mandi dan tentunya sudah lengkap dengan setelan pakaian tidurku. Di lantai bawah, toko sudah tutup di jam seperti ini. Jadi aku tidak perlu lagi turun ke sana.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku sudah tidak mendengar suara teriakan mas Darren lagi. Mungkin dia sudah pergi karena tadi katanya dia sangat terburu-buru. Dan gara-gara itu juga, mas Darren sampai berbicara ketus dan membentakku. Mungkin menurutnya aku sudah menghalanginya, makanya dia sampai marah-marah tidak jelas seperti itu.


Aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas tempat tidur. Begitu aku cek, sudah banyak panggilan tidak terjawab dari mas Darren, serta pesan yang berisi permintaan maafya padaku.

__ADS_1


"Ck, dasar kakak tiri nyebelin. Emang enak cari gara-gara sama aku," ucapku sambil senyam-senyum sendiri. Entah kenapa sikap mas Darren membuatku gemas sendiri.


.


.


Tidak terasa aku sudah menghabiskan waktu selama hampir 2 jam di dalam kamar. Sekarang sudah pukul 7 malam dan aku mulai merasa lapar.


Aku ingin keluar dari kamar untuk memasak makan malam. Aku malas delivery karena malas juga untuk turun mengambilnya di lantai bawah. Namun, saat aku baru membuka pintu kamarku, tiba-tiba aroma yang menggugah selera menusuk indra penciumanku. Um ... aromanya sangat enak, membuat perutku semakin lapar saja.


"Dek." Tiba-tiba mas Darren sudah berdiri di hadapanku, dengan penampilan yang membuatku ingin tertawa tapi coba aku tahan. Aku ingin berpura-pura marah untuk memberikan pelajaran padanya. Siapa suruh sudah berani berbicara dengan nada tinggi padaku.


Bersambung ...


.


.


Guys, yang sempat baca Chapter 17 tadi malam, mohon like ulang ya.. soalnya tadi tidak sengaja kehapus,, jadi Author up lagi bersama Chapter 18 ini. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2