
"Tentu saja karena Kak Rey sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Kamu pasti nggak tahu 'kan kalau Kak Rey sebenarnya bekerja sama dengan Mawar? Maka dari itu, orang suruhan Kak Rey bisa dengan mudah masuk untuk memasang kamera tersembunyi di beberapa titik di dalam tokomu." Sejenak Laras menjeda ucapannya sebelum kembali menjelaskan.
"Lalu di dalam mobil kak Rey juga terpasang kamera tersembunyi, makanya kami semua bisa tahu kalau disepanjang perjalanan kamu hanya tertidur. Dan begitu kamu bangun, kamu bilang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Kak Rey, sampai-sampai kamu menyuruh Kak Rey untuk menepikan mobil karena kamu takut dia menabrak. Dari situ kami semua sudah mulai curiga, sedangkan Kak Rey, dia malah tertawa tanpa merasakan firasat buruk apa pun, bla ... bla ... bla ... bla ...."
Laras terus saja menyerocos menceritakan semua yang dia saksikan padaku. Dimulai saat kak Rey menjemputku di toko sampai aku kabur begitu saja setelah menolak lamaran dan memutuskan hubungan dengan kakak sepupunya itu secara sepihak.
Laras terlihat sangat kesal dan jengkel padaku. Katanya, seandainya aku ini bukan sahabatnya yang sudah dia anggap seperti saudara perempuannya sendiri, mungkin aku sudah dia buat jadi abon.
"Kamu itu yah, kalau lagi marah cerewet kamu kumat. Terus sadis juga, emang ada abon manusia?" ucapku pada Laras, mencoba untuk mencairkan suasana diantara kami berdua.
"Ada. Aku nanti yang pertama kali bikin," jawabnya dengan ketus. Dasar Laras. Kalau baik, ya orangnya baik banget. Tapi kalau sudah marah, ya begitu. Ketus.
Aku bisa mengerti perasaan Laras. Dia marah karena ada yang membuat kakak sepupu yang sangat dia sayangi dan sudah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri disakiti oleh wanita lain. Apalagi sampai mengalami sebuah kecelakaan yang membuatnya tidak sadarkan diri hingga detik ini.
Aku sama sekali tidak marah dan tersinggung karena Laras menyalahkan aku. Bagaimana bisa aku marah, aku pun bahkan menyalahkan diriku sendiri atas kejadian nahas yang menimpa kak Rey.
Yang patut aku syukuri adalah, karena Laras beserta anggota keluarganya tidak membenciku atas kejadian yang menimpa kak Rey. Padahal, mereka semua tahu dan menyaksikan bagaimana aku menghancurkan dan menyakiti hati Rey mereka.
__ADS_1
Bahkan di dalam keluarga mereka, satu-satunya orang yang menyalahkan aku atas kejadian yang menimpa kak Rey hanya Laras seorang, yang lain tidak ada lagi.
Jika aku ada di posisi Laras, aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika seandainya aku memiliki seorang kakak laki-laki dan disakiti oleh wanita lain.
Tapi lain halnya dengan mas Darren yang saat ini menjadi kakak tiriku. Ketika mas Darren disakiti oleh Felicya, wanita yang dulunya sangat dicintai oleh mas Darren. Aku justru malah merasa sangat senang dan bersyukur, karena dengan begitu, aku dan mas Darren akhirnya bisa memiliki kesempatan untuk bersama seperti sekarang ini. Meski pun hingga detik ini hubungan kami masih kami rahasiakan dan tidak diketahui oleh siapa pun.
"Kamu itu cewek paling menyebalkan yang pernah aku kenal tau nggak. Pengen aku remhes-remhes kalau bisa." Laras terlihat sangat gemas melihatku. Wajahnya terlihat menahan kekesalan.
Bahkan tadi sempat aku lihat air mata Laras terjatuh saat menceritakan bagaimana putus asanya kak Rey saat dia berusaha untuk menemui dan menghubungiku tapi tidak bisa.
"Memangnya Kak Rey kurang apa sampe-sampe kamu nolak dia. Kak Rey itu orangnya baik, setia, tampan, mapan, tinggi, macho, cool. Jadi kurang apa lagi coba sampe kamu nolak dia. Kamu itu buta, ogeb, atau apa sih? Kamu bahkan mengatakan kalau kamu nggak mencintai Kak Rey. Apa kamu tahu, pernyataan kamu itu membuat hati Kak Rey sangat hancur? Kamu tahu nggak? Hiks."
Yang Laras katakan tadi memang tidak ada salahnya. Semuanya benar. Akan tetapi, sesempurna apa pun sosok kak Rey, setampan dan semapan apa pun dia, cinta tetap tidak bisa dipaksakan hanya dengan memandang fisik dan banyaknya jumlah kekayaan yang kak Rey miliki.
Yang salah itu karena aku tidak memiliki perasaan cinta apa pun untuknya. Penyebab utamanya adalah karena hatiku sudah terlanjur tersangkut pada mas Darren. Ibarat selembar kain, bisa sobek jika harus ditarik secara paksa.
.
__ADS_1
.
Puas mengomel mengungkapkan segala uneg-uneg yang ada di dalam hatinya tanpa mendapatkan respon apa pun dariku, Laras pun akhirnya tertidur.
Seperti itulah Laras, setelah meluapkan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya, dia akan tertidur dengan pulas. Keesokan paginya, dia akan pura-pura amnesia.
Meski pun tadi aku tidak menanggapi ocehan Laras, akan tetapi semuanya terekam baik di dalam memori otakku. Aku semakin merasa bersalah dan semakin tidak enak pada keluarga besar kak Rey setelah mengetahui semuanya. Dan setelah mendengar semua cerita Laras, aku semakin menyalahkan diriku sendiri.
Aku duduk di samping kak Rey, menatap sosok yang tidak berdaya itu dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada yang bisa aku katakan selain hanya satu, yaitu kata maaf.
Maaf karena aku sudah menyakitinya. Maaf karena aku, dia jadi seperti sekarang ini. Maaf karena keegoisanku, dia harus menjadi korban. Serta beribu-ribu kata maaf lagi yang ingin aku ucapkan dan sampaikan padanya dan keluarganya.
Aku tahu, maaf saja tidak cukup. Harus ada pembuktian untuk menebus segala dosa-dosaku.
Aku ini perempuan jahat. Aku nggak pantas bahagia, apalagi bersama pria lain. Sementara kamu, masih terbaring lemah dan tak berdaya di sini. Entah mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini, hm? Apa kamu nggak bosan tidur terus? Ayo bangun, aku ingin mengucapkan beribu-ribu maaf padamu. Semoga nanti setelah kamu terbangun, kamu masih memberikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan aku. Batinku sambil menggenggam tangan kak Rey dan menempelkannya pada pipiku.
Untuk yang kesekian kalinya tangan kak Rey kembali bergerak setelah dibasahi oleh air mataku.
__ADS_1
"Tangan kamu gerak lagi. Kamu mau hapus air mataku, hm? Kamu nggak mau aku nangis? Kamu nggak mau aku sedih? Kalau kamu nggak mau aku sedih sampe nangis-nangis kayak gini, makanya kamu harus bangun. Jangan buat orang-orang terdekat kamu ketakutan dan khawatir. Juga aku, kamu jangan buat aku semakin merasa bersalah ngeliat kondisi kamu yang kayak gini. Ayo bangun." Aku terus mengajak kak Rey berbicara dengan suara lirih, hingga tidak terasa aku tertidur sambil menyandarkan kepalaku di sampingnya.