
2 Minggu kemudian.
Aku dan kak Rey menjalani keseharian kami seperti biasa, bahkan sekarang hubungan kami semakin mesra dan harmonis. Sepertinya berpura-pura tidak tahu sangat ampuh untuk tetap menjaga keharmonisan rumah tangga kami.
Setelah kedatangan mas Darren ke apartemen kami waktu itu, kak Rey sama sekali tidak pernah membahasnya. Aku juga tidak bertanya apa pun, seolah-olah tidak tahu apa-apa sama sekali.
Oh iya, saat ini aku dan kak Rey baru saja selesai fitting baju pengantin. Rencananya 2 minggu lagi resepsi pernikahan kami akan segera digelar. Sedangkan untuk rencana bulan madu, kami masih belum memutuskan akan pergi ke negara mana setelah resepsi pernikahan kami selesai. Pokoknya hanya antara Turki, Paris, atau pun Swedia. Tidak banyak pilihan, hanya 3 negara itu saja yang sangat ingin aku kunjungi.
"Sayang, sebelum kita kembali ke apartemen, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?" Kak Rey berkata seraya mulai menyalakan mesin mobilnya.
Saat ini mobil kami masih berada di parkiran butik dan kak Rey yang menyetir. Sepertinya dia tidak mengalami trauma setelah mengalami kecelakaan parah.
"Jalan-jalan ke mana?" tanyaku.
"Terserah kamu," jawabnya sembari tersenyum.
"Mm ... bagaimana kalau kita ke toko? Aku sudah lama nggak ke sana," usulku. Tiba-tiba aku merindukan dapur tokoku. Aku rindu ingin membuat kue di sana.
"Mm ... boleh," ucapnya seraya melajukan mobil.
Beberapa saat kemudian setelah kak Rey melajukan mobilnya. Tiba-tiba saja aku terpikir akan sesuatu.
"Kamu kok tau sih jalan menuju toko? Bukannya aku nggak pernah bilang sama kamu kalau kita harus lewat jalan ini, jalan ini," tanyaku seraya membelak-belokkan tanganku ke kiri dan ke kanan.
Iya, aku memang sudah tahu kalau kak Rey hanya pura-pura amnesia. Tapi aku merasa senang saja menggodanya. Kira-kira nanti dia akan menjawab apa ya? Harusnya tadi untuk mendalami akting amnesianya, dia menanyakan dulu di mana letak alamat toko berada.
"Ah, mm ... itu ... itu ... aku hanya ... aku hanya mengikuti feeling-ku saja. Iya, begitu Sayang," jawabnya sedikit gelagapan, dan itu membuat aku merasa senang. Entah mengapa rasanya sangat lucu melihatnya salah tingkah seperti itu.
"Oh, ya? Feeling? Apa jangan-jangan, kamu sudah ingat sesuatu?" tanyaku seraya tersenyum dan menatapnya.
__ADS_1
Mungkin kak Rey berpikir saat ini aku terlihat sangat senang karena mengira kalau dia sudah mengingat sesuatu tentang aku, padahal, aku hanya merasa sangat senang melihat ekspresinya yang lucu.
"Ah? Mm ... bisa ya ... bisa juga tidak," jawabnya setelah terlihat berpikir sejenak.
Aku tertawa dalam hati. Suamiku lucu sekali. Rasanya ingin aku peluk dan aku cubit pipinya saking gemasnya aku melihatnya. Tapi sayangnya tidak bisa, takut dia curiga.
.
.
Sekitar 15 menit kemudian.
Kami akhirnya sampai di toko. Hal yang pertama kali aku lakukan saat memasuki dapurku adalah, mencari bahan kue di dalam lemari dapur.
"Sayang, sepertinya kamu harus mempekerjakan beberapa orang di sini agar tokomu bisa tetap buka," kata kak Rey. Saat ini dia sedang duduk di kursi menyaksikan aku mengacak-acak isi lemari dapur.
Kak Rey bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiriku. Setelah itu dia memelukku dari belakang.
"Sayang, bukannya aku tidak mengijinkan kamu untuk turun tangan sendiri mengelola tokomu ini. Hanya saja, aku lebih suka kamu menjadi ibu rumah tangga daripada harus bekerja. Kamu bisa mengurus dan merawat aku, serta merawat dan membesarkan anak-anak kita kelak. Bukannya itu sangat menyenangkan? Hm."
"Mm ... menyenangkan sih kalau kamu selalu ada waktu buat aku. Tapi kalau kamu selalu sibuk di kantor, aku nggak mau. Karena bisa-bisa, aku stres kalau lama-lama di rumah terus, cuma ngurusin kamu dan anak-anak."
"Siapa bilang kamu di rumah terus. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut aku ke kantor. Kita juga bisa bawa anak-anak ke sana."
Aku tiba-tiba saja tertawa, merasa lucu dengan pembahasan kami saat ini. "Ini kok kita udah bahas anak-anak aja, padahal, hamil aja belum."
"Ya tidak apa-apa, Sayang. Itu namanya merencanakan masa depan," ucapnya, lalu melepas pelukannya, kemudian memutar badanku agar menghadap ke arahnya. "Kamu tadi bilang hamil saja belum. Bagaimana kalau ... siang ini kita usaha lagi."
"Ih, dasar genit. " Aku langsung mencubit pinggang kak Rey. "Memangnya kamu nggak bosan apa? Setiap ada kesempatan selalu aja ngajak gituan."
__ADS_1
Kak Rey terkekeh. "Kenapa aku harus bosan? Aku tidak punya alasan untuk bosan pada istriku. Bagiku, sekarang, besok, dan selamanya, hanya kamu satu-satunya wanita di dalam hidupku," ucapnya, sambil menangkup kedua pipiku dan menatap kedua manik mataku dengan lekat.
Aku bisa melihat dengan jelas bahwa kak Rey begitu tulus mencintai dan menyayangiku. Sampai-sampai aku dibuat terharu dan langsung memeluknya dengan erat.
Sebelum balas memelukku, kak Rey mencium puncak kepala dan keningku dengan lembut, lalu balas memelukku dengan sayang.
"Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan, cinta, dan kasih sayang." Aku berkata sambil memeluknya dengan erat.
"Itu semua adalah kewajibanku sebagai suamimu, Sayang. Jadi tidak usah berterima kasih. Tapi kamu juga harus tahu apa kewajibanmu," ucapnya, sontak membuat aku melonggarkan pelukan dan mendongak menatapnya. Perasaan, selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan menunaikan segala kewajibanku.
"Kewajibanku? Tentu aja aku tau apa kewajibanku. Bukannya selama menjadi istrimu aku sudah menjalankannya dengan baik. Apa menurutmu masih ada yang kurang?" tanyaku.
Kak Rey tersenyum. "Mm ... untuk hari ini masih kurang kalau kamu ... tidak mengajakku naik ke kamar sekarang juga."
Mendengar jawabannya, aku langsung memukul dadanya dengan pelan. Entah mengapa semakin hari otak suamiku semakin me**m saja.
"Ih, dasar omes. Nggak ada ya main akrobat di atas kas*r jam segini. Aku sudah panggil Mawar buat datang ke sini, sebentar lagi dia juga nyampe. Malu 'kan kalau sampai ketahuan Mawar kalau kita gituan siang terik begini," ucapku seraya memutar badan membelakangi kak Rey, karena kalau kami terus-terusan melakukan kont*k fisik, dia pasti akan kesulitan mengendalikan diri.
"Yah. Untuk apa kamu memanggil orang lain untuk datang ke sini Sayang? Mengganggu saja."
"Loh, tadi kamu sendiri yang bilang kalau aku harus mencari karyawan buat ngelola toko ini. Gimana sih?"
"Ya, tapi 'kan bukan sekarang juga Sayangku ..." ucapnya.
B e r s a m b u n g ...
...________________________________...
Note : Guys, untuk hari ini satu bab dulu ya. Author sedang tidak enak badan. Maaf kalau bab ini terasa hambar.
__ADS_1