Affair With My Step Brother

Affair With My Step Brother
Chapter 56


__ADS_3

"Ti-tidak Sayang. Aku masih belum mengingat apa pun. Tapi ... tapi feeling aku mengatakan, kalau kamu itu wanita satu-satunya yang aku cintai sejak lama. Kamu harus percaya  padaku, ya?" Kak Rey berkata seraya menggenggam tanganku dengan semakin erat, seolah dia tidak rela melepasnya.


Aku bisa melihat kesungguhan di kedua manik matanya. Benar-benar mengingatkan aku pada kak Rey yang dulu. Sebenarnya aku masih ingin berdebat dengannya. Aku masih ingin menanyakan banyak hal. Kenapa dia membiarkan perempuan lain masuk ke dalam unit ini saat aku sedang tidak ada di tempat. Kalau katanya mereka tidak ada hubungan apa-apa, lalu kenapa dia membiarkan wanita itu tetap berada di sini sepanjang aku berbelanja? Kenapa tidak mengusirnya sebelum aku kembali? Dan kenapa baru sekarang dia memanggil aku 'Sayang'? Kenapa bukan diawal-awal kami menikah?


Tapi melihat wajahnya yang memelas memohon padaku, aku jadi tidak tega. Lebih baik aku segera menyudahi perdebatan ini dan mulai memasak, karena rasanya perutku sudah lapar.


Jika aku terus bersikeras dan ngotot ingin memperpanjang masalah ini, maka sampai 7 hari 7 malam pun, perdebatan ini tidak akan pernah selesai. Berdebat tidak membuat perut kenyang, dan juga tidak memberikan keuntungan, maka dari itu harus disudahi secepatnya.


Intinya, perempuan bernama Sora tadi hanya mengaku-ngakui suamiku sebagai pacarnya. Dia dan suamiku tidak memiliki hubungan apa pun, apalagi sampai memiliki affair tanpa aku ketahui. Tidak seperti yang aku lakukan pada kak Rey sebelum dia mengalami kecelakaan.


Ah, mengingat perselingkuhanku dengan mas Darren membuat aku jadi merasa tidak pantas untuk marah. Aku juga pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal, dan jika seandainya suamiku juga melakukan hal yang sama, mungkin aku seharusnya memaafkannya jika dia memang sangat menyesali perbuatannya, sama seperti aku yang menyesali segala perbuatanku waktu itu.


"Ya sudah. Masalahnya aku anggap sudah selesai. Jadi jangan lagi coba-coba untuk mengulangi kesalahan yang sama. Saat aku pergi, jangan pernah membiarkan perempuan lain masuk ke sini, kecuali mama, ibu, Laras, dan juga tante Dona. Mengerti?" tanyaku padanya.


Kak Rey tersenyum senang. Aku yakin, dia pasti merasa sangat lega karena aku tidak jadi memperpanjang masalah ini. "Iya Sayang, aku mengerti. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


"Kalau begitu, tolong lepaskan tanganku. Aku mau memasak. Aku lapar."


Begitu kak Rey melepaskan tanganku, aku pun mengambil bahan makanan di dalam kulkas, seperti daging ayam fillet dan sayuran untuk dimasak.


Saat aku tengah memotong sayuran, tiba-tiba saja kak Rey memelukku dari belakang. Membuatku terkejut saja. Awalnya aku hanya diam dan membiarkannya, tapi saat aku mulai bergerak hendak mengambil bahan bumbu, dia tidak melepaskan tangannya dan masih tetap melingkarkannya di perutku. Bahkan ke mana pun aku melangkah, dia juga ikut. Jika sudah seperti ini, aku mulai merasa aktifitasku di dapur terganggu olehnya.


"Tolong lepasin tangan kamu, kamu ganggu aku masak."

__ADS_1


"Tidak mau," jawabnya sembari menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.


Huft. Aku hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepalaku. Kenapa dia bersikap seperti anak kecil sih? Padahal, selama setengah bulan kami berada di mansion, dia tidak pernah bersikap manja seperti ini biar sekali pun.


.


1 Setengah jam kemudian.


Kami sudah selesai makan siang sekitar setengah jam yang lalu, dan sekarang, aku ingin masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Seperti biasa saat aku dan kak Rey masih tinggal di mansion, aku ingin tidur siang.


Setelah aku berbaring di atas tempat tidur, barulah aku mendengar langkah kaki kak Rey menyusulku. Aku merasakan kasur mulai bergetar, itu artinya, dia juga sudah ikut naik ke atas tempat tidur. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia langsung memelukku dari belakang.


...****************...


Tidak terasa sudah 1 bulan lebih kami menikah. Kondisi kak Rey bisa dikatakan sudah pulih seperti sedia kala. Badannya juga tidak lagi kurus seperti saat baru keluar dari rumah sakit, sudah mirip seperti kak Rey yang dulu. Hanya saja berat badannya masih perlu untuk dinaikkan sedikit. Sepertinya kondisinya lebih cepat pulih dari yang perkiraan oleh dokter. Tinggal ingatan tentang aku saja yang belum kembali.


"Sayang cepatlah! Kenapa sekarang jadi kamu yang payah sih?!" Kak Rey berteriak sambil tertawa. Dia menertawaiku saat melihatku berhenti berlari di tengah jalan.


Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Pasalnya, ini sudah putaran kelima kami berlari mengelilingi taman. Tapi kak Rey, sepertinya tubuhnya sudah benar-benar bugar. Dia sudah tidak mudah lelah lagi seperti saat minggu pertama dan kedua dia keluar dari rumah sakit.


"Hosh, hosh. Ka-mu aja yang lan-jutin! Aku su-dah capek!" Dengan napas ngos-ngosan, aku balas berteriak padanya.


Aku lalu mengambil tempat duduk di kursi taman terdekat, sambil menyaksikan suamiku yang kembali melanjutkan larinya. Aku merasa sangat senang melihatnya sangat bersemangat untuk kembali sehat.

__ADS_1


Setelah berlari 3 putaran lagi, barulah kak Rey duduk di hadapanku. Dia duduk sambil selonjoran di atas rumput taman.


"Sepertinya akhir-akhir ini kondisi kamu mengalami peningkatan yang sangat signifikan," ucapku padanya.


"Harus itu, Sayang. Karena masih banyak hal lain yang harus aku kerjakan. Jadi tidak ada alasan untuk aku tidak bersemangat," katanya sembari tersenyum dan menatapku.


"Jadi nanti kalau kamu sudah kembali bekerja di kantor, berarti aku ditinggal sendirian dong di apartemen," ucapku. Sepertinya sekarang kondisinya terbalik, sekarang aku yang tidak bisa jauh-jauh darinya.


"Siapa bilang kalau aku bersemangat untuk sembuh karena ingin kembali bekerja di kantor? Perasaan, aku tidak pernah berkata seperti itu." Kak Rey berkata seraya beranjak naik dan duduk di kursi taman tempat aku duduk.


"Tapi tadi kamu bilang masih banyak hal lain yang harus kamu kerjakan, 'kan? Apalagi yang ingin kamu kerjakan kalau bukan pekerjaan kantor yang sudah kamu tinggal selama 3 bulan lebih?" tanyaku.


Sebelum menjawab, kak Rey senyam-senyum sendiri sambil terus menatapku dengan lekat.


"Sayang, ayo kita pulang. Hal lain itu nanti akan aku beritahu setelah kita sampai di rumah." Kak Rey berkata sembari terus-terusan tersenyum. Dia berdiri dari duduknya lalu menarik pergelangan tanganku agar aku ikut berdiri bersamanya.


"Apa sih?" tanyaku seraya menatapnya dengan tatapan penuh keheranan sekaligus kecurigaan.


"Ayolah Sayang ... kita pulang, ya?" ajaknya.


"Kamu kenapa sih senyam-senyum terus dari tadi?" tanyaku. Gelagat kak Rey benar-benar sangat mencurigakan. Aku tidak bisa tidak curiga kalau dia terus-terusan seperti ini.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...____________________________...


Note : Guys ... Author liat ada beberapa notif teman yang ingin masuk di grup chat, akan tetapi verifikasi-nya Author tahan dulu, dikarenakan yang bersangkutan tidak memenuhi syarat wajib. Sekali lagi Author ingatkan ya, yang ingin bergabung di grup chat, wajib mem-follow Author terlebih dahulu. Berarti yang belum follow belum boleh gabung ya. TQ.


__ADS_2