
Mendengar pertanyaan kak Rey, air mataku tidak bisa lagi aku bendung, mengucur dengan deras begitu saja.
Aku sadar, selama ini aku sudah menyakiti hati kak Rey terlalu dalam, bahkan setelahnya dia sampai mengalami kecelakaan yang sangat parah. Mungkin itulah sebabnya sehingga dia bisa melupakan aku.
Kenangan yang aku torehkan terlalu menyakiti hati dan perasaannya, sehingga alam bawah sadarnya lebih memilih untuk melepaskan segala ingatan tentang aku dan semua hal yang berkaitan dengan rasa cintanya padaku. Hal itu merupakan bentuk pertahanan diri dari alam bawah sadarnya.
Aku juga kurang tahu itu jenis amnesia apa. Yang jelas, memang ada yang seperti itu, tapi sangat jarang terjadi. Aku pernah menontonnya di film-film.
"Rey, apa kamu benar-benar lupa siapa dia?" Tante Rena bertanya pada putranya. "Dia Keisha Rey, dia calon istrimu, Nak," jelas tante Rena kemudian.
"Calon istri?" Kak Rey nampak sangat kebingungan. Dia kembali menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya secara bergantian, seolah meminta jawaban atas kebingungannya.
"Iya. Beberapa hari sebelum kamu kecelakaan, kamu sempat melamar Keisha." Tante Rena kembali menjawab, seolah ingin menghilangkan segala kebingungan yang saat ini putranya alami dan rasakan.
Kak Rey menggelengkan kepalanya. Dia malah terlihat semakin kebingungan mendengar penjelasan tante Rena. "Rey sama sekali tidak mengingatnya, Ma."
"Pa, apa itu benar, Pa?" Kak Rey beralih bertanya pada om Reza, dan dijawab anggukan oleh pria paruh baya tersebut.
"Tapi ... kalau dia memang benar calon istrinya Rey, kenapa Rey sama sekali tidak bisa mengingat siapa dia?" Kak Rey kembali berucap.
Suasana hening seketika. Orang-orang juga terlihat sama bingungnya dengan kak Rey. Sedangkan aku, yang bisa aku lakukan hanya menangis. Rupanya aku sudah sangat menyakiti hati kak Rey. Terbukti, alam bawah sadarnya bahkan lebih memilih untuk menghapus segala ingatannya tentangku.
__ADS_1
Laras berjalan menghampiriku, menuntunku untuk duduk di sofa. Sementara kak Andra, dia yang menggantikan aku untuk pergi memanggil dokter untuk memeriksa kondisi kak Rey.
"Udah, nggak usah nangis. Saat ini kak Rey mungkin lupa siapa kamu, tapi nanti perlahan-lahan, dia akan kembali mengingat bahwa kamu adalah wanita yang sangat dia cintai selama ini." Laras sahabat terbaikku mencoba untuk menghibur dan menenangkanku.
"Ta-pi kalau nanti Kak Rey lu-pa terus sama aku gi-mana?" tanyaku sembari masih terisak. Suaraku sampai terputus-putus.
"Ya nggak apa-apa. Kalian bisa memulainya dari awal lagi," jawab Laras. "Sudah, jangan nangis terus. Muka kamu jelek tau kalau kamu nangis terus kayak gitu. Mungkin gara-gara itu juga kak Rey jadi nggak ngenalin kamu lagi," canda Laras lalu kemudian dia terkekeh.
"Ish, ka-mu ini. Orang la-gi sedih malah di-bercan-dai," protesku, lalu akhirnya tersenyum juga.
"Nah, gitu dong," ucap Laras. Berkat dia, aku akhirnya bisa menerima kenyataan sedikit demi sedikit. Laras memang sahabatku yang terbaik, meski pun terkadang dia juga sangat menyebalkan.
Tidak lama kemudian, kak Andra datang bersama dengan dokter Rizal dan seorang perawat.
"Kak, tolong jangan ceritakan masalah tadi kepada siapa pun, ya? Aku mohon," pintaku pada kakak kandung Laras tersebut.
"Kenapa? Bukannya kakak tiri kamu tadi sudah sangat keterlaluan."
"Iya Kak, aku tahu. Biarlah kejadian tadi pagi menjadi rahasia kita berdua. Aku cuma nggak mau orang tua kami kecewa pada mas Darren."
"Ya sudah, terserah kamu. Lagipula, aku juga tidak tahu menahu mengenai masalah apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian berdua. Aku juga tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan atau pun masalah orang lain," ujar kak Andra.
__ADS_1
Aku tersenyum lega. Rupanya kak Andra sangat mudah untuk diajak bekerja sama. "Terima kasih banyak, Kak."
Setelah membuat kesepakatan dengan kak Andra, aku pun kembali menghampiri kak Rey bersama yang lainnya. Aku ingin mendengar seperti apa hasil pemeriksaan dokter.
Setelah diperiksa oleh dokter Rizal dan dokter tersebut mendengar penjelasan dari tante Rena bahwa setelah kak Rey siuman, dia jadi lupa siapa aku. Dokter Rizal pun kemudian menjelaskan bahwa kak Rey mengalami amnesia, persis seperti dugaanku tadi.
...**************...
Malam sudah tiba, sepanjang hari aku terus berada di dekat kak Rey. Aku tidak mau pergi meninggalkannya meski pun dia terlihat risih dengan keberadaanku. Tapi aku tidak ingin menyerah, aku ingin kak Rey secara perlahan-lahan kembali mengingat siapa aku sebenarnya.
"Apa kamu benar-benar calon istriku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingat tentang kamu sedikit pun? Dan anehnya, kenapa hanya kamu yang tidak aku ingat sama sekali. Apa sebelumnya di antara kita berdua pernah terjadi sesuatu? Kejadian menyakitkan atau menyedihkan misalnya," tanyanya padaku. Saat ini aku sedang menyuapinya makan.
Deg.
Pertanyaan kak Rey membuat jantungku berdetak cepat. Aku tidak tahu harus menjawab apa pertanyaannya itu. Tidak mungkin 'kan aku menceritakan kejadian sebenarnya, bahwa sebenarnya aku menolak lamaran kak Rey saat dia melamarku waktu itu sehingga mengakibatkan dia menjadi sangat terpuruk dan akhirnya mengalami kecelakaan.
Aku berusaha tersenyum meski pun sebenarnya hatiku sangat sakit. Bukan sakit karena perkataan kak Rey, tapi sakit karena mengingat perbuatanku yang teramat menyakitkan baginya. Sehingga dia sampai mengalami amnesia dan hanya melupakan aku seorang.
"Aku juga nggak tau kenapa kamu bisa lupa sama aku. Yang jelas, kita dulu sama-sama saling mencintai, sampai akhirnya kita berdua memutuskan untuk segera menikah dalam waktu dekat."
Bohong! Itu kebohongan terbesar yang pernah aku ucapkan. Aku berkata kami berdua saling mencintai, padahal kenyataannya, aku menolak dan memutuskan hubungan dengannya karena aku tidak mencintainya dan malah mencintai pria lain.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu tidak sedang membohongiku, 'kan?" tanyanya padaku.
B e r s a m b u n g ...