
"Rey bangun ... ayo bangun .... Jangan tinggalin aku ... huhuhu ... jangan tinggalin aku Rey, ayo bangun ...."
Aku menangis dengan keras sambil memeluk tubuh kak Rey, dan sesekali aku juga menguncang tubuhnya.
"Kamu bilang sama aku, kalau kamu bakalan bangun kalau aku mau janji sama kamu. Oke, sekarang kamu dengar baik-baik, aku janji sama kamu, aku bakalan nikah sama kamu, menjalani hari-hariku bersama kamu dan menua bersama kamu. Tapi sekarang kamu harus bangun dulu, biar kita berdua bisa wujudin itu semua. Kamu jangan pergi Rey, aku sayang sama kamu ...."
"Kamu harus tepatin janji kamu sama aku, kalau kamu bakalan bangun kalau aku mau berjanji sama kamu. Aku sudah janji Rey, aku sudah janji ... sekarang ayo bangun Rey. Bangun ...." Aku terus mengguncang tubuh kak Rey, berharap dia akan segera terbangun dari tidur panjangnya. Aku tidak akan pernah sanggup jika dia harus pergi meninggalkan aku selamanya, meninggalkan kami semua selama-lamanya. Aku baru menyadari betapa berartinya dia di hidupku setelah aku merasa kehilangan dia.
"Rey ... ba-ngun ... huhuhu." Kali ini aku berkata dengan lirih, sambil memukul pelan dada kak Rey.
Kehilangan sosok kak Rey membuatku bak kehilangan separuh nyawaku. Tubuhku bahkan terasa tidak bertenaga lagi, yang bisa aku lakukan hanya menangis dengan penuh penyesalan sambil membaringkan kepalaku di atas dadanya.
Aku benar-benar sangat menyesal. Kenapa aku baru mau berjanji padanya setelah dia tiada. Harusnya janji itu sudah aku ucapkan jauh-jauh hari saat dia baru pertama kali mendatangiku dalam mimpi. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?
Aku terus menangis tersedu-sedu, menyesali semuanya dan terus merutuki kebodohan diriku sendiri. Sampai-sampai baju kak Rey basah karena air mataku. Rasanya aku tidak mau melepaskan pelukanku darinya. Aku benar-benar tidak percaya dia sudah pergi. Aku sungguh tidak rela kehilangannya.
Andai saja tadi aku tidak pergi menemui mas Darren, andai saja aku sudah berjanji padanya jauh-jauh hari, dia pasti tidak akan seperti ini. Dia pasti masih hidup jika seandainya aku tidak pergi meninggalkannya.
"Maafin aku Rey ... aku yang salah, maafin aku, aku sangat menyesal ...."
Air mataku terus mengucur dengan deras, seperti punya stok yang sangat melimpah, tumpah begitu saja tanpa takut persediannya habis.
"Kamu siapa?"
Suara itu seketika mengejutkanku. Sampai-sampai tangisanku langsung ter-rem begitu saja dan berhenti mendadak.
Aku mengangkat kepalaku lalu menyeka air mataku agar penglihatanku tidak kabur. Aku menatap wajah kak Rey baik-baik untuk memastikan bahwa suara laki-laki yang terdengar sangat lirih tadi memang benar suaranya.
"Kamu siapa? Kenapa menangis di atas dadaku?" tanyanya lirih sambil membuka matanya dengan perlahan.
__ADS_1
"Rey, ini aku. Keisha. Kamu tidak lupa siapa aku, 'kan?" tanyaku padanya. Mungkin kak Rey belum mengenaliku karena penglihatannya masih kabur.
Aku lalu berbalik memberitahukan kepada yang lain mengenai kabar membahagiakan ini. "Tante Rena, Om Reza! Rey sudah siuman!"
"Apa?" Secara serentak orang- orang langsung bangkit dari duduk mereka masing-masing, kecuali om Reza yang masih tetap duduk di kursi rodanya.
"Saya tidak mengenal siapa kamu, tolong minggir. Jangan menyentuh saya." Kak Rey berkata seraya menepis kedua tanganku yang memegang tangannya. Dia terlihat sangat risih disentuh olehku. Apa jangan-jangan, kak Rey mengalami amnesia. Sekarang aku baru ingat, bahwa 2 bulan yang lalu dokter memang pernah mengatakannya.
"Rey, kamu mungkin mengalami amnesia, makanya kamu lupa siapa aku," jelasku padanya. "Sebentar ya aku panggil dokter dulu buat periksa kondisi kamu."
Aku langsung bangkit dari dudukku hendak keluar memanggil dokter atau pun perawat yang sedang berjaga untuk memeriksa kondisi kak Rey yang baru saja siuman.
Baru saja beberapa kali aku melangkah, tiba-tiba suara kak Rey kembali mengejutkanku. "Ma ... Mama ... Rey haus, Ma. Tolong ambilkan air."
"Iya Sayang, sebentar Mama ambilkan." Tante Rena yang terlihat sangat bersemangat berjalan menghampiri putranya segera putar balik menuju meja makan yang tersedia di dalam kamar perawatan kak Rey. Beliau hendak menuangkan air untuk putra tercintanya.
"Rey, kamu sudah siuman, Nak ...." Om Reza berkata seraya mendekat ke arah kak Rey, dibantu oleh Laras yang mendorong kursi rodanya dari belakang.
"Kak Rey ..." panggil Laras, bibirnya tersenyum tapi matanya mengeluarkan air mata. Mungkin dia merasa terharu melihat kakak sepupunya yang akhirnya siuman juga.
"Ras," ucap kak Rey, sambil tersenyum tipis.
Loh? Apa ini? Aku merasa sangat terkejut melihat kak Rey mengenali semua orang. Tadinya aku pikir kak Rey mengalami amnesia, tapi ternyata tidak. Dia masih mengingat dengan jelas anggota-anggota keluarganya.
Ku lihat ibu juga mendekat menghampirinya. "Nak Rey, akhirnya kamu siuman juga."
"Iya, Tante Lani," jawabnya pada ibuku.
Loh? Aku dibuat semakin heran. Kak Rey bahkan mengingat siapa ibuku. Tapi dia lupa siapa aku. Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa hanya aku yang tidak diingat olehnya.
__ADS_1
Seketika hatiku terasa sakit dan perih. Dadaku juga terasa sangat sesak. Tapi tidak, aku tidak boleh bersedih. Mungkin tadi kak Rey sempat melupakan aku karena aku yang pertama kali dia lihat setelah dia terbangun dari tidur panjangnya. Ya, mungkin saja begitu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku kenapa? Kenapa bisa ada di sini?" Kak Rey bertanya pada orang-orang yang sudah berkumpul mengelilinginya.
"Kamu habis kecelakaan, Nak, dan kamu baru siuman setelah 2 bulan lebih tidak sadarkan diri." Tante Rena menjelaskan sembari menggenggam tangan putranya, dan sesekali beliau menyeka air matanya.
"Apa 2 bulan? Kenapa lama sekali?" tanya kak Rey. Mungkin dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya sudah tertidur selama itu.
Ceklek. Tiba-tiba kak Andra datang memasuki kamar perawatan kak Rey. Pria yang lebih tua 2 tahun dari kak Rey itu pun mendekat dengan wajah yang dihiasi senyuman lebar dengan raut wajah penuh kelegaan.
"Rey, akhirnya kamu sadar juga," ucap kak Andra.
"Kak Andra ... tolong bantu aku untuk bangun. Badanku rasanya sakit semua." Kak Rey terlihat menggeliat-geliatkan sedikit tubuhnya. Wajar saja kalau badannya terasa sakit, dia tidak bergerak selama 2 bulan lebih.
Sementara itu, aku hanya bisa diam terpaku menyaksikan pemandangan itu. Kak Rey mengenal semua orang, tapi kenapa dia tidak mengenaliku tadi. Bahkan dia menyuruhku untuk minggir karena menganggapku sebagai orang asing.
"Pelan-pelan, Sayang." Tante Rena berkata saat melihat kak Andra membantu putranya untuk duduk.
Sekarang kak Rey sudah duduk dan tubuhnya ditopang oleh kak Andra dari belakang.
"Katakan kalau kamu belum kuat untuk duduk," ucap kak Andra.
Kak Rey terlihat meringis. "Kak Andra, aku ingin kembali berbaring. Rasanya, aku belum sanggup. Aah ... tulang-tulangku rasanya mau patah. Kepalaku juga terasa pusing."
Kini kak Rey sudah kembali berbaring berkat bantuan kak Andra. Aku pun memutuskan untuk kembali menghampirinya. Aku ingin memastikan bahwa kak Rey benar-benar lupa padaku atau tidak.
"Rey, kamu ingat siapa aku?" tanyaku sambil menatapnya dengan lekat. Mataku sudah kembali berkaca-kaca, tapi aku berusaha agar tidak kembali menangis.
Sejenak aku dan kak Rey saling bersitatap. Manik mata kami berdua saling bertemu satu sama lain, lalu kak Rey terlihat menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya tidak mengenal siapa kamu," jawabnya dengan nada datar.
Kak Rey lalu menatap yang lainnya secara bergantian. "Ma, Pa, siapa gadis itu? Rey tidak mengenalnya sama sekali. Kenapa bisa ada orang asing di sini?"