
"Tante tenang dulu, biar Kei mencoba mendekati kak Rey." Aku berkata seraya melepaskan pelukanku pada tante Rena, lalu berjalan menghampiri dokter Rizal dan dua orang perawat laki-laki yang tengah membantunya.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, aku berjalan menghampiri tempat pembaringan kak Rey. Ku lihat, dokter Rizal masih bersusah payah untuk mengembalikan detak jantungnya agar kembali berdetak normal.
"Permisi," ucapku pada salah seorang perawat yang berada di sisi kiri kak Rey. Perawat laki-laki itu seolah mengerti maksudku. Dia lalu bergeser sedikit untuk memberiku jalan agar bisa mendekati kak Rey.
Aku yang melihat kak Rey dari jarak yang sangat dekat sedang diambang kematian tidak kuasa lagi menahan tangis.
"Rey ... jangan pergi. Jangan tinggalin aku ..." ucapku lirih sembari menggenggam tangan kirinya.
Dokter Rizal beserta kedua perawat yang sedang menangani kak Rey saat itu tidak ada yang mencegahku melakukan hal tersebut. Justru mereka malah membiarkan aku mendekat.
Seolah aku menyalurkan energi positif pada kak Rey melalui sentuhan tanganku, tidak butuh waktu satu menit, detak jantung kak Rey perlahan-lahan mulai kembali normal. Dokter Rizal beserta dua orang asistennya pun tercengang melihat hal tersebut.
"Sepertinya ... Rey tidak butuh alat pacu jantung ini. Dia hanya butuh kamu untuk terus berada di sisinya. Buktinya, begitu kamu datang, kondisinya langsung kembali normal. Padahal tadi kami sangat kewalahan menanganinya. Kami pikir, Rey tidak bisa kami selamatkan," dokter Rizal berkata seraya menepuk pelan pundakku.
Mendengar hal itu, air mataku semakin mengalir dengan deras. Aku memeluk kak Rey seraya membaringkan kepalaku di atas dadanya lalu menangis di sana.
"Maaf, maafin aku. Maafin aku karena aku pergi terlalu lama dan nggak jagain kami di sini," ucapku dengan penuh penyesalan.
"Aku janji nggak bakalan ninggalin kamu lagi. Aku nggak bakalan pergi lagi. Aku janji."
"Tapi kamu juga harus janji sama aku. Kamu nggak boleh pergi, kamu nggak boleh ninggalin aku. Kamu nggak boleh ninggalin mama kamu, papa kamu, dan semua orang. Kamu harus bangun. Kamu harus sembuh. Aku janji bakalan ngerawat kamu dengan baik."
Terlalu menangisi kak Rey melebihi orang tuanya sendiri menangisi anaknya, aku sampai lupa dengan mas Darren yang tadi datang ke sini bersamaku. Aku yakin, mas Darren pasti akan cemburu jika melihat aku menangisi pria lain sampai sebegininya. Ditambah lagi kak Rey adalah mantan kekasihku yang pernah membuatnya sangat cemburu.
__ADS_1
Aku mengangkat kepalaku, lalu menoleh melihat ke arah semua orang. Pandanganku mencoba memindai keberadaan mas Darren di antara yang lainnya, tapi tidak ada. Yang aku lihat hanya ibu, ayah, tante Rena, dan om Reza yang sedang berbicara dengan dokter Rizal. Kini wajah tegang semua orang sudah hilang berganti dengan wajah penuh kelegaan.
Perasaan, tadi mas Darren mengikutiku saat aku berlari dengan terburu-buru ke sini. Tapi ke mana dia? Apa dia tidak masuk ke sini atau dia malah pergi setelah melihatku menangisi kak Rey tadi?
Ah entahlah. Perihal mas Darren yang mungkin marah karena cemburu, aku bisa membujuknya nanti.
Aku lalu memperbaiki posisi dudukku, kemudian mengambil beberapa lembar tissu untuk mengeringkan mata beserta wajahku. Aku menatap sosok tidak berdaya yang saat ini tengah terbaring lemah di hadapanku.
Aku bertanya pada diriku sendiri? Apa benar bahwa aku membawa pengaruh besar untuk kondisi kesehatan kak Rey atau mungkin hanya kebetulan saja? Semua itu masih menjadi tanda tanya di benakku. Tapi jika memang benar seperti itu, lalu kenapa kak Rey tidak kunjung bangun sampai sekarang? Padahal aku selalu ada di sini menemaninya setiap hari. Ah entahlah. Aku juga tidak mengerti.
Setelah dokter Rizal keluar meninggalkan kamar perawatan kak Rey, tante Rena dan ibu berjalan menghampiriku. Sementara aku masih duduk di samping kak Rey sambil terus menggenggam tangannya. Kejadian tadi masih melekat jelas diingatanku, disaat kak Rey hampir saja kehilangan nyawanya. Aku benar-benar tidak rela dia pergi sebelum aku meminta maaf dan menebus semua kesalahanku padanya.
"Keisha, Tante ingin membicarakan hal serius yang sangat penting sama kamu Sayang," ucapnya seraya menggenggam tangan kiriku menggunakan kedua tangannya.
"Ini sudah yang kedua kalinya kamu membuat kondisi Rey menjadi lebih baik dengan kehadiran kamu di sampingnya. Kamu ingat 'kan beberapa minggu lalu saat Rey mengalami masa kritis pasca kecelakaan? Begitu kamu datang menemaninya semalaman di ruang ICU, kondisinya langsung stabil dan akhirnya bisa dipindahkan ke sini. Dan tadi, kita semua melihat dengan mata kepala kita sendiri, betapa kehadiran kamu membawa pengaruh besar untuk putra Tante. Huhuhu ...."
Tante Rena kembali menangis. Aku langsung memeluk beliau seraya berkata, "Tante jangan khawatir. Kei akan selalu ada di sini menemani kak Rey, sampai dia bangun dan sembuh seperti sedia kala."
Tanpa melepaskan pelukannya, tante Rena mengucapkan banyak-banyak terima kasih padaku.
...****************...
Beberapa hari kemudian, ayah Gilang sudah kembali ke Kota AB, sementara ibu, dia masih ingin tetap di sini menemani aku dan tante Rena menjaga kak Rey.
Selama beberapa hari ini pula, mas Darren tidak pernah muncul. Saat aku mencoba menghubunginya, dia malah berkata kalau dirinya sedang sangat sibuk, jadi tidak bisa diganggu.
__ADS_1
Firasatku mengatakan, ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh mas Darren. Mungkin saja dia hanya berbohong mengatakan kalau dirinya sedang sibuk, padahal dia hanya tidak ingin bertemu denganku. Mungkin saja waktu itu mas Dareen benar-benar melihatku menangisi kak Rey, makanya dia jadi marah padaku. Mungkin saja begitu. Aku hanya menerka-nerka.
Siang ini aku mengirim pesan pada mas Darren. Aku bilang kalau aku sangat merindukannya. Mungkin dengan begitu dia bisa sedikit luluh dan mau datang menemuiku di rumah sakit.
Tidak lama kemudian, pesanku pun mendapatkan balasan darinya. Dia berkata bahwa dia akan datang menemuiku, tapi bukan di dalam kamar perawatan kak Rey, melainkan di tempat lain. Aku bertanya alasannya kenapa, tapi dia malah menjawab tidak apa-apa. Hanya saja dia tidak ingin datang ke sini.
Kami lalu membuat janji untuk bertemu besok pagi. Karena selain di waktu pagi hari saja, aku tidak bisa kemana-mana lagi. Seperti biasa, disaat pagi hari aku biasanya keluar untuk berjemur dan melakukan olahraga ringan di taman rumah sakit. Aku bisa menggunakan alasan itu untuk keluar menemui mas Darren meski pun hanya sebentar saja. Karena jika aku pergi lama, aku takut kejadian tempo hari kembali terulang.
.
.
Keesokan paginya, dengan alasan keluar untuk berjemur dan berolahraga ringan, aku diam-diam janjian untuk ketemuan dengan mas Darren di parkiran rumah sakit.
"Maaf Mas, tapi Kei nggak bisa lama-lama. Paling lama 20 menit aja," ucapku saat baru memasuki mobil mas Darren. Saat ini mobil mas Darren terparkir di basemen rumah sakit.
"Tidak apa-apa. Yang penting Mas bisa melihatmu dan bertemu denganmu walau pun hanya sebentar. Mas sangat merindukan kamu Sayang. Sangat." Mas Darren berkata seraya membelai pipiku dengan lembut. "Mm ... boleh Mas minta imun?"
Aku yang sudah mengerti dengan istilah imun ala mas Darren pun lalu bertanya untuk apa.
"Biar Mas punya daya tahan tubuh yang kuat saat merindukan kamu ke depannya," jawabnya kemudian.
"Dasar gombal," ucapku sambil tersenyum malu-malu.
"Mas serius. Beberapa hari ini kita tidak bertemu, Mas benar-benar sangat tersiksa. Mas sangat merindukan kamu Sayang. Boleh, 'kan?" Mas Darren kembali bertanya untuk meminta persetujuanku dan aku hanya mengangguk untuk mengiyakan permintaannya.
__ADS_1