
### Selamat membaca kelanjutan cerita aku,jangan lupa selalu support aku ya, terus jangan lupa vote and coment ya!
thanks! 💙💙
Sesampainya dirumah mereka membaringkan tubuh masing masing. Menatap lurus plavon kamar itu.
Vanessa teringat sesuatu. Aha!!!!!
"Yaa ampunnn Shaniaaaaaaaa" teriak Vanessa.
Shania kaget.
"Apaan sih Van, gue masih kesel ini" . vanessa memutar bola matanya.
"Masih inget ga tadi abis ngampus bilang apa?" .
Shania menghadap Vanessa yang berbaring disampingnya.
"Apa?" .
"Huuu ternyata lo juga udah pikun" Vanessa mendorong jidat Shania.
"ihhh, iya apaaan Van?" Shania mendengus.
"Kita kan mau beli novel Shania kuuuuuu"
"Ahhhhh! Iyaaaa, gue lupaaa" . Shania memukul jidatnya
"Tuh kan, lo juga pikun" Vanessa mendengus.
"Iya udah, besok aja"
Vanessa mendudukan tubuhnya.
"Gue kan udah bilang, besok kalo ga salah gue ada kumpulan sama anak rohis kampus Shan,"
Shania ikut mendudukan tubuhnya.
"Gue juga mau jenguk Ejaa"
"Tuh kan, berarti kapan-kapan aja, tapi jan pance ya!!".
Vanessa melotot.
" iyaaa"
"Oke"
👑👑👑
Malam telah berganti dengan sinar matahari pagi. Shania dan Vanessa sudah bangun dari shubuh tadi dan mereka sedang sibuk dengan hajat masing masing.
__ADS_1
"Van, turun suruh sarapan" ucap Shania muncul dari balik pintu kamar nya. Vanessa mengangguk. Lalu mengikuti langkah Shania untuk sarapan.
"Pagi tante" sapa Vanessa.
"Pagi, sini sarapan bareng" ajak Mama.
"Wihhh, ini masakan paling the best deh tan" puji Vanessa.
"Haha, makasih deh, iya udah dilanjut makannya tante mau kebelakang dulu,Shan, nanti sekalian cuci piringnya ya" titah Mama
"Iya ma"
Setelah menyelesaikan perintah dari sang Mama, Shania segera berangkat kekampus, sebelumnya Vanessa telah lebih dulu berangkat karena akan ada kumpulan bersama anggota rohis.
Shania mempercepat laju kendaraannya, hari ini ia merasa senang entah mengapa, padahal tadi malam ia kesal sekali karena perlakuan dosen itu. Liam.
Tak lama ia telah sampai diparkiran kampus. Ia melihat Vanessa yang sedang berkumpul digazebo fakultas hukum. Sesekali Vanessa tersenyum entah karena apa, dan Shania melanjutnya langkahnya menuju kelas.
"Shaniaaaaa.. Lo dipanggil pak Liam suruh keruangannya " ujar erika teman satu SMA nya dulu.
"Sekarang?" tanya Shania heran.
"Iya, snaaaa" jawabnya lalu melangkah menuju kelasnya.
Dengan langkah gontai Shania melangkah menuju ruangan itu. Ya ruangan yang ia tak sukai. Entah mengapa namun ia tetap berjalan dan berhenti didepan ruangan itu.
"Permisi"
"Masuk saja Shania, tidak dikunci"
"Ini" ujanya menaruhkan sebuah ponsel baru diatas meja. " buat ganti handphone kamu yang saya jatuhkan tadi malam" tambahnya.
Shania hanya diam, ia hanya melirik benda pipih itu.
"Ko cuman diliatin aja, ambil Shania" titahnya.
"Saya cuman mau, handphone saya yang dulu" ucap Shania seraya melipat kedua tanganya diperut.
Liam tertawa. Shania heran.
"Pakai ini saja dulu, nanti kalau ponsel kamu sudah benar akan saya kembalikan" jelasnya. Namun Shania tetap diam.
"Bapak suruh saya kesini hanya untuk memberi handphone baru buat saya?" tanya Shania melotot.
Liam kembali tertawa. "Iya, karena saya tahu pasti kamu lagi butuh handphone kamu buat mengabari seseorang yang perlu dikabari, kan?" tebaknya.
"Udah pak, saya mau kekelas sebentar lagi dosen saya akan masuk" ujar Shania mengalihkan pembicaraan.
"Kan saya yang jadi dosen khusus dikelas kamu" jawab Liam enteng.
Astaga. Ia lupa bahwa sekarang yang mengajar dikelasnya adalah Liam.
__ADS_1
"Iya sudah saya permisi pak" ujar Shania ingin segera pergi dari ruangan itu.
"Eits , ini handphone nya ngak mau diambil?"
"Ngak pak, makasih" jawab Shania lalu segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Selepas Shania pergi, Liam tertawa pelan lalu mengambil ponselnya dan mengetikan pesan kepada seseorang.
Semuanya sudah dimulai:)
👑👑👑
Sesampainya dikelas, Shania segera duduk dan menenggelamkan kepalanya diatas meja. Ia sedang kesal. Tak lama Vanessa datang dan mengelus pundak Shania.
"Kenapa lo?"
Shania mengangkat kepalanya.
"Ngak papa"
"Alah bohong"
"Beneran, Van. Btw gimana kumpulannya?" Shania mengalihkan pembicaraan tentang dirinya.
"Wissss, gue jadi merasa paling rendah tau ga?" jawab Vanessa antusias.
"Kenapa?" tanya Shania.
"Dirohis itu, pada ukhti ukhti semua, ada yang pakek penutup muka itu namanya apa ya? Gue lupa, trus ya gue kan ga makek hijab sendiri, lo juga tau kita dari jurusan apa, jadi gue ngerasa paling rendah gitu tadi, tapi kata mereka gue bisa berubah jadi yang lebih baik, gituh" jelasnya. Shania mendengarkan dengan seksama.
"Ouhh gituh ya, gue kira lo bakal dijauhin, hahaha" ujar Shania tertawa,menghilangkah kekesalnya beberapa menit yang lalu. Vanessa akan melanjutkan ceritanya perihal tentang rohis namun dosen itu telah muncul memasuki kelas mereka. Dan semua diam lalu me jawab salam dosen itu. Shania dan Vanessa pun ikut diam.
∆∆∆∆∆∆∆
"Oke mungkin itu saja, waktu saya sudah selesai, selamat istirahat dan jangan lupa buat belajar, bentar lagi kita akan mengadakan UTS dan untuk minggu minggu ini saya akan mengadakan beberapa kuis untuk tambahan nilai kalian. Assalamualaikum. " ujar dosen itu yang tak lain adalah Liam. Lalu pergi.
Shania menghela napas. Kuis? Apa apaan dosen itu. Membuatnya harus belajar ekstra, agar mendapatkan nilai tambahan supaya jika nilai Uts nya rendah maka bisa ditambah dengan nilai kuis.
"Lo mau langsung pulang atau mau ikut gue kumpulan?"
Tanya Vanessa yang sudah berdiri sambil membawa beberapa buku tebal.
"Kan gue mau jenguk Ejaa, Van" jawab Shania
"Ouh iya, ya udah gue duluan ya, eh iya satu lagi, bokap nyokap gue udah balik, ngak tau kok cepet banget jadi ntar gue langsung balik kerumah gue, terima kasih atas penginapannya Shania sayangggggg" ujar Vanessa sambil memeluk Shania yang masih terduduk dikursinya. Ia membalas pelukan Vanessa.
"Sama sama Van,"
Setelah itu Vanessa melangkah keluar kelas. Dan tinggallah Shania dan beberapa mahasiswa. Lalu Shania pun beranjak dari duduk nya dan segera melangkah menuju parkiran mobil.
Planningnya hari ini ialah akan menjenguk Ezaa. Sebelum itu ia akan membelikanya buah buahan segar di Istana buah yang tak jauh dari perumahan laki laki itu.
__ADS_1
∆∆∆∆∆∆∆
"Hay, apa kabar?" ...