AKSARA

AKSARA
RUA| 40


__ADS_3

Happy Reading ❤️


"adeeeee" teriak Nico berlarian karena Adam mengejarnya.


"diem kamu ya atau papa sita semua keris rongsokan kamu itu" terus mengejar bocah mengesalkan didepannya.


"coba aja kalo berani tapi jangan salahin Nico kalau papa nangis lagi ya... Rayaaaaaa" Teriak Nico terus memanggil Raya.


"oke oke oke... Papa turutin mau kamu tapi jangan aduin papa sama bocah macan itu" ucap Adam membuat keduanya berhenti berlari.


"serius" tanya Nico memastikan.


"papa serius" mengulurkan tangannya ingin berjabatan, langsung di sambut Nico.


Adam mengeluarkan smirk, saat berjabatan ia langsung memelintir tangan putra sambil terkekeh geli.


"selamat ada Zonkk" bisik Adam.


"Rayyaaaaa sayanggg" Teriak Adam.


"akkhh papa curang" Nico terus meronta ronta ingin melepaskan cekalan papahnya yang prik nauzubilla.


Raya menaiki tangga, menatap papah dan abangnya.


"kenapa pah" tanya Raya heran melihat tingkah aneh dua laki laki itu.


"papah lagi cegat abang kamu ini, tadi papah liat dia mukul mukul boneka rong- eh maksudnya boneka beruang kamu" jelas Adam yang nyatanya membalikkan fakta.

__ADS_1


Raya melotot kan matanya, ia tahu sebenarnya kedua duanya yang bersalah di sini.


"MAMAHHHHHHHH" teriak Raya melingking membuat kedua laki laki itu semakin takut.


"aduhhh syang kenapa? Kok teriak teriak sih?" ucap Nina menghampiri Raya.


"huaaa mamah... Abang sama papah jahatin boneka dari menantu mamah" adu Raya dengan derai air mata, sial beribu sial Raya lebih pintar berakting dari mereka.


"mas, abang....kenapa jahatin ade mulu sih" kini tangan ibu rumah tangga itu sedang berada ditelinga Adam dan Nico.


"awssss mahhhh sakit mahh" ringis Nico.


"akhhh sayang sakit... Aduhhh" Adam tak kalah meringis ketika tangan pedas itu menarik telinga mereka.


"biarin, biar kalian jera jailin anak perempuan kesayangan mamah" sahut Nina semakin kuat menjewer mereka, sedangkan Raya sudah tersenyum mengejek kearah mereka.


Aksa memasuki rumahnya setelah selesai berkumpul dimarkas milik geng SAMUDRA.


"assalamualaikum" salam Aksa memasuki rumahnya.


"waalaikumsalam... Ehh gantengnya bunda udah pulang. Di tungguin ayah tuh diruangan kerja" ucap Asya dengan lembut.


"ya udah Aksa kesana dulu ya Nda" sebelum melangkah pergi Aksa mencium kening sang bunda kesayangannya.


Aksa langsung memasuki ruang kerja ayahnya, jika sudah dipanggil berati ada yang amat penting untuk ia ketahui.


"ayah" panggil Aksa saat berada diruangan Rico - Ayahnya Aksa.

__ADS_1


"duduk nak" tutur Rico.


"ada hal penting sampai ayah panggil Aksa kesini" tanya Aksa.


Rico mengeluarkan sebuah dokumen beserta foto foto yang membuat Aksa gemetar seluruh tubuhnya, bahkan wajah sudah pucat serasa runtuh dunianya saat ini.


"ayah ini" Aksa menunjuk dokumen itu, Rico mengangguk "ya nak dia masih hidup" sahut Rico membenarkan ucapan Aksa.


"gak, gak, gak mungkin yah. Semua ini gak mungkin" ucap Aksa amat syok kemudian berdiri dan ingin pergi.


"secepatnya nak, itu lebih baik. Agar kamu tak terluka terlalu dalam" jelas Rico mengerti kekalutan anak semata wayangnya.


Aksa melangkah menuju kamarnya, saat Asya ingin mengejar Rico segera menghadangnya dan menggelengkan kepalanya "beri dia waktu bun" ucap Rico melihat anaknya.


"aku takut dia kembali terpuruk yah, apalagi kenyataan ini benar benar membuat jadi semakin ketakutan. Bunda takut yahh" Asya memeluk Rico, pria paru baya itu hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan sayang menyalurkan ketenangan.


Didalam kamar Aksa sudah membanting semua barang, kasur sudah berantakan tak berupa.


Ia duduk di tepi ranjang sambil menutup wajahnya "kenapa, kenapa harus lo... Kenapa" memukul mukul kepalanya.


Air matanya terus mengalir dengan deras, ia menatap tangannya bayangan darah dari perempuan itu terus menghantuinnya selama ini.


"kenapa....ketakutan ini seakan mematikan segalanya. Sekarang gue harus apa agar cahaya itu gak pergi" menatap cahaya bulan yang memasuki kamarnya dengan pelitnya.


"gue gak sanggup sumpah gak sanggup.... Hisk" tangis Aksa begitu pilu menyiratkan kepedihan yang amat dalam.


"gue terlalu pengecut, terlalu egois....bisa gue egois demi kebahagian gue" ucap Aksa lirih, air mata itu seolah enggan berhenti terlalu sesak dan menyayat.

__ADS_1


"biarin kayak gini dulu yak...sampe pengecut ini berani melepas genggaman lo, cantiknya Aksa..... Rayana Putri. Orang yang dengan kejinya gue tinggal saat gue sendiri yang memberikan lo maut paling mengerikan" lirih Aksa menutup mata sebabnya sambil memeluk foto Raya dengan sayang.


__ADS_2