AKSARA

AKSARA
RUA| 55


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Setelah kejadian dirumah sakit hubungan Aksa dan Raya kembali bersama, ditambah lagi hubungan mereka semakin lengket seperti perangko.


Seperti saat ini Aksa dengan manjanya seperti anak kucing merebahkan kepalanya dipaha Raya.


Teman temen mereka hanya berdecak kesal karena kepameran mereka saat ini.


"yang kemarin marah marah, sekarang kayak anak kucing" ejak Aldi menatap jengah pada Aksa.


"mana pake acara cosplay jadi mayat hidup" lanjut Alam.


"mana pake bilang... kalo Raya ninggalin gue, gue bikin bunting dia gampang...elehhhh sekarang ajak ciut kayak kerupuk seblak" Aiden pun ikut ikutan mengejek Aksa.


"tapi lo dukung dugong itu idenya si Aksa" Alam menoyor kepala Aiden.


Reynan hanya terkekeh melihat perdebatan temannya "berati udah baikan kalian" tanya Reynan.


Keduanya mengangguk dengan senyuman "jangan suka berantem lagi" nasehat Reynan.


"iya kak" sahut Raya.


"emang beneran kamu ngomong gitu" tanya Raya memastikan.


"iya.. Hehhe" Aksa cengengesan sambil mencium telapak tangan Raya.


"dihhh lo nasehatin orang jangan berantem terus, lahh lo sendiri sadar diri sering bikin gue emosi" sindir Dea manatap penuh permusuhan pada Reynan.


"Itu karena lo susah dibilangin" sahut Reynan.


"kalo susah dibilangin itu nasehatin" ucap Dea dengan nada kesal.


"gue udah nasehatin tetap bebel" jawab Reynan menatap datar pada Dea yang entah kenapa suka sekali marah marah.


"dasar tukang ngadu" sindir Dea.

__ADS_1


Reynan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, sungguh berdebat dengan Dea membuat ia pusing.


"lain kali kalo berantem itu selesain baik baik jangan suka main kasar" kini Rania bersuara.


"iya Ran, gue gak bakalan nyakitin cewe gue lagi" Aksa tersenyum manis pada Raya.


Sedangkan Raya asik mengusap rambut Aksa yang lembut dengan sayang.


"elo juga jangan suka mikirin makan aja tu otak, badan doang kecil perut kayak tong air" ejek Aldi membuat Rania melempar botol air mineral tepat kewajah Aldi.


"diem, gak usah bacot anak samson" sahut Rania.


Kini mereka tertawa sambil mengobrol dan makan cemilan dihalaman sekolah karena jam kosong diseluruh kelas.


***


Seorang gadis menahan emosi saat ini, dengan mencak mencak dan baru selesai menghancurkan seluruh barang di kamarnya.


"akhhhhh... Sial. Sial. Sial" frustrasi gadis sambil menjambak rambutnya.


"kenapa malah mereka baikan sih, ck.. Gue benci"


Sella melemparkan vas bunga kearah cermin hingga pecah dan berserakan dilantai.


"kenapa lo harus ketawa sama dia sih Sa, kenapa? Susah banget sih alihin perhatian lo" teriak Sella hampir seperti orang gila.


Obsesinya terhadap Aksa membuat ia seperti orang gila, selalu berkhayal akan Aksa yang bersama dirinya.


"gue gak bisa terus diam kayak gini, gue harus buat Aksa bertekuk lutut didepan gue dan membuat Raya menangis darah" gumamnya sambil menggigit jari jarinya sampai terluka.


Ia menatap pada benda kecil yang menunjukan garis dua berwarna merah, hal itu juga membuat ia semakin kalut dan semakin frustrasi.


"akhhhhh....bisa gila gue kalo gini terus"


"gue bakalan biarin lo bahagia dulu Raya, setelah itu gue bakalan ambil apa yang harusnya jadi milik gue" Sella mulai tertawa dengan sendiri.

__ADS_1


Ia mengusap perutnya dengan seringaian "tenang aja sayang, dia bakalan tetap jadi ayah kamu"


"mau gak mau lo bakalan jadi milik gue... Hahahaha" Sella tertawa membayangkan Aksa yang akan menjadi miliknya nanti.


Biarkan saja saat ini ia sedikit memberikan waktu untuk kebahagian sementara untuka Raya dan Aksa.


Setelah itu dia yang akan memiliki kebahagian penuh bersama Aksa dan anak dalam kandungannya.


"gue cantik, menarik, penyayang....bahkan gue lebih unggul dari Raya"


"dan bakalan gue pastiin, lo bakalan lebih beruntung milih gue dari pada cewe murahan kayak Raya"


***


Keringat membanjiri pelipis Raya saat ini, dia sedang berlatih memanah ditemani Aksa.


Baru kali ini ia merasa senang saat berlatih ditemani orang yang ia sayangi.


"cape" tanya Aksa mengusap keringat Raya menggunakan handuk kecil.


"banget"


"aku benerin ikat rambut kamu, mau"  Raya mengangguk, dengan lembut Aksa menarik ikat rambut Raya.


Dia mengumpulkan rambut Raya menjadi satu, lalu memutarnya kemudian menggulung membentuk sanggulan cantik dan rapi.


Selasai mengikat rambut Raya, Aksa mencium kening gadisnya dengan penuh sayang.


"cantik banget sih kamu"


"dari lahir" sahut Raya sambil terkekeh.


"makanya aku harus bersyukur sama tuhan dan mama kamu, udah ciptain berlian cantik ini buat aku jaga" mengusap pipi Raya.


"dih gombal"

__ADS_1


"fakta sayang"


Mereka terkekeh bersama sambil bercanda seperti biasanya.


__ADS_2