AKSARA

AKSARA
RUA| 20


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Nico membopong tubuh kecil Raya agar memasuki rumah mereka.


"mang Udin bukain pintu, Nico gendong Raya nih" pinta Nico pada satpam rumah mereka.


"baik den" Mang Udin dengan cepat membuka pintu untuk majikan kecilnya.


"assalamualaikum" salam Nico memasuki rumah.


"waalaikumsalam -" suara Adam tercekat melihat putrinya digendong Nico.


"allahuakbar bontot papa kenapa, kok di gendong gorila sih" tanya Ada menghampiri putrinya yang sudah duduk disofa.


"bukannya bilang makasih anaknya udah bi bawa pulang malah ngejek abang terus" sungut Nico kemudian duduk disamping kiri Raya.


"kamu kenapa? Abis tawuran? Atau abis balapan kok luka sih lututnya. Gak seru ahh" ucap Adam sambil menyelipkan anak rambut Raya ke belakang telinga.


"hehehe biasa lah" Raya cengengesan.


"lompat dari lantai dua" sahut Nico langsung saja Raya mendapat cubitan maut di pipinya.


"astagfirullah Ray...papa ngajarin kamu ngelindungin diri bukan bunuh diri" gemas Adam terus mencubit pipi gembul Raya.


"aww awww awww pahh pipi Raya sakit" berusaha melepaskan cubitan di pipinya.


"lagian kamu mau jadi apa hah lompat dari lantai dua gitu. Mau adu nyawa kamu sama kucing" Adam sambil melotot membuat Raya menciut.


"e-enggak pah" sahut Raya gagap.


Hingga datang Nina dari arah dapur dengan menentang brownis kesukaan Raya.


"ehhhh anak mama udah datang" Nina langsung menyerobot duduk diantara Nico dan Raya.


"mah ini Nico lagi duduk disini, gak usah nyempil ah" Rajuk Nico.

__ADS_1


"abang pindah deh ke kursi sebelah, mama mau duduk samping Raya"


"gini nih pilih kasih" ketus Nico kemudian pindah kesofa sebelahnya.


"mama bikin brownis coklat" tanya Raya.


"iya sayang, kesukaan kamu" Nina memotong motong brownisnha, saat ingin memberikan brownis itu kening Nina berkerut melihat lutut Raya yang di perban.


"kaki kamu kenapa Ray" tanya Nina.


"lompat dari lantai dua" sahut Adam langsung mendapat tatapan tajam dari Raya.


Pletak


Nina menjitak kening Raya "kamu mau bikin mama jantungan terus mati ya"


"e-enggak m-mah" bahaya sudah mendekati Raya saat ini.


"terus kenapa lompat gitu"


Pletak


Dua kali sudah jitakan maut sang mama melayang di keningnya "kamu mama hukum, gak sekolah tiga hari kedepan buat penyembuhan kaki kamu" titah Nina.


"ihhh gak mau mah, Raya tetap mau sekolah mah. Nanti gak bisa ketemu pangerannya Raya" rengek Raya sambil memeluk lengan mama nya, tontonan asik bagi Adam dan Nico melihat perdebatan dua perempuan didepannya.


"gak ada tapi tapi Raya, tiga hari kedepan Izin. Titik. Atau kamu mama coret dari KK" Ancam Nina.


"isshh mama gak seru ah" Raya berdiri dengan tertatih ia melangkah menuju kamarnya.


***


Di markas SAMUDRA tiba tiba seorang laki laki menyerang Aksa.


Bugh

__ADS_1


Brakk


"Anj..." pekik Aksa.


Tubuh Aksa terpental hingga menja kayu itu patah karena tubuh Aksa.


Semua yang melihat hanya menatap bingung dan berusaha melerai perkelahian itu.


"woyy woyyy tenang dulu Ko, ngapain sih kalian" tanya Aldi sambil menahan lengan Nico.


"gak usah ikut campur ini urusan gue sama Aksa" sahut Nico berusaha lepas dari Aldi.


Sungguh Aldi kewalahan menahan tubuh Nico yang kekuatannya hampir sama dengan ketuanya.


"bangs*t, lo nyerang gue kenapa hah" hadrik Aksa mendekati tubuh Nico ingin membalas namun di tahan oleh Nico.


"elo gila Sa" ucap Nico dan kembali memukul rahang Aksa hingga sudut bibirnya berdarah.


Bugh


Bugh


Dua tinjauan juga mendarat kewajah Nico "bangs*t" sumpah Aksa.


"maksud lo apaan lempar buku Raya kekolam hah, lo tau Raya rela lompat dari lantai dua" ucap Nico mencengkram baju Aksa.


"kenapa? Lo suka sama tu bic*h, ambil gue gak sudi sama cewe murahan kayak dia" sahut Aksa tepat di wajah Nico.


"anj...."


Bughhh


Dengan sekuat tenaga Nico melayangkan kembali pukulan hingga Aksa tersungkur kelantai.


"Raya ade gue bangs*t, lo gila Sa gila. Gue kira siapa cewe yang mau lo musuhin ternyata Ade gue, gue gak bakalan biarin seujung jari pun lo sentuh ade gue"

__ADS_1


Aksa kaget mendengar penuturan Nico saat ini.


__ADS_2