
Happy Reading ❤️
Kini mobil mewah itu sudah terparkir indah, Raya menatap takjub apartement didepan matanya.
"apartement apaan ini anj- mewah banget gila" batin Raya, katakan saja Raya udik. Namun ia tak peduli semua itu.
"keluar" ucap Aksa kemudian keluar dan di susul oleh Raya.
"sa serius apartement lo disini" tanya Raya masih sedikit tak percaya.
"hm"
Aksa melangkah menuju gedung apartement, langsung disambut oleh semua pelayan yang ada di sana.
"selamat datang tuan muda" salam pelayan laki laki sambil membungkukkan setengah badannya.
"siapkan makanan dan pakaian" perintah Aksa.
"baik tuan muda"
Raya hanya mematung melihat interaksi Aksa dan pelayan itu.
"t-tuan muda" gumam Raya menatap tak percaya, di kepala sudah banyak pertanyaan.
"ikut gue" Aksa melirik Raya yang berada dibelakangnya.
Pelayan disana pun sedikit bingung baru kali ini Aksa membawa seorang bocil keapartement miliknya.
"tuan muda, apa anak kecil ini perlu saya siapkan kamar" Tanya pelayan.
"ehh ehh ehh paman penjaga gue bukan anak kecil, lo kira gue shiva apa" sewot Raya tak terima dikatakan anak kecil, hanya saja badannnya saja kecil.
__ADS_1
"tidak... Dia bakalan ikut aku" sahut Aksa di balas anggukan oleh pelayan.
"wahhhh gini nih. Gue ngomong malah di Kacangin, cape batin saya bang" memegang dadanya sembari mengeleng gelengkan kepalanya.
Dengan cepat Aksa menarik tangan Raya sebelum gadis petakilan itu membuat masalah.
Aksa masuk lift khusus dirinya menuju lantai 40, setelah sampai ia langsung memasuki ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya.
Raya mendengus melihat Aksa, dengan segera ia melepas sepatu Aksa. Membuat empunya kaget dengan Aksi Raya.
"kalo cape mau istirahat biasain dulu lepas sepatunya, biar kaki lo rileks" jelas Raya.
"hmm" Aksa menatap Raya sambil menanyandarkan kepalanya disofa.
"punya kotak P3K gak" tanya Raya.
"ada di laci itu" Aksa menunjuk laci di dekat televisi.
"kalo dapur di mana?" tanya Raya kembali.
Raya bangkit dari duduknya menuju dapur, 15 menit berkutat didapur akhirnya Raya keluar dengan nampan besar di tangannya. Tak lupa pula ia mengambil kotak P3K.
Ia langsung duduk di samping Aksa, Laki laki disampingnya itu hanya menoleh sebentar lalu kembali menyadarkan kepalanya.
"lepas dulu jaket lo" titah Raya langsung membantu Aksa melepas jaketnya.
Raya memerah handuk kecil yang berendam dalam air hangat, ia mengusap wajah Aksa.
Aksa langsung menatap Raya dan ingin membuka suara "diem, gue cuma bantuin lo. Gak usah bacot dulu" tegur Raya membuat Aksa bungkam.
Raya membersihkan wajah, tangan dan kaki Aksa menggunakan handuk yang berendam air hangat.
Lalu ia juga mengobati luka disudut bibir Aksa.
__ADS_1
Entah Aksa nyaman atau sedang malas bertengkar, ia hanya diam saja tanpa mengeluh apa pun.
"selesai" senyum Raya mengembang melihat pekerjaannya selesai. Saat ingin menyimpan peralatan tangan Raya di tahan Aksa.
"duduk" titah Aksa.
"gue simpen ini dulu"
"duduk Ray" ucap Aksa sekali lagi.
Ia menghela nafas kemudian menuruti ucapan Aksa, sampe saat kepalanya menoleh kesamping sofa ia langsung menjerit dan dengan cepat duduk di pangkuan Aksa sambil menyembunyikan wajah nya.
"AAAAAAAAA....." teriak Raya langsung melompat kepangkuan Aksa.
...
...
"lo kenapa" tanya Aksa.
"Itu itu.... Ada, a-ada kelabang" menhnjuk samping sofa, Aksa menoleh dan menatap datar.
Ia menepuk bahu Raya "mata lo katarak, itu charger bukan kelabang bego" ucap Aksa.
Raya kembali menoleh dan benar saja itu charger bukan kelabang, ia bernapas lega.
Dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu dengan posisi Raya berada di pangkuan Aksa.
Mereka sama sama tenggelam dalam manik mata yang indah, tak lama fokus Raya pecah saat melihat jakun Aksa.
Ia mengelus pelan jakun itu membuat Aksa menggerang tertahan "eeemmhh"
"lucu" Raya tersenyum saat melihat jakun naik turun.
__ADS_1
"stop Ray-" ucap Aksa tercekat saat tanpa sadar satu tangan Raya lainnya tanpa sengaja mengelus perut Aksa.
Gerakan tangan Raya terasa sensual diperutnya "stop atau lo bakalan hamil mendadak" Ancam Aksa sukses membuat pergerakan Raya berhenti.