AKSARA

AKSARA
RUA| 46


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Saat tengah malam kepala Raya kembali sakit, darah segar kembali keluar dari hidungnya.


Ia segera menuju kamar mandi membersihkan darah yang tak hentinya keluar, kepalanya sakit, kakinya gemetar.


Adam yang belum tidurpun mengecek kamar putrinya, tak ada Raya di ranjang. Namun terdengar suara kran air dari arah kamar mandi yang tak tertutup.


Ia melihat Raya membersihkan darah dari hidungnya dengan wajah pucat pasti, kakinya gemetar dan langsung terduduk dilantai.


Tampak Raya menangis sambil memukul kakinya, Adam segera masuk kekamar mandi dan menggendong Raya.


Kaget kedatangan Adam, Raya langsung mengubah ekspresinya menjadi tersenyum "e-ehhh papa kok disini" tanya Raya gugup.


Adam medudukan Raya di ranjang, menatap Raya dengan lambat "katakan! Apa yang kamu sembunyikan" tekan Adam dengan raut wajah yang berbeda.


"e-enggak ada kok pah"


"jangan bohong Ray, papa liat semuanya. Darah, air mata, wajah pucat dan kaki kamu kenapa" tanya Adam semakin menekan.


"R-raya it-itu anu emmmm..." semua kata katanya seakan sulit keluar, Adam menangkap wajah anak nya.


"bilang sayang, jangan bikin papa khawatir" suara Adam melembut.


Mendengar kelembutan Adam membuat Raya menangis "hiskk.... Sakit pah. Sakit banget" adu Raya.


"apanya yang sakit sayang, bilang sama papa nak" Adam mengusap rambut Raya dengan lembut, tak mampu baginya menjadi lelaki terkuat saat melihat putri kecilnya sendiri menangis.


"kepala Raya sakit pa, Raya gak kuat.... Hisk. Kaki Raya juga gak bisa gerak pa" adunya, tangis Raya semakin kencang.


"hushhh....bilang sama papa Sayang" Adam memeluk Raya.


"tumor otak" ucap Raya membuat tubuh Adam bergetar, kabut ingatan Raya semasa kecil kembali membuatnya ketakutan.


"bohongkan" tanya Adam, Raya mengeleng dengan air mata.

__ADS_1


"gak kuat pa, gak sanggup... Sakit banget hisk"


"husttt....besok kita berobat ya, Raya kan putri terkuat papa. Pasti sembuh" Adam menyemangati walau ia sendiri ragu, karena dulu Raya sempat tak teeselamatkan.


"sekarang bobo ya, papa temenin" ucap Adam, ia membaringkan Raya dalam dekapannya.


"kenapa tuhan, kenapa selalu peri kecil ku" batin Adam


***


"bang izinin ade ya, ade mau berobat" ucap Adam pada Nico.


"emang Ade sakit apa" tanya Nico.


"cuma demam"


"ohhh gitu, oke deh. Nico berangkat ya pah, assalamualaikum" Nico mencium tangan Adam sedangkan Nina di kamar Raya menyiapkan putri kecilnya.


Ia juga kaget dan syok mendengar cerita Adam tentang keadaan Raya.


Adam segera kekamar Raya menggendong Raya menuju mobil, bukan manja hanya Raya tiba tiba tak bisa menggerakkan kaki bahkan merasakannya pun tidak.


"gimana Hasilnya" tanya Adan tak sabar.


"tumor yang Raya miliki menyebar ke kakinya ia mengalami lumpuh sementara, namun akan kembali semula dengan sendirinya" jelas Sadam


"operasi?" tanya Adam.


"bisa operasi tapi kemungkinannya sama seperti dulu" jawab Sadam membuat Adam tertunduk dan Nina menutup mulutnya.


"apa bisa peri kecil ku sembuh" lirih Adam.


"bisa bang, selama Raya sendiri semangat menjalani pengobatannya"


"aku rasanya gak sanggup Liat Raya kembali menjerit saat jarum jarum menembus kulitnya" ungkap Adam.

__ADS_1


"begitulah pengobatan bang, intinya kita sabar menjalani pengobatan."


"atur operasi Raya segera" titah Adam namun suara Raya mengalihkan atensi mereka.


"Raya belum siap pah" ucap Raya.


Adam menghampiri Raya yang di antar suster menggunakan kursi roda.


"kalo gak cepet di operasi bakalan tambah bahaya sayang" jelas Adam.


"biarin dulu ya pah, sampai keinginan Raya tercapai. Setelah itu Raya bakalan mau operasi, sementara Raya minum obat aja ya..." ungkap Raya memohon.


"tapi nak"


"plishh pah, sekali ini aja" mohon Raya.


"tapi sampai kapan sayang" Nina bersuara.


"segera mah" jawabnya.


"segera itu kapan, kamu tau tumor otak mudah menyebar Ray. Jangan nyakitin diri kamu sayang" jelas Nina dengan air mata.


Raya menghapus air mata Nina "Raya udah biasa hidup diantara kematian mah. Kalo tuhan sayang pasti Raya bakalan salamnya sama kalian" jelas Raya.


"apa yang mau kamu cari sayang" tanya Adam menggenggam tangan Raya.


"Kebenaran"


Adan dan Nina di buat bingung oleh ucapan Raya "maksud kamu apa nak" tanya Nina.


"mencari kebenaran dari tabrakan itu mah" jawabannya Raya membuat kedua orang tuanya kaget.


"buat apa sayang"


"........."

__ADS_1


"kamu yakin"


"yakin mah pah" jawab Raya tersenyum manis.


__ADS_2