AKSARA

AKSARA
RUA| 63


__ADS_3

Brakk


Aksa membuka dengan kasar pintu ruang rawat milik seorang gadis cantik kesayangannya.


Dapat dilihat wajah yang biasanya ceria kini telah berubah tanpa ekspresi, tubuh Mungil itu tebujur kaku.


Dengan kaki gemetar Aksa mendekati brankar milik gadisnya, ia seperti ingin gila tak mau mempercayai kenyataan yang telah ia dengar.


"by...." panggil Aksa lembut seraya menggenggam tangan Raya, namun sayangnya tak ada jawaban sedikitpun dari gadis itu.


"cantik....ayo bangun. Bilang semua ini cuma becanda" lirih Aksa, air mata laki laki itu runtuh seruntuhnya.


"aku kangen kamu by, ayo bangun sayang. Jangan becanda kayak gini dong by, aku gak suka"


"Sa...lo harus ikhlas" ucap Nico muncul setelah menguatkan mentalnya mendengar adik kandungnya telah bersama sang maha kuasa.


"DIAM LO..." teriak Aksa pada Nico.


"jangan berisik, cantiknya gue lagi tidur. Dia gak mau diganggu, dia lagi marah sama gue" Aksa mengusap rambut Raya penuh sayang, seolah gadis itu masih ada.


"sadar Sa, Raya udah tenang. Dia gak sakit lagi" Nico kembali berucap, sambil memegang bahu Aksa.


"enggak Nic, Raya gue cuma lagi becanda. Gak mungkin dunia gue, ninggalin gue gitu aja tanpa ngajak gue" Aksa tertawa dengan air mata mengalir semakin tak mempercayai ucapan Nico.


Otak dan hatinya tak menerima apapun, seolah termakan sesuatu. Kenyataan yang sangat amat konyol, dan terlalu lucu untuk ia percayai.


"udah bego, kalo lo gini ade gue bakalan susah perginya. Princess kesayangan kami udah bahagia" lirih Nico sambil menangis tak kuasa lagi membendung sakit melebihi kematian.


"gak gak gak Nic... Lo jangan ngomong gitu sama cewe gue" bentak Aksa.

__ADS_1


Nina dan Adam tak bersuara, mereka hanya tertunduk didepan tubuh putri kesayangannya.


Bicara pun sudah tak bisa mereka lakukan, hanya menangis dan berpasrah tanpa kepastian yang nyata.


"putri kecil mamah sekarang udah tenang ya, udah gak sakit lagi. Udah.... Udah gak ada lagi yang manja sama mama" ucap Nina dengan memeluk tubuh Raya dengan erat.


"hay putri papah, kesayangannya papah....kok cantik banget sih. Maafin papah ya suka jail sama ade, suka ngelarang ade, suka.... Suka B-bilang barang kesayangan ade barang gelandangan. Padahal papah cemburu kalo ade lebih sayang yang lain dari pada papah" Adam mencium telapak tangan Raya dengan lamat.


"tenang ya sayang mamah sama papah, ikhlas" lirih Nina berbisik ditelinga Raya.


Brakkk


Meja peralatan medis dilempar kasar oleh Aksa mendengar penuturan semua orang yang mengikhlaskan gadisnya.


"BANGUN.... KALO KAMU GAK BANGUN, AKU BAKALAN NYUSUL KAMU SEKARANG" teriak Aksa sambil mengarahkan pisau bedah kearah pergelangan tangannya.


"jangan gila lo" bentak Nico mendekati Aksa.


Sedangkan Adam diam tak bersuara, ketulusan dan kehancuran Aksa tercetak jelas dimatanya. Percuma menghentikannya, karena hanya dirinya sendiri yang bisa mengatasi semua itu.


"AKU KASIH KAMU WAKTU RAYANA PUTRI, KALO DALAM HITUNGAN KETIGA KAMU GAK BANGUN, AKU BAKALAN LENYAP DIDEPAN KAMU"


Aksa mulai menyayat secara perlahan.


"satu"


Tak ada pergerakan sama sekali.


"dua"

__ADS_1


Dan itupun masih sama tak ada respon apapun


"ti..."


Sayatan yang Aksa ciptakan semakin dalam, hatinya semakin yakin untuk menyusul gadisnya, darah pun mengalir dengan deras.


"tiga" lirih Aksa


Tit... Tit... Tit


Semua nampak mematung, menatap satu arah dengan degup jantung yang semakin berpacu.


Entah ini nyata atau halusinasi mereka, atau malah ini hanya tipuan yang akan merenggut kembali kebahagian mereka.


"detak jantung pasien kembali" teriak suster saat melihat pergerakan tangan dan monitor jantung milik Raya.


Dokter datang dan para suster meminta keluarga Raya dan Aksa menunggu diluar.


Mereka kembali bleng tanpa membantah apapun, Aksa sendiri tak peduli dengan keadaan tangannya sedikit pun yang keluar banyak darah.


...***...


Setelah beberapa menit Dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah yang cerah.


"ini pertama kali dalam hidup saya melihat mukjizat sebesar ini, ternyata dia masih menyayanginya hingga mengembalikannya kepada kalian"


"nona Rayana Putri dinyatakan kembali dan telah melewati masa kritisnya"


Nina langsung bersujud syukur dalam pelukan suaminya, Nico tak henti hentinya tersenyum bahagia.

__ADS_1


Sedangkan Aksa lebih dominan amat bahagia, sampai ingin menerobos ruangan itu kembali namun ditahan oleh Nico.


"bersihin luka lo, sebelum ketemu ade gue. Ganteng dululah baru ketemu tuan putrinya kami" ucap Nico lembut langsung dituruti oleh Aksa.


__ADS_2