
Happy Reading ❤️
Setelah meninggalkan restoran itu Raya berjalan tak tentu arah sambil menggenggam dua tiket konser yang ia siapkan untuk dirinya dan Aksa.
"suka sama kamu itu sakit, tapi lebih sakit lagi adalah menjauhimu" lirih Raya.
Ia menghentikan langkah kakinya Disebuah jembatan besar, memejamkan mata menikmati angin yang menusuk kulitnya.
"tuhan...kenapa harus se-tak adil ini kau menitip kebahagian yang datangnya hanya sementara" teriak Raya.
"secinta itukah kau, sampai bahagia pun kau buat sesementara ini untuk berada diperlukan mu tuhan" air mata Raya terus mengalir, luka yang ia rasakan sekarang seakan akan mematikan hidupnya.
Raya berjongkok memukul dadanya yang sesak karena menangis "aku cinta sama kamu, tapi aku takut cintaku juga sementara sa" lirihnya.
Hingga derap kaki menghampiri Raya "ngapain?" tanya seorang laki laki dengan tangan dimasukkan kesaku celana.
"lo mau bunuh diri" tanyanya kembali namun Raya tak bergeming.
Laki laki itu menarik tangan Raya agar menghadap dirinya " gue tanya, lo kenapa?"
Bukan menjawab, Raya malah memeluk tubuh laki laki itu yang tak lain adalah Nico.
"temenin gue nonton ya" sahut Raya mengalihkan pembicaraannya.
***
Konser musik telah dimulai, Raya berdiri disebelah Nico.
__ADS_1
"bang..." panggil Raya sambi mata yang terus fokus kedepan.
"hm"
"kalo gue gak bisa nonton, tolong lo gantiin ya"
"kenapa emang? Bukannya lo gak pernah mau gue yang gantiin"
"karena cuma lo doang yang ngerti kesukaan gue tanpa gue kasih tau"
"lo berantem sama Aksa" Tanya Nico yang seakan paham situasi yang dialami Raya.
"enggak kok, tapi gue harus relain dia buat bahagia tanpa memupuk luka" ucapan Raya membuat Nico kalut akan pikirannya.
"emang Aksa apain lo"
"dia gak ngapa ngapain bang, dia udah nemuin kebahagian yang semestinya dan itu bukan gue" lirih Raya dengan suara pelan, matanya sembab sangat terlihat.
"kalo ada masalah diselesain baik baik, jangan kabur gini. Lo tau sendiri Aksa cuma cinta mati sama lo" nasehat Nico.
"dan gue banget semua itu" sahut Raya.
"lo gak bakalan kemana mana kan?"
"gue gak bakalan kemana mana bang, gue akan selalu ada dan abadi" sahut Raya sambil tersenyum kecil.
***
__ADS_1
"akhhh sial sial sial" Aksa memukul pohon besar diluar restoran, akibat pukulan yang kuat membuat kulit kulit tangan Aksa terkelupas dan mengeluarkan darah.
"Aksa lo ngapain sih nyakitin diri sendiri gini" serga Sella yang sejak tadi menahan Aksa namun nihil, Amarah Aksa terus memuncak.
"lepasin atau gue patahin tangan lo" sarkas Aksa saat tangan Sella dengan lancang menyentuh dirinya.
"gue gak takut, karena gue tau ko gak bakalan nyakitin gue" sahut Sella dengan percaya dirinya.
Tatapan Aksa berubah menjadi menyeramkan, dengan kuat ia mencengkram pergelangan tangan Sella hingga ia menjerit kesakitan.
"awssss... A-Aksa sakit" rintik Sella berusaha melepaskan cengraman Aksa yang sangat kuat, pergelangan tangannya terasa remuk akibat cengraman itu.
"gue gak pernah main main sama ucapan gue dan gue gak peduli lo cewek sekalipun, gue bisa kapan aja habisin lo" ucap Aksa dengan suara yang sangat menyeramkan, membuat Sella merinding mendengarnya.
"A-Aksa le-lepas... I-ini sakit banget... Hisk" Sella mulai menangis, Aksa melihat Sella menangis pun bukan merasa kasihan malah sebaliknya ia muak dan menguatkan cengkraman itu.
"gak usah sok tersakiti lo, padahal lo udah hancurin kebahagian cewek gue... Sialan!" sarkas Aksa tak ada kelembutan lagi yang ia berikan pada Sella.
"ingat, gue gak akan segan segan habisin anak dirahim lo, asal lo tau" lanjutnya kemudian menghempaskan tangan Sella dengan kasar hingga tubuh gadis itu terdorong mundur.
"lo harus tanggung jawab Sa atau gue bakalan laporin semua ini sama om Jefri dan tante Asya"
"laporin aja gue gak peduli, gue gak mau tanggung jawab. Karena gue tau anak itu bukan milik gue"
"ini anak lo Sa dan lo gak bisa nyangka itu semua" teriak Sella didepan Aksa.
"tutup mulut lo, jangan pernah lo tinggiin suara lo dihadapkan gue" Aksa langsung mencekik leher Sella.
__ADS_1
"akhhhhh s-sa" suara Sella terbata bata.
"gue bisa bikin lo hilang suara sampai lo gak bisa ngomong apapun" Aksa melepas cekiknannya dan pergi meninggalkan Sella yang terbatuk mencari nafas.