AKSARA

AKSARA
RUA| 43


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Raya meremas sebuah dokumen yang membuat ia runtuh seketika, bukan takut hanya lebih belum siap.


Ia terdidik dibangku taman yang amat ramai dengan anak kecil yang bermain disana.


"kenapa harus kembali" lirih Raya sambil menatap nanar dokumen di tangannya.


"kenapa bahagia hanya seolah singgah, tanpa menetap"


"apa harus sekarang, tapi banyak hal yang belum Raya capai tuhan" menatap langit.


Flashback on:


Seorang Dokter menampilkan monitor serta catatan dokumen kearah Raya.


"m-maksudnya I-itu" suara Raya tercekat seakan sulit untuk keluar.


Dokter itu menganggukan sambil menghela nafas pelan "iya. Raya kamu kembali didiagnosa memiliki tumor dibagikan belakang otak" jelas Dokter.


"bukannya tumor itu udah hilang waktu Raya operasi masih SD dok" ucap Raya seakan masih belum percaya.


"memang sudah hilang Ray, namun tumor itu kembali menggerogoti sel bagian belakang otak itu sebabnya kamu mengalami mimisan yang gak biasa serta sakit pada bagian belakang kepala" jelas Dokter.


"apa Raya bisa sembuh dok" tanya Raya sedikit lemah.


"bisa. Jalan satu satunya ialah operasi dan kemoterapi, beritahukan ini kepada papa dan mama mu nak agar kamu bisa segera dioperasi" jelas Dokter itu kembali.


"keberhasilan dalam operasinya?"


"50/50 persen Ray, sama seperti dulu"

__ADS_1


"hidup diantara kematian" lirih Raya pelan.


Dokter itu menggenggam tangan Raya "disini saya sebagai dokter tapi jika menyangkut kamu saya akan menjadi ayah kedua setelah ayahmu nak. Sebagai adik ayah mu om akan selalu berusaha demi kehidupan mu" yapp dokter ini adalah adik ayah Raya bernama Sadam.


"kalo Raya minta nanti nanti aja operasinya gimana?" tanya Raya sambil menunduk.


"kemungkinan terbesar kamu akan mengalami sakit yang lebih parah dari sekarang dan tumor itu juga bisa menggerogoti sel tubuh lainnya"


"Raya sekarang ngerti, makasih om" ucap Raya.


"jangan lupa sampaikan pada papa dan mama mu" Sadam mengingatkan kembali, gadis kecil itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Raya pamit ya om"


"iya nak, hati hati"


Raya mencium tangan sadam dan keluar dari ruangan itu.


Setelah menutup pintu ruangan itu, kaki Raya langsung gemetar. Ia menutup mulutnya agar isak tangis tak keluar.


Flashback off


"gimana reaksi papa sama mama ya kalo tau Raya sakit lagi" ia memandang dengan kosong, tak lama ia berdiri dan pulang.


***


Raya melangkahkan kakinya mamasuki rumah dengan wajah seceria yang biasa ia tunjukkan.


"assalamualaikum epribadeh... Hello papa hero... Mama sayang" teriakan Raya melengking di rumahnya.


"Waalaikumsalam.... Ehhhh putri gelandangan papa datang" Adam menyambut Raya dengan pelukan hangatnya.

__ADS_1


"papa gak ada akhlak" batin Raya


Nico yang melihat pun menatap sinis "ck, giliran tuan putri datang kasih pelukan. Lah giliran Nico datang malah kayak ngajak baku hantam" sindir Nico.


"kami cowo, papa suka ilfil kalo peluk cowo. Mending papa peluk tuan putri papa ini" mengeratkan pelukannya sambil menggoyang kekiri kekanan seolah Raya adalah boneka.


"dasar papa tidak berprikeanakan" celetuk Nico.


"heehehhe abang cemburu pah" ucap Raya.


"masa cowo cemburu sih, ya udah Come on boy... Kita cuddle bersama" Adam membuka lebar satu tangannya agar Nico masuk kepelukannya.


Dengan senyuman Nico masuk Kedalam pelukan papa dan adik kesayangannya yang amat minim akhlak.


"anak papa udah gede semua...Raya papa bahagia banget" ucap Adam membuat Raya menurungkan niatnya untuk memberi tau perihal dokumen itu.


Tak lama Nina datang menemui ketiga orang kesayangannya.


"ehhhh pada pelukan ternyata...udah ah pelukannya kita makan yuk" seru Nina.


Ia menghampiri Raya "wajah Raya kok pucet sih" tanya Nina.


"tadi Raya gak enak badan mah, makanya pucet"


"loh loh loh kok gak kasih tau papa sih, kita panggil dokter ya" ucap Adam khawatir saat baru menyadari wajah anaknya.


"ihh gak usah pah, Raya udah mendingan kok" tutur Raya lembut.


"kamu tuh bandel, entar papa panggil dokter aja" kekeuh Adam.


"papa.... Gak usah Raya udah periksa. Kata om Sadam, Raya ini cuma kecapean makanya sakit" jelas Raya yang nyatanya adalah kebohongan.

__ADS_1


"makanya jangan begadang bocil, kan jadi sakit lo" celetuk Nico kemudian memeluk Raya sambil mengusap punggung gadis itu agar merasa nyaman.


Adam dan Nina tersenyum melihat anaknya yang amat akur, walau berantem hanya karena hal sepele namun kasih sayang mereka amat besar.


__ADS_2