
Happy Reading ❤️
Empat bulan lamanya sudah hubungan Aksa dan Raya terjalin harmonis walau kadang ada percekcokan kecil.
"Asaa Aaaaaaaa mau itu ya ya ya ya" menunjuk permen kapas yang dijual ditaman.
"byby gak boleh kebanyakan makan itu, entar sakit giginya" peringat Aksa, namun gadis itu tetap menggoyangkan tangannya "Asa plishhhh ya, terakhir kali deh"
"fhuhh ya udah, janji yang terakhir ya"
"iya sayang" Raya memeluk Aksa sebentar kemudian membeli permen kapas dengan wajah bahagia.
Selesai membeli permen kapan Raya ingin menyebrang menyusul Aksa tanpa memperhatikan kiri kanan.
"RAYAAAAA" teriak Aksa saat melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju kekasihnya.
Raya yang di teriaki pun menoleh kearah Kanan dan seketika kakinya menjadi kaku tak bisa bergerak, ia hanya memejamkan mata dan berdoa.
Citttttttttt
Mobil itu langsung menggerem mendadak, tubuh Raya pun seketika tumbang walau pun mobil itu belum sempat menabraknya.
"woyyy mau mati lo" terisak seseorang dari dalam mobil. Tak ada jawaban dari Raya, ia hanya terdiam membisu dengan wajah pucat pasi.
Aksa langsung menghampiri Raya "by kamu gak papa kan" wajah khawatir tercetak jelas di wajah tampan itu.
Tangan Raya gemetar meraih tangan Aksa "mah...."lirih Raya memanggil mama nya "it's okey by, kita akan pulang sayang" sahut Aksa.
"kalo cewe lo mau bunuh diri cari tempat lain gak usah didepan mobil gue" sentak laki laki itu membuat Aksa emosi. Ia berbalik dan membuka pintu mobil dengan kasar.
__ADS_1
Menggeret laki laki itu keluar dan langsung memukulnya hingga tersungkur kejalanan.
Bugh
Bugh
Bugh
"sekali lagi lo bilang gitu, gak cuma pukulan ini yang lo dapat. Tapi kuburan yang bakalan jadi peristrahatan lo sekarang" Ancam Aksa kemudian mendorong tubuh laki laki itu dengan kasar.
"Asa" panggil Raya dengan pelan, Aksa menoleh pada sumber suara terlihat tangan gadis manis itu gemetar ingin meraihnya.
"gak papa kan" tanya Aksa.
"sakit" pandangan Raya teralih pada lututnya yang lecet karena terjatuh diaspal.
"kita ke rumah sakit ya"
Namun di perjalanan Raya menjadi pendiam dan tak banyak tingkah berbeda dari biasanya membuat Aksa sedikit khawatir.
Tanpa terasa mobil itu telah sampai di rumah Raya, ia kembali menggendong gadisnya memasuki rumah.
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam Aksa, Raya kenapa sayang" Nina sedikit kaget dengan keadaan Raya.
"Raya hampir ketabrak mah" jelas Aksa, Nina mengangguk dan menyuruh Aksa mengantar kekamarnya.
"Aksa pulang aja, biar mama yang urus Raya" pinta Nina lembut "tapi mah Aksa takut Raya kenapa kenapa" sahut Aksa.
__ADS_1
"tenang sa, Raya hanya perlu mama" ucap Nina.
"tapi mah"
"plishh nak untuk kebaikan Raya" ucap Nina sekali lagi, Aksa hanya bisa menuruti walau hatinya enggan untuk meninggalkan gadis itu. Ia berpamitan pada Nina dan Raya untuk pulang.
"aku pulang dulu by, semoga mimpi indah cantik" mengecup pelipis Raya dan pamit pergi.
***
Dikamar Raya tampak gadis itu sama sekali enggan melepas pelukannya pada Nina.
Sorot ketakutan dimata ya kembali muncul setelah sekian lama hilang.
"Raya takut mah" cicit Raya memeluk Nina
"shutttt, gak usah takut sayang mama di sini" sahut Nina dengan mengusap lengan anaknya.
"semuanya mengerikan mah, Raya... Raya takut itu kembali lagi" tangis ya pecah setelah lama menahan gejolak ketakutannya.
"hey sayangnya mama, kamu kuat kan. Kamu hanya takut sementara nak, setelah itu akan hilang" jelas Nina.
"gimana nanti Raya gak bisa liat mama, papa, sama abang. Raya takut mah takut banget.... Semuanya gak semudah itu buat di lupain"
"darah, jalanan, dan orang itu sampe sekarang terus menghantui Raya mah. Kejadian satu tahun yang lalu buat Raya trauma berat mah" lanjutnya dengan suara yang serak dan tercekat.
"shutttt tenang sayang tenang" Nina mengusap punggung anaknya hingga seorang Dokter muncul bersama Adam.
Dengan pelan tanpa sepengetahuan Raya, Dokter itu menyuntik obat pemenang untuknya.
__ADS_1
"Traumanya kembali tolong beri dia ketenangan dan hiburan. jangan lupa obatnya harus ia kembali konsumsi agar tak memengaruhi psikis ya" jelas Dokter tersebut setelah memeriksa Raya.
Adan dan Nina kembali menelan kesedihan itu kembali setelah ingatan itu hilang dan sekarang kembali lagi.