AKSARA

AKSARA
RUA| 56


__ADS_3

Dengan mengembangkan senyuman Raya mengangkat kertas perahu yang berhasil dibuat.


Tak hanya kertas perahu, juga ada origami burung berwarna warni yang dikumpulkan Raya sampai memenuhi dus yang ukuran amat besar.


"hahhh akhirnya selesai" Raya bertepuk tangan, ia menyelipkan kertas note dan sebuah barang kecil juga mengisi dus besar didepannya.


"kado Aniversarry terbaik untuk Asa dari Raya" membungkus dus itu dengan kertas kado yang cantik.


Sampai suara pintu menghentikan kegiatannya.


Ceklek.


"sayang" panggil Nina tersenyum melihat putrinya.


"mama... Sini bantuin Raya bungkusin  kado buat Asa"


Nina menghampiri putrinya dan ikut membantu kegiatan yang seharian ini menyita waktu bersantai seorang Raya.


"kok bikin kado? Emang Aksa ulang tahun lagi" tanya Nina.


"bukan mah"


"terus apa dong? Mana banyak banget kadonya" Ucap Nina dengan kekehan kecil melihat antusias putrinya.


"Aniverssary yang 182 harinya Raya sama Aksa, gak kerasa bareng Aksa lama banget" Raya tersenyum kecil.


"seneng deh mama liat kamu gini, terus senyum gini ya sayang" Ibu dua anak itu mengelus kepala Raya dengan wajah haru.


Raya menganggukan kepalanya "pasti dong mah, tugas Raya harus selesai dalam cerita ini"


Nina tersenyum namun dihati ia amat tertegun mendengar ucapan Raya "singkat adalah kebenaran yang paling  panjang tak bisa dilupa" batin Raya.


"minum obat udah" tanya Nina.


"udah mah"


"kalo udah mama tinggal kebawa ya, kan udah selesai juga kadonya"

__ADS_1


"iya mama, iya"


Nina langsung meninggalkan kamar Raya menuju kamarnya, disaat itulah ia menutup mulutnya agar suara tangisan tak terdengar.


"tuhan beri cinta dalam kisahnya, jangan membawa dengan luka" lirih Nina.


***


"Byby" panggil Aksa bermanja manja saat ini.


"manja banget sih Sa, entar kalo aku gak ada mau manja sama siapa lagi" Raya mengusap rambut Aksa.


"emang mau pergi kemana sih by, biar aku ikut"


"eitttssss gak boleh sayang, itu khusus untuk aku. Buat Me time" jawab Raya.


"ishhh pelit" delik Aksa.


"cie marah nih" mencolek pipi Aksa dengan senyum menghias wajah cantik Raya.


"bialin, Byby jahat.... Gak mau ajak aku" mata Aksa berkaca kaca mulai mengeluarkan mode baby big.


Namun dengan kesal Aksa mengabaikan sogokan itu "gak mau, aku marah sama kamu" ketus Aksa.


"serius gak mau peyuk, mumpung kepengen nih" goda Raya lagi.


"gak mau by, aku gak bakalan tergoda" bantah Aksa namun lirikan matanya tak bisa membohongi.


Jika ia amat ingin pelukan hangat Raya "udahhh dong ngambeknya, cini peyuk sayang" Raya terus merentangkan tangannya.


"Gak mau" pekik Aksa menguatkan diri.


"ya udah kalo gak mau, aku peluk kang bakso Aja" Raya menurunkan tangannya kemudian dia berbalik ingin keluar dari apartement Aksa.


Tapi sebelum semua itu terjadi Aksa menahan lengan Raya dan langsung menyudutkan gadis itu ke tembok.


"bilang apa tadi" tanya Aksa.

__ADS_1


"peyukk kang bakso aja" jawab Raya.


"eittt... Udah berani ya sekarang. Mainnya ancem ancaman" Aksa memencet hidung Raya dengan gemas.


"udahhh sana... Ngapain gini. Hushhh husss, aku mau peyuk kang bakso" Raya berusaha melepaskan diri dari kukungan kekasihnya.


"berani" tantang Aksa.


"beranilah masa takut" jawab Raya.


Aksa langsung menggendong Raya ala koala, memeluk tubuh kecil menggemaskan.


Apalagi wangi buah bahan yang menguat dari tubuh Raya benar benar seperti nikotin yang mencandukan.


"katanya gak mau peyuk, kenapa sekarang peyuk aku" tanya Raya.


"biar gadis nakal ini gak kabur kabur" sahut Aksa membuat Raya tertawa renyah.


"aku gak nakal, kamunya aja sok jual mahal"


"kalo aku marah itu di rayu, dibujuk, dicium cium gitu, disayang sayang bukan ditinggalin" akhirnya keluar keluhan Aksa yang ditunggu Raya sejak jadi.


"jadi intinya mau di perhatiin gitu" tanya Raya.


"ya iyalah" jawab Aksa membawa Raya menuju sofa dan mendudukannya dengan lembut.


"ahahha maaf ya sayang" Raya mengecup pipi Aksa dengan singkat.


"apapun nanti kedepan, kamu harus dengerin aku dulu ya jangan langsung marah" pinta Aksa tiba tiba.


"apapun mau kamu, aku bakalan turutin"


Aksa mencium telapak tangan Raya berkali kali, setelah itu merebahkan kepalanya diatas paha Raya.


"jangan ingkar" Aksa memberikan jari Kelingkingnya agar saling bertautan.


"iya sayang" mengecup kening Aksa.

__ADS_1


"terlalu takut dengan kepergian " batin mereka bersama


__ADS_2