
Happy Reading ❤️
"serius lo" tanya Aldi menata Nico tak percaya.
"Lo salah milih lawan Sa, elo terlalu kejam ngelakuin itu ke ade gue Aksa" sarkas Nico, Aksa masih terdiam tak bersuara.
"gue ingetin sekali lagi! Jangan berani nyentuh atau lukain ade gue sedikit pun. Karena lo gak bisa liat ketulusan di mata ade gue, elo terlalu bego sa bego" tekan Nico disetiap ucapannya.
"gu-gue..."Rasa nya kelu saat ingin meminta maaf pada Nico dan salah persepsi dalam menilai gadis kecil itu.
" lo-"Nico ingin memukul kembali namun terhenti karena suara seseorang.
" cukup" teriak seseorang dari jauh.
"ngapain lo kesini" tanya Nico.
"hehehe kabur bang" Raya cengengesan menjawab ucapan Nico.
"gila lo, kaki masih luka malahan ngelayap lo. Kalo mama tau di cincang lo" Ancam Nico.
Raya memutar bola matanya dan melewati tubuh Nico, ia mengulurkan tangan pada Aksa.
"Ayo"
Aksa meraih tangan kecil itu untuk membantu nya berdiri, dengan sekuat tenaga Raya membawa tangan Aksa bertengger di bahunya dan membantunya duduk.
"ngapain lo bantuin tu orang? Lagian gimana lo bisa tau gue disini" tanya Nico sinis sambil menatap Aksa.
"ya bantuin sesama manusia, gue ngikutin lo" sahut Raya.
"emang lo gak marah Ray, dengerin semuanya" tanya Alam hati hati karena tatapan laser dari Nico mengintai semua orang.
"enggak, lagian gue marah juga percuma. Gak bakalan jadi berlian juga kalo gue marah" sahut Raya.
__ADS_1
"lo hebat so bisa lompat dari sana, kapan kapan ajarin gue" celetuk Aldi sambil merangkul leher Raya.
"mau gue putusin tangan lo hah" Ancam Nico melihat tangan Aldi yang santai merangkul Adik nya.
"sorry bro hehehe"
"elo mah emang hobby mencari kesempatan dalam kesempatan" Aiden menatap jengah sahabatnya yang amat somplak.
"amal pahala bikin orang emosi" sahut Aldi.
"dapat ilmu dari mana lo ngomong gitu" Alam melempar bantal kearah Aldi.
"kak ada kotak P3K" tanya Raya pada Reynan.
"tunggu" Reynan berdiri dan mengambil kotak obat di laci lemari.
"nih"
"thanks kak"
"perasaan gue abang lo, ngapain lo ngobatin ni curut" menunjuk Aksa.
"elo gak parah jadi diem, kasian calon masa depan gue babak belur" menatap wajah Aksa penuh lebam karena pukulan Abangnya yang laknat.
Aksa menyinggungkan Senyumannya "sorry" lirih Aksa yang masih terdengar oleh Raya.
"oke gak papa"
Dan dengan sengaja Raya menekan luka di wajah Aksa.
"akhhhhh" pekik Aksa.
"sekali lagi lo teken luka gue, bunting lo" bisik Aksa sambil menggigit telinga Raya tanpa siapa pun mengetahuinya.
__ADS_1
"enggh" desah Raya sedikit tertahan karena tak ingin terdengar oleh semua orang disana.
"******* lo terlalu merdu baby" mengecup leher jenjang Raya dengan sensual.
"A-Aksa enghh" mendorong Aksa namun tak bisa.
"Mine" bisik Aksa kemudian menjauhkan wajahnya, Raya sudah merah padam mendengar bisikan bisikan setan itu.
"****" umpat Aksa malah bergairah. Ia menahan semuanya agar tak terlihat.
***
Aksa menggeret Raya menuju apartement nya dengan meminta izin langsung pada Nico.
Walau berat hati ia tak sanggup melihat adiknya dengan memelas memohon izin, terpaksa ia mengizinkan.
Dan saat masuk apartemen Aksa langsung mendorong tubuh Raya hingga bersandar ditembok.
"aksa mmphtt-"
Aksa langsung ******* pelan dan lembut bibir manis milik Raya yang membuatnya kecanduan lebih dari nikotin.
Semakin lama semakin menuntut, hingga Aksa menggigit bibir bawah Raya agar mulutnya dengan bebas mengabses isi mulut Raya.
Raya memukul dada Aksa karena hampir kehabisan nafas, Aksa langsung melepaskan tautan mereka.
Aksa beralih ke leher putih Raya mengecupnya dengan lembut dan sensual tanpa meninggalkan tanda disana.
"lo wangi, gue Suka" Aksa menghirup dengan rakus aroma Vanila yang menguar dari tubuh Raya, membawa tubuh Raya menuju sofa dan mendudukanya di pangkuan Aksa.
Raya yang malu hanya menenggelamkam wajahnya di leher Aksa.
"sorry salah paham sama lo, sekarang lo mikil gue dan tanpa penolakan" ucap Aksa mengerahkan pelukannya.
__ADS_1
Raya menganggukan kepalanya sambil tersenyum bahagia akhirnya bisa memiliki Aksa.