AKSARA

AKSARA
RUA|52


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Keadaan Raya saat ini semakin menurun, sehingga mengharuskannya untuk melakukan perawatan intensif.


Dengan tubuh yang lemah Raya tertidur di ranjang rumah sakit dan selang infus tertanam dilengannya.



Ceklek


Pintu ruangan Raya terbuka, Adam dan Nina terlihat lesu dan sedih saat memasuki ruangan Raya saat ini.


Secara perlahan Nina mendekati ranjang Raya, menggenggam tangan putih susu itu dengan lembut penuh kasih sayang.


"aku gak kuat mas, liat keadaan putri aku terus begini" ucap Nina pelan.


"kita harus kuat sayang, demi kesembuhan Raya. Dia peri kecil kita satu satunya" tatapan tajam kini berubah amat sayu.


"aku gak sanggup liat tangan ini kembali di tusuk jarum jarum yang menyakitkan itu mas, mas tau sendiri Raya selalu nutupi rasa sakitnya demi menghilangkan rasa khawatir kita" kini tangan Nina mengusap pelan kepala Raya yang tertidur dengan tenang.


"dan dia pula yang hidup diantar kematian, kamu tau. Jantung ini rasanya akan terlepas saat melihat peri ku terlihat lemah seperti ini" Adam mengambil tangan Raya dan mengecupnya.


Mata Adam memerah menahan air mata, sekelas kerasnya Adam, sekuat kuatnya Adam, setegar apapun hatinya, dia akan jatuh lemah saat melihat putrinya seperti saat sekarang.


"peri kecil ku, putri ku, kesayangan ku. Aku bersumpah Nin, aku akan berjuang untuk kesembuhan Raya" menatap Raya dengan penuh harap.


"kita juga harus berdoa mas, agar Allah memberikan anugra yang indah untuk kancil nakal ini" menatap Raya, mengingatkannya akan kejailan Raya saat bersama mereka.


"iya sayang" Adam memeluk Nina.

__ADS_1


"maafin Raya, kembali membuat mama sama papa sedih sama keadaan Raya" batin Raya.


"tuhan jika tak besar maka beri kesempatan kecil agar aku bisa bertahan" lanjutnya.


Sebenarnya Raya tak tidur, ia hanya berpura pura demi menyembunyikan rasa sakitnya.


Ia tak ingin membuat Adam dan Nina semakin khawatir dengan keadaannya, padahal ia sendiri hampir menangis menahan sakit dikepalanya.


***


Aksa menatap bunga dan kue pemberian Raya dua hari yang lalu, ia juga mendengar bahwa Raya tak kembali masuk sekolah.


"hal yang paling mematikan adalah melupakan mu dan hal paling menyakitkan adalah membuatmu terluka" ucap Aksa sambil menatap kue tersebut.


Ia juga menggenggam notes yang terselip dibunga mawar indah rangkaian Raya.



"kapan Ray! Sampai kapan! Terlalu sakit banget liat kamu bahagia tapi bukan aku penyebab kebahagian kamu" lirihnya, air mata yang sejak tadi ia tahan kini runtuh begitu saja.


"pasti cape dan sakit ya bikin kado gini buat aku" Aksa memotong kue buatan Raya dan memakannya dengan lahap.


Air matanya tak berhenti, ia memakan kue itu dengan air mata serta kerinduan yang membuncah.


"kamu terlalu sempurna cantik, kamu..... Bahkan tau kesukaan aku, tapi dengan tega aku usir kamu sayang. Aku kangen kamu Ray"


"maaf" teriak Aksa, runtuh sudah pertahannya. Dengan erat ia memeluk mawar cantik itu, seolah itu adalah Raya-nya.


" Ray......aku mau kembali, tapi aku terlalu pengecut untuk bilang itu semua"

__ADS_1


"kamu kelemahan paling fatal yang aku miliki Rayana Putri kesayangan Aksa Mahendra" lanjut Aksa.


Tak lama pintu kamar Aksa terbuka, menampakkan seorang gadis dengan nampan ditangannya.


"Aksa" panggil gadis itu namun tak digubris oleh Aksa.


"lo gak bisa gini terus Sa, lupain Raya." ucap gadis itu, ya dia adalah Sella.


"gue gak bisa Sell, liat tatapan Raya aja buat aku runtuh. Gimana mau gue lupain gadis kesayangan gue itu Sell" Ungkap Aksa.


Dengan perlahan Sella meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di depan Aksa.


"gue tau lo sulit lupain Raya, tapi gue bakalan bantuin lo lupain semua itu" dengan santai Sella memeluk Aksa dari belakang, sedangkan Aksa tak ada penolakan sedikit pun. Tapi ia tak juga membalas pelukan Sella.


"apa gue bisa lupain cahaya gue, saat ini terlalu gelap Sell buat gue" lirih Aksa.


"gue yakin lo bisa"


"kemungkinan yang tak mungkin" batin Aksa.


Sella tersenyum kemudian melepas pelukannya, ia menyodorkan minuman pada Aksa.


"minum dulu ya" menyodorkan gelas kemulut Aksa, dengan perlahan Aksa meminum minuman itu.


Namun entah kenapa tiba tiba tubuh Aksa menjadi terasa berbeda, terasa panas dan menyiksa.


"Sa..." panggil Sella mendayu.


"bantuin gue" suara Aksa memberat.

__ADS_1


"Come on baby, I wanna play with you" bisik Sella.


__ADS_2