AKSARA

AKSARA
RUA| 42


__ADS_3

Happy Reading ❤️


"bentar lagi Asa udah lulus, Raya pasti bakalan jarang ketemu Asa" Raya menyenderkan kepalanya pada bahu Aksa.


Laki laki itu tersenyum lembut sambil mengusap kepala Raya dengan sayang "akan ada setiap waktu bersama kamu by, karena aku gak mau satu hari tanpa liat kamu"


"kamu bakalan kuliah?" tanya Raya menatap mata Aksa "enggak by, aku langsung gantiin ayah di perusahaan"


"Asa bakalan jadi CEO" tanya Raya, Aksa menganggukan kepalanya.


"pasti nanti sekretarisnya cantik.... Huaaaaa gak mau Sa, gak mau." rengek Raya membuat Aksa gemas bukan main.


"kalo gak ada sekretaris siapa yang bantu handel kerjaan aku sayang" ucap Aksa menggoda Raya.


"kan bisa cowo Asa, ahhh gak mau, gak mau, gak mau Sa... Plishh Huaaaa jahat banget sih" tangis Raya bersembunyi dibalik dada bidang milik Aksa.


"pacar siapa sih kok unyis banget" mencubit gemas pipi Raya tak lama setelah itu Aksa langsung menyedot pipi Raya menggunakan mulutnya.


"kayak jelly" batin Aksa


"huaaaaa..... Pipi Raya kempes" seraya mengusap pipinya, sedangkan Aksa bukan merasa bersalah malah semakin gemas menciumi pipi Raya yang sudah memerah karena ulahnya.


"Gemes tau gak" menyudahi aktifitasnya.


"Gemes Gemes pipi Raya sakit"


"ughhh maaf sayang" mengusap lembut pipi cubby kesayangannya.


"maaf tidak diterima" sahut Raya bersedekap didada.


"kenapa hm" tanya Aksa.

__ADS_1


"karena Aksa mau cari sekretaris seksi" kesal Raya membuat tawa Aksa menggelegar.


"ahahhaha ya ampun makin unyis deh, aku bohong sayang" sahut Aksa sambil tertawa.


"Aksa aaaa..." memukul lengan Aksa dengan beruntun.


"serius by, aku cuma godain kamu doang" menahan kedua tangan Raya, mengarahkan tangan Mungil itu untuk melingkar ditubuh miliknya.


Raya mendongak menatap Aksa yang lebih tinggi dari dirinya "serius" cicit Raya.


"serius by" memeluk tubuh Mungil Raya dengan lembut dan penuh sayang.


"aku sayang kamu, sampai kamu membenci ku" batin Aksa


***


Tes


Tes


Tes


Ia membasuh darah yang terus mengalir "kok lama banget sih ngalirnya" ucap Raya.


Kepalanya terasa sakit seakan mau pecah "mana pusing banget lagi, apa panas dalam kali ya" Raya menerka neraka.


Setelah darah dihidung berhenti, Raya menumpal sebelah hidung ya menggunakan tisu.


"kok pusingnya makin parah ya" sambil meremas rambutnya dan satu tangannya bertumpu pada wastafel.


"tangan aku juga dingin banget, kaki aku lemes" gumam Raya, saat tubuhnya akan ambruk Dea dan Rania datang. Langsung menahan tubuh Raya agar tidak jatuh.

__ADS_1


"wajah lo pucet banget Ray, ke rumah sakit aja ya" Dea memperhatikan wajah Raya.


"e-enggak mau" jawab Raya sedikit lemas.


"lo lemes Raya mending pulang terus kerumah sakit" timpal Rania.


"bawa gue ke UKS aja ya, gue pengen istirahat" pinta Raya memelas tak ingin lagi mencium bau obat obatan di rumah sakit.


"ya udah kalo lo mau nya gitu" sahut Dea pasrah.


Mereka memapah Raya menuju UKS, membandingkan tubuh gadis itu pada ranjang.


"lo beneran gak papa" tanya Rania mulai khawatir melihat bulir keringat di kening Raya.


"gak papa, gue udah biasa. Kecapean doang Ran, istrahat bentar nanti juga bakalan sembuh kok" sahut Raya berusaha menenangkan.


"lo gak bohongin kita kan" Dea menelisik wajah Raya "gue enggak bohong sumpah" mengeluarkan dua jari andalannya (v).


"kita temenin lo di sini ya" ucap Rania menarik selimut menutupi tubuh Raya.


"balik aja bentar lagi pelajaran bu Rahayu bahaya kalo lo berdua bolos, sana ke kelas" usir Raya dengan wajah tersenyum.


"gak kita di sini aja nemenin lo" kekeuh Dea.


"kelas aja De, Ran, gue bisa kok sendiri" Raya berusaha agar mereka pergi, ia ingin meraung menahan sakit di kepalanya yang amat mencengkram.


"gak Ray, kita disini nemenin lo. Titik" final Dea, Raya mengangguk pasrah. Ia menutup matanya menggunakan lengan.


Air matanya merebes tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya, mereka tak menyadari Raya yang menangis dalam bisu.


Bibirnya tak bergetar, tak ada suara. Sepi itulah yang mereka liat dari Raya, padahal Raya menangis dengan segala ucapan didalam hati agar tangisannya tak terdengar.

__ADS_1


"papa,, sakit banget" batin Raya mengingat nama Adam jika sudah sakit seperti ini.


__ADS_2