
Langit tampak begitu biru.Sama sekali tak ada awan, membuat cuaca siang itu terasa cerah.
Seorang pria yang duduk bersandar dikursi pimpinan yang empuk tampak asyik memandang langit melalui jendela besar diruangannya.
Pikirannya berlari ke istrinya, yang mungkin sedang tidur siang di apartemen.
Sesekali bibirnya tersenyum, mengingat kegiatan mereka semalam.Istrinya yang terus merengek memintanya berhenti membuatnya semakin bersemangat.
Entah kenapa, percintaan kali ini terasa berbeda, seperti ada sesuatu yang membatasi gerakannya.
Istrinya pun entah kenapa tampak lebih berisi yang semakin membuatnya gemas.
Kapan istrinya hamil, padahal hampir tiap malam terus di gempurnya.
Hampir 6 bulan mereka menikah, tapi belum juga ada tanda2.
"maaf Pak, nona ini memaksa masuk,"
Bayu melirik ke arah pintu yang terbuka.Di sana berdiri Samuel asistennya dan wanita ramping berambut coklat sedang menatapnya.
"tak apa Sam, keluarlah.." kata Bayu tanpa menoleh
Samuel mengangguk dan menutup pintu.
"susah sekali bertemu denganmu!" keluh Nadia
"ada perlu apa? aku sedang sibuk.." kata Bayu dingin
"aku ingin bertemu denganmu..."
"kamu sudah bertemu denganku, sekarang pergilah.."
"aku ingin bicara.."
"apa? bicaralah, waktu ku tak banyak..!"
Nadia menatap Bayu jengah.Betapa lelaki itu telah berubah.Dingin.Nadia begitu merindu lelaki yang dulu memujanya ini.Sekarang semua tinggal kenangan dan penyesalan.
"aku akan ke Belanda..." lirih Nadia
"lalu?"
"bisakah menemaniku sehari saja.."
"sudah kubilang aku tak punya banyak waktu!"
potong Bayu menahan emosinya.
"temani aku dan aku akan pergi selamanya dari hidupmu.." ucap Nadia tak menyerah
Bayu memutar kursinya, menghadap wanita yang dulu pernah begitu membuatnya tergila2, menatapnya dengan tajam.
"apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
"hanya ingin bersamamu sehari saja..."
Bayu menatap mata indah yang berkaca2.
"baiklah, tapi berjanjilah untuk pergi selamanya dari hidupku..aku sudah bahagia dengan istriku.."
Nadia tersenyum.Sungguh senang permintaannya dituruti oleh Bayu.
Bayu beranjak berdiri dan berjalan ke arah pintu, baru setengah jalan, Nadia menubruknya untuk memeluknya.
"terimakasih..."
"hallooo..."
Pintu terbuka lebar, sesosok wanita tampak tertegun menatap pemandangan di hadapannya.
Bayu dan Nadia tampak terkejut, dan Mitha lebih terkejut lagi.
Suami dan mantan kekasihnya tampak berpelukan.
Panas rasa dimatanya menahan airmata.
Siang ini ia berencana mengejutkan suaminya untuk mengajaknya makan siang seraya memberitahu berita kehamilannya yang selama ini disembunyikannya.
Tapi justru sebaliknya, malah dirinya sendiri lah yang mendapat kejutan besar dari suaminya!
"maaf aku mengganggu..." Mitha menunduk, berusaha sekuat mungkin menahan airmatanya yang membobol ingin keluar.
__ADS_1
"ini tidak seperti yang kamu pikirkan.." jelas Bayu, mendorong tubuh Nadia menjauh.
Tanpa berkata2 Mitha berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruangan kantor suaminya itu.
"sayang, tunggu..!" teriak Bayu
Mitha berlari menuju ke lift dan segera menutupnya sebelum Bayu berhasil mengejarnya.
Saat Lift sampai di lobi, Mitha bergegas keluar, dengan setengah berlari,tak peduli lagi dengan pandangan orang2 yang menatapnya bingung, penuh tanda tanya.
"non..." panggil Pak Saleh melihat istri Tuan mudanya itu terus berjalan tak peduli dengannya.
Pak Saleh mengejarnya, saat hendak meraih tangan nona nya itu, Mitha malah berteriak.
"jangan halangi aku! urus saja Tuanmu yang brengsek itu!" teriak Mitha
Pak Saleh terkejut melihat nona nya.Wajahnya penuh dengan air mata.Ada apa sebenarnya? Apa mereka bertengkar?
Pak Saleh hanya terdiam saja saat Mitha naik ke taksi yang kebetulan lewat.
"hentikan dia!" teriak Bayu berlari keluar dari gedung saat taksi mulai berjalan pergi.
"sial!" maki Bayu melihat taksi mulai menjauh memasuki lalu lintas yang ramai.
*****
Mitha memandang ke sekeliling.Tak banyak orang di taman kota ini, sehingga ia bebas bisa menumpahkan air matanya.Sedih,kecewa,marah, semua bercampur menjadi satu.
Mitha duduk bersandar dibangku taman,dibawah pohon akasia yang rindang.
Ditariknya napas dan dihembuskannya perlahan.
Perutnya terasa kram, seolah anaknya didalam kandungan bisa merasakan sakit ibu nya.
"apa yang harus ibu lakukan..." lirih Mitha
Sungguh, ia tak mau kembali ke suaminya.Dugaannya selama ini terjawab sudah.
Bayu dan Nadia memang masih saling mencintai.
"Ya Tuhan..." isak Mitha , air matanya menetes lagi
"kamu boleh bersandar dibahuku kalau mau..."
"kenapa kamu menangis ?" tanya Fahri mengusap air mata Mitha yang tak berhenti mengalir ke pipinya yang halus.
"aku malu... aku mencintai pria yang tak pantas untukku..." isak Mitha
"dia yang tak pantas untukmu.." hibur Fahri
Mitha tersenyum mendengarnya.
"bawa aku pergi.. aku tak mau bertemu dengannya lagi..." lirih Mitha , meraih tangan Fahri dan mengenggamnya.
" kenapa Mitha ? apa dia menyakitimu?"
"aku hanya tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka..."
"apa?" Fahri menatap Mitha tak percaya.
" tolong bawa aku pergi..." pinta Mitha mengiba
Mitha berdiri, menarik tangan Fahri supaya ikut berdiri bersamanya.
Fahri membulatkan matanya, melihat penampilan fisik Mitha.
"kamu hamil ?" tanya Fahri setengah berteriak
" iya..aku hamil anaknya dan aku tak ingin dia tahu, ayo..kita pergi..kita pergi yang jauh..."
*****
"masuklah..."
Fahri membuka pintu sebuah apartemen.Apartemen miliknya yang sudah lama tidak dipakai, tetapi tetap terawat karena ada petugas yang setiap 2 minggu datang untuk membersihkannya.
"rumah siapa ?" tanya Mitha bingung melihat ruang apartemen yang mewah.
"apartemenku, hanya investasi.." jawab Fahri masuk ke dalam menyusul Mitha.
"duduklah,... mau minum apa?" tanya Fahri lembut
__ADS_1
"air putih saja..." jawab Mitha berjalan berkeliling, melihat isi apartemen yang menurutnya sangat mewah dan berkelas.
"kamu boleh tinggal disini kalau kamu mau.."
" aku akan mencari pekerjaan dan membayar uang sewa..." kata Mitha membuat Fahri tertawa
Diletakkannya segelas susu dingin.
"tidak ada yang mau menerima wanita hamil.."
"kalau begitu aku mau bekerja di resto mu saja.."
Fahri duduk menatap Mitha dengan sorot mata geli
"aku tidak menerima pegawai baru.." tolak Fahri
"dasar pelit sekali.." gerutu Mitha.
Mitha berdiri di sisi jendela besar yang membuatnya bisa melihat kesibukan kota dibawahnya.
"minum dulu..tak perlu khawatir..."
Mitha menurut, berjalan mendekat ke arah sofa, meraih gelas dan meneguknya dengan cepat.
" mau lagi ?"
"tidak.. terimakasih.." geleng Mitha
"kamu bisa tinggal disini, aku akan menyuruh orang membeli semua barang2 kebutuhanmu..."
Mitha hanya terdiam mendengar Fahri yang terus berbicara, sesekali kepalanya mengangguk.
"dia benar2 membuatmu berubah," kata Fahri
" aku masih Mitha yang dulu.." elak Mitha
" kamu sudah berubah bukan Mitha yang kukenal dulu berani menghadapi apapun.."
Mitha menunduk.Fahri benar2 mengenal siapa dirinya, dirinya yang dulu bukan yang sekarang.
Mitha yang sekarang adalah wanita yang penurut,wanita yang terlalu hati2 takut dengan segala sesuatu.Bayu begitu banyak merubah Mitha.
"apa kamu sudah periksa?"
Mitha menggeleng pelan.
"dia tidak tahu aku hamil.." lirih Mitha
Fahri menarik napasnya menahan marah.Benar2 dia tak mengerti dengan pasangan ini!
"kamu harus periksa ke dokter kandungan, karena ini kehamilan pertama.. sekarang istirahatlah, nanti sore aku akan mengantarmu ke dokter..."
" terimakasih..."
"kamu tak perlu khawatir lagi,..aku akan bersamamu.." ucap Fahri tersenyum
Ditepuk2nya punggung tangan Mitha pelan.
"aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu ini..."
"jadilah wanita yang kuat, itu caramu untuk membalasku..."
*****
" mencari istriku saja kamu tidak becus!"
Bayu membanting semua benda diatas mejanya.
Samuel menghela napasnya.Tuannya ini kumat lagi, bahkan lebih parah dari saat dia ditinggalkan kekasihnya dulu.
"kami akan mencarinya lagi Pak..mohon tenanglah.." kata Samuel bersabar
"Bagaimana aku bisa tenang sialan?!"
Bayu semakin mengamuk.
"kami pasti akan menemukan istri anda Pak.."
aku harus menelepon Tuan Besar, batin Samuel.
"tunggu apalagi kamu masih berdiri disitu??"
__ADS_1
Bayu melotot marah, Samuel pun bergegas keluar ruangan.
*****