Aku Atau Dia

Aku Atau Dia
#part 22


__ADS_3

"mana istriku?"


Bapak dan Ibu Surya mengalihkan pandang dari acara tv yang sedang mereka tonton.


"istrimu tidak ada.." jawab Bu Surya pendek


"apa?" Bayu menaikkan alisnya


"Mitha pergi bersama Sherly," jelas Pak Surya kembali mengalihkan pandangnya ke acara tv


Bayu bergegas duduk di sofa bersama orangtua nya.


"ayah, ibu...jika aku membeli rumah, apa Mitha boleh pulang bersamaku?"


"tidak!" tolak Bu Surya mentah2.


"tapi mengapa??" keluh Bayu mencoba bersabar


"sudah bagus Mitha mau kuajak pulang kesini!"


ucap Bu Surya sambil membuang muka dari tatapan anaknya itu.


Bayu menghela napas berat.


Suara deru mobil berhenti membuat Bayu beranjak bangun dari sofa dan berjalan ke arah pintu rumah.


Pak Saleh bergegas turun untuk membantu turun Mitha dari mobil.


"terimakasih Pak Saleh.." ucap Mitha


"sayang..." panggil Bayu melihat istrinya berjalan mendekat memasuki rumah.


"ngapain disini?"


Bayu menghela napas berat lagi, setelah ibunya, sekarang istrinya yang judes.


"darimana?" tanya Bayu meraih tangan istrinya mengajaknya masuk ke dalam


"makan2 ?" jawab Mitha singkat


"malam ayah, ibu..." sapa Mitha kepada kedua mertuanya.


"malam.. segera bersih2 dan istirahat.." ucap Bu Surya


"iya 'Bu.." angguk Mitha


"tidak pulang ke apartemen?" tanya Pak Surya


"tidak," geleng Bayu mengikuti Mitha naik ke lantai 2


"kenapa wajahmu?" tanya Bu Surya melihat wajah Sherly yang tampak memerah.


"ibu..."


"apa kamu sakit?" tanya Pak Surya khawatir.


"ibu...ayah.. apa aku boleh memiliki kekasih?"


Kedua pasangan usia senja itu membulatkan mata


"selama tidak mengganggu studi mu tak apa 'nak.."


"benarkah 'yah ?" Sherly langsung berbinar


"memang siapa yang ingin jadi kekasihmu?"


"Mas Fahri.." Sherly menunduk malu


"Fahri?" Pak Surya menaikkan kedua alisnya


"iya.." angguk Sherly, wajahnya terasa panas


"ibu setuju...ibu suka dengan anak itu,"


Bu Surya sumringah membayangkan impiannya Fahri menjadi menantunya hampir menjadi kenyataan.


"benarkah 'bu?" Sherly mengangkat wajahnya menatap ibunya yang tersenyum


"seperti kata Ayahmu, selama tidak mengganggu studimu, ibu setuju..."


*****


"Nona Mitha...?"


Mitha yang sedang menikmati pemandangan menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


Ya, siang ini Mitha tengah asyik menikmati makan siang di sebuah resto yang menyuguhkan pemandangan alam perbukitan.


Meskipun siang, tapi udara berhembus sejuk karena memang resto ini berada di dataran tinggi perbukitan.


"iya... maaf anda siapa?" Mitha menatap pria yang berdiri dihadapannya.Asing.Mitha tak mengenalnya.

__ADS_1


"perkenalkan, nama saya Gama.."


Pria itu mengulurkan tangannya dan disambut Mitha dengan senyum ramah.


"maaf mengganggu acara makan siang anda.."


"tidak apa2 Tuan Gama.."


"panggil Gama saja.."


"Oh..baiklah..ada perlu apa Gama ? apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


"belum, ini pertama kali kita bertemu.."


Kini Gama duduk berhadapan dengan Mitha.


"apakah sudah makan siang ? mungkin bisa saya pesan.."


"tidak perlu..saya hanya sebentar.." potong Gama


Mitha memandang penuh tanya pria dihadapannya ini, terlebih dengan bekas luka di bibirnya, membuat Mitha semakin penasaran.


"maksud saya menemui anda, hanya ingin meminta tolong.."


"tolong?"


"iya..saya adalah suami Nadia.."


"apa?" Mitha tertegun mendengarnya


"saya hanya ingin meminta tolong untuk melepas suami anda.."


"tapi..apa maksudnya?"


"Nadia jadi seperti orang depressi sejak pulang dari kota ini..setiap malam selalu mengigau menyebut nama suami anda..."


Mitha membulatkan mata mendengarnya.


"demi cintanya pada suami anda, saya akan melepasnya untuk bisa bersatu lagi seperti dulu.."


"apa?" Mitha menelan salivanya


"apakah selama ini anda tidak menyadari mereka masih saling mencintai ?"


Ingin rasanya Mitha berteriak dan menangis!


"rasanya tidak adil jika kita terus bertahan dalam pernikahan tanpa cinta..."


"saya juga mempunyai anak laki2 Nona..tapi Nadia masih saja mencintai suami anda.."


Mitha sudah tak mampu berkata apa2 lagi.


"pikirkanlah Nona...demi kebaikan kita bersama.."


Dan pria bernama Gama itu berdiri dari duduknya, meninggalkan Mitha yang masih termenung.


Mitha memandang makanan dihadapannya tanpa selera.Hatinya terasa sakit.Benarkah apa yang dikatakan pria tadi? Bayu dan Nadia masih saling mencintai?


TiittTiitt


Mitha memandang ponselnya yang terletak di meja berbunyi.Nama suaminya berkedip disana.


"sayang..kamu dimana?" cecar suaminya dari seberang saat menjawab panggilan.


"aku...sedang makan siang..." jawab Mitha lirih


"dimana? aku jemput sekarang,"


"diresto SM..."


"tunggu disitu aku jemput,"


Panggilan terputus sepihak.


Kenapa kamu begitu perhatian layaknya suami yang baik jika mencintaiku saja tidak..batin Mitha.


Airmatanya menetes tanpa dapat ditahannya lagi.


Ya Tuhan..kuatkanlah aku jika harus menanggung sesal...


*****


"apa kita bisa pulang ke apartemen?"


Bayu yang sedang membereskan meja kerjanya menatap istrinya bingung.


"kamu ingin pulang?"


"ada yang ingin aku bicarakan sebentar.."


"bicara saja disini ?"

__ADS_1


Mitha menggeleng menatap suaminya nanar.


"baiklah Nyonya, keinginan anda adalah perintah bagiku..."


Bayu tersenyum.Lembut.Wajah tampannya tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya bisa membawa istrinya pulang meski hanya sebentar untuk berbicara, dan itu semakin membuat Mitha tertekan.


"ayo kita pulang..." ajak Bayu begitu selesai membereskan meja kerjanya.


Mitha mengangguk dan meraih tangan Bayu, menggenggamnya erat.


Mereka keluar ruangan sambil bergandengan, membuat para karyawan menatap mereka iri.


*****


Mitha terduduk di ranjang, sudah segar sehabis mandi.Ia memakai kemeja Bayu yang kebesaran karena baju2 nya yang masih tertinggal sudah tak muat lagi.


Bayu keluar dari kamar mandi, hanya memakai celana pendek tanpa atasan.Sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Mitha memandang suaminya itu dengan sedih.


Di awasinya setiap gerak gerik suaminya, sebelum akhirnya duduk berhadapan di ranjang.


"baiklah..apa yang ingin dibicarakan?"


Mitha menelan saliva nya.Suaminya yang tampan dan harum ini menatapnya lekat.


"aku...ingin kita berpisah begitu anak ini lahir..."


"apa?"


Dan wajah tampan dihadapan Mitha pun berubah, merah padam dengan mata berkilat penuh amarah.


"rasanya tidak adil jika bahagia diatas derita orang lain.." Mitha mencoba menahan airmatanya.


"tatap aku!" bentak Bayu saat Mitha menundukkan kepala, tak berani memandang amarah pria dihadapannya ini.


Bayu meraih dagu istrinya itu dan mencengkeramnya keras, membuat Mitha meringis sakit.


"kenapa bicara seperti itu?!"


"aku..aku hanya ingin kamu bahagia," isak Mitha


"katakan yang jelas!" bentak Bayu keras


"aku tidak bisa bahagia jika Nadia menderita karena mencintaimu!" teriak Mitha


"apa..?" desis Bayu menatap tajam istrinya itu


"bagaimana mungkin kita masih bersama jika kalian masih saling mencintai? sudah sejak awal aku bilang, aku tidak pantas untukmu, aku tak sebanding denganmu!" teriak Mitha lagi


"lalu? kamu ingin berpisah??"


"aku tidak bisa hidup dengan pria yang tidak mencintaiku..." isak Mitha keras


"kenapa bicara seperti itu?! lalu apa yang ada diperutmu itu?? itu buah cintaku !!!" teriak Bayu


Mitha menangis dengan keras, meluapkan semua emosi dalam dirinya, semua sakit dihatinya.


"apa kamu mencintaiku ?" Bayu mengusap pipi Mitha yang basah oleh air mata.


"aku mencintaimu, dan semua orang bodoh tahu aku begitu mencintaimu!" teriak Mitha meluapkan perasaannya.


"pilihlah... aku atau dia..."


"aku tidak akan memilih," geleng Bayu


"aku yang akan mundur..." isak Mitha


"jangan pernah bermimpi bisa pergi dariku!"


"aku tidak akan menghalangi cinta kalian...aku akan pergi..."


"kamu milikku, dan kamu tidak akan pernah pergi dariku, ingat itu!"


Bayu mencium kasar bibir istrinya dan segera beranjak keluar kamar dengan mengunci pintu.


Mitha pun bergegas turun dari ranjang,


"buka! buka pintunya!!" teriak Mitha menggedor2 keras pintu kamar seraya menangis.


"buka pintunya...biarkan aku pergi..." isak Mitha


Bayu yang berdiri di seberang pintu hanya terdiam.


Membiarkan Mitha yang terus saja memukul2 pintu dengan keras,dan akhirnya mulai melemah.


Mungkin ia lelah dan suasana menjadi hening.


"Sam... ke apartemenku segera..."


*****

__ADS_1


__ADS_2