
"Ra...Raga?" lagi lagi putri terkaget.
sementara itu Raga merasa di sekelilingnya memperlihatkan dirinya karena suara pecahan gelas yang ia senggol. Sepontan ia menengadah dan pandangannya lurus berhadapan dengan putri.
Kedua mata mereka terkunci baik Raga. maupun Putri masih sama-sama terpaku.
Rasa rindu yang teramat sangat begitu juga dengan Bima ia terkejut melihat Raga.
Raga menggeser kursi ke belakang ia melangkah menuju tempat dimana putri duduk. putri menyadari Raga akan mendekati dirinya langsung ia mengambil tasnya dan bangkit dari duduknya namun Bima segera mencekal tangannya Bima menggeleng kepala tanda dia tidak setuju putri seperti ini.
"putri jangan menghindar lagi, kamu harus bicara sama Raga apa pun keputusan kamu". ucap Bima masih mencekal tangan putri.
"putri.." Raga sudah berada di depan putri, putri tidak bisa menghindar lagi. Raga terus menatap lekat wajah putri. namun putri membuang muka bukan berarti dia tidak mau memandang Raga akan tetapi dia bingung harus bagaimana karena merasa sangat gugup.
Raga kemudian ia melirik tajam ke arah tangan putri yang masih di cekal oleh Bima. dan ia melihat siapa yang berani menyentuh tangan kekasihnya itu dan lagi lagi Raga terkejut. rahangnya mengeras tangannya mengepal dia tidak bisa mengontrol emosi nya ia berfikir putri meninggalkan dirinya karena lelaki itu. dan... pukulan keras mengarah ke pipi Bima, Bima tersungkur ke belakang putri berteriak matanya membulat dan menutup mulutnya ia sangat terkejut.
"kak Bima....." putri segera membantu membangunkan Bima yang masih terkapar di lantai. namun lagi lagi Raga semakin marah karena putri malah menolong Bima.
__ADS_1
"jadi bajingan ini yang membuat kamu pergi dari aku Hem?" ucap Raga mengarah ke putri masih dengan nafas memburu.
putri tidak membalas pertanyaan Raga malah dia masih berusaha untuk membantu Bima duduk. Raga semakin murka apa yang ia lihat kemudian ia kembali akan menyerang Bima namun...
"jangan pukul kak Bima!!" teriak putri
seketika Raga menghentikan pukulan yang sudah melayang di udara.
"maksud kamu apa Hem? kamu lebih bela dia? kamu rela ninggalin aku berdalih bahwa aku selingkuh sedangkan kamu sendiri yang selingkuh!!! sampai kalian kabur dari Indonesia cih.... murahan!!" putri mendengar cacian dari
setelah Bima sudah bisa duduk walau tangan nya masih memegang pipinya yang masih sakit. putri bangkit dan berhadapan dengan Raga.
"diantara aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apapun, kamu yang membohongi aku, kamu yang khianati dan kamu orang yang paling bajingan! menikmati tubuh wanita secara bergantian. berdalih aku yang salah dan kamu yang benar? hah..!!" putri tersenyum sinis
"aku bukan bajingan aku bisa jelasin put kamu salah paham aku sama Agnes ga ada hubungan apapun waktu itu aku di jebak." Raga mencoba menjelas
"tidak ada hubungan tapi malam itu kamu pergi bilang sama aku kamu ada klien dan ternyata kamu bertemu Agnes?"
__ADS_1
"ya aku sudah putusin Agnes tapi dia paksa aku buat ketemu untuk terakhir kalinya, dan ternyata dia menjebak aku."
"dan lebih parah ternyata ketika kamu berhubungan dengan aku kamu masih berstatus dengan Agnes sampai Agnes hamil!!"
"put itu semua tid...."
"cukup! aku ga mau denger penjelasan kamu lagi. hubungan aku sama kamu sudah be... berakhir." putri mencoba menahan air matanya
"tapi aku nggak mau hubungan kita berakhir aku selama ini gila kehilangan kamu put jangan pergi dari aku lagi aku mohon..." Raga berusaha merah tangan putri namun segera putri tepis
"Raga.. ada apa? kamu tidak apa-apa?" tiba tiba Tania menghampiri sambil menyentuh tangan Raga, putri melihat seorang wanita yang tadi menyenggolnya di toilet ia melihat betapa beraninya wanita itu menyentuh tangan Raga seolah mereka sudah akrab,
begitu juga Tania kaget karena melihat wanita yang ia senggol seolah kenal dengan Raga.
"kamu....." tanya Tania mengarah ke putri
" permisi saya harus pergi ayo kak! (sambil menarik tangan Bima) oh iya terimakasih atas ucapan kamu yang menyatakan aku murahan. aku berharap kita tidak akan pernah bertemu kembali."
__ADS_1