
Mitha memandang bangunan rumah mewah dihadapannya.Rumah yang dulu pernah ingin dibelikan Bayu untuknya, tapi ia menolak mendengar harganya di 9 digit angka.
Kini rumah itu benar2 dibeli Bayu, dan tampaknya sudah siap dihuni dilihat dari penampakannya yang sudah mengalami beberapa renovasi.
"ayo..." ajak Bayu memasuki rumah.
Rumah dikompleks ini tidak dilengkapi pagar seperti rumah2 pada umumnya.
Kompleks perumahan mewah ini benar2 sudah dijamin keamanannya karena sebelum memasuki kompleks sudah dijaga dengan security yang bertugas 24 jam dilengkapi portal dan cctv di beberapa titik akses jalan menuju kompleks.
Rumah orang2 kaya yang tebal dompetnya!
Mitha benar2 terperangah kagum begitu Bayu membuka pintu utama.
Rumah sudah dilengkapi perabotan dan semua barang2 kebutuhan.
Sepertinya Bayu benar2 sudah mempersiapkan semua.
"saya permisi dulu Pak, bu.." pamit Samuel
"Ya, hati2, besok tidak usah menjemputku.."
"baik Pak, selamat malam.."
Samuel mengundurkan diri, tinggal Bayu dan Mitha bersama putra mereka dirumah besar ini.
"apa perlu Daniel dimandikan lagi?" tanya Bayu mencium Daniel yang sudah terkantuk2
"tidak perlu, aku akan mengganti bajunya saja.."
"kamarnya dilantai 2, bajunya di lemari, kubuatkan susunya dulu.." kata Bayu sambil menyerahkan Daniel.
Mitha mengangguk dan beranjak ke lantai 2, dan tak perlu mencari dari 4 kamar yang ada dimana kamar Daniel, karena sudah terdapat papan nama berhias beruang dengan aksen ukiran berwarna biru.
Kembali Mitha terperangah, ruangan kamar untuk Daniel diluar pandangannya.
Kamar bernuansa biru dan putih untuk anak laki2 yang begitu mewah.
Ada ranjang anak2 dan boks bayi.Lemari2 yang menjulang tinggi yang didalamnya berisi baju,sepatu dan semua kebutuhan.
Banyak mainan tertata rapi di sudut ruangan.
Mitha bergegas membersihkan Daniel dan mengganti bajunya dengan piyama baru.
"sudah tidur?" tanya Bayu memasuki kamar
"hampir.." jawab Mitha tersenyum menatap putranya yang terkantuk2.
Bayu menyerahkan botol susu dan langsung dilahap Daniel sambil memejamkan matanya, membuat kedua orangtuanya terkekeh geli.
Tak perlu menunggu lama, si bayi langsung terlelap.
Mitha mengangkatnya dan menidurkannya didalam boks bayi,menyelimutinya dengan selimut biru muda.
"have a nice dream sayang.." bisik Mitha mengecup pipi montok anaknya.
"ayahnya juga ingin..." kata Bayu melihat perlakuan Mitha pada anaknya.
__ADS_1
"isshhh maless," dumal Mitha mengajak Bayu keluar kamar.
Mereka berdua menuruni tangga dan menuju ruang keluarga yang luas.
Mitha terduduk di sofa menyandarkan punggungnya, tersenyum menerima gelas berisi coklat hangat kesukaannya.
"kamu suka rumah ini?" tanya Bayu duduk disamping Mitha dan menyalakan televisi besar yang menempel ditembok dihadapan mereka.
"iya...rumah ini bagus sekali.."
"rumah milik kita...aku membelinya saat Daniel menunggu dilahirkan..." kata Bayu tersenyum
"apa kamu tinggal disini ?"
"ya..sejak Daniel lahir,"
"lalu apartemennya?"
"aku tinggal, untuk investasi..."
"Oohh...." Mitha menatap film di televisi
"apa kamu masih marah?" tanya Bayu menatap istrinya
"marah pun percuma..." jawab Mitha
"apa kamu sudah memaafkanku?"
"tidak akan pernah..." geleng Mitha tersenyum dingin.
"tidak dan aku tidak peduli..." ketus Mitha
"kedua orangtua Nadia berpisah sejak kita dibangku sekolah, Nadia tinggal bersama ibunya dan setiap hari mendapat kekerasan psikis dari ibunya meski begitu, kakeknya sangat menyayanginya..."
"aku dan Nadia adalah anak2 yang bisa mendapatkan segalanya, tapi tidak dengan perhatian dan kasih sayang orangtua..."
Mitha menoleh ke arah Bayu yang berbicara sambil menatap layar televisi.
"kami saling menghibur diri saat bersama...sama2 melakukan kenakalan remaja untuk menarik perhatian orangtua kami..."
"karena persamaan keadaan itulah, aku memberanikan diri untuk meminang Nadia tapi kakeknya menolak keras setelah mendapat laporan dari orang2 suruhannya bahwa aku adalah anak lelaki yang hanya tahu menghamburkan uang orangtua, tak ada masa depan hanya mengandalkan harta orangtua..."
"Nadia akhirnya dijodohkan dengan laki2 pilihan kakeknya, pengusaha muda yang kaya dan mereka pindah ke Belanda..."
"ayah dan ibu terus saja memarahiku atas semua perilakuku sehingga aku pun bangkit untuk menunjukkan pada mereka aku bukan seperti anggapan mereka..aku membangun perusahaanku siang dan malam bekerja tak kenal waktu hingga sampai perusahaanku menjadi sebesar ini, tapi masih saja ayah dan ibu seperti memusuhiku..."
Mitha menatap Bayu yang berwajah sendu.
"aku berganti2 banyak wanita dan akhirnya aku bertemu kembali denganmu, gadis budakku dimasa sekolah dulu..."
"iisshhh menyebalkan!" gerutu Reina membuat Bayu tersenyum.
"kamu yang terlalu sederhana tidak ada apa2nya dengan wanita2 yang pernah bersamaku, bisa dengan mudahnya merebut perhatian kedua orangtuaku, aku yang mengetahuinya semakin penasaran denganmu..."
"Nadia yang begitu sempurna saja tidak bisa merebut hati orangtuaku, tapi kamu? orangtuaku tak pernah berhenti membicarakanmu dan terjadilah kesalahpahaman itu, saat ibu pagi2 datang ke apartemen dan mengetahui kita bersama, dimanfaatkannya untuk menikahkan kita..."
"apa?"
__ADS_1
"ibu sudah jatuh hati padamu, menempuh segala cara untuk membuatmu menerima pinangan keluargaku dan inilah satu2nya cara untuk menjauhkanku dari Nadia..."
Bayu menghela napas.
"hidup bersamamu aku semakin mengenalmu, lambat laun aku mulai tertarik padamu...dan Nadia kembali kesini, ia mengalami kekerasan dari suaminya yang salah paham karena Nadia tertidur dan mengigau menyebut namaku.."
"aku menemuinya dihotel, sengaja menerima pelukannya, karena aku ingin tahu reaksimu saat mencium parfum perempuan dibajuku...dan aku sangat senang kamu cemburu meskipun berusaha menutupinya.."
"tapi caraku salah, karena membuatmu salah paham, aku dan Nadia hanya bersahabat..."
"tidak ada istilah sahabat untuk laki2 dan perempuan..." dengus Mitha bersungut marah.
"aku hanya tulus menyayanginya sebagai saudara karena aku sudah menambatkan hatiku dengan satu wanita..."
"istriku, ibu anak lelakiku...aku mencintaimu, Mitha.."
Mitha menoleh, bertatapan dengan Bayu.
"aku seperti orang gila saat kamu marah dan tak mau bertemu denganku...apalagi saat tahu kamu hamil, Samuel setiap hari jadi sasaran amukanku.."
"apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku? memulai lagi semua dari awal..?"
"bagaimana dengan Nadia?"
"dia sudah kembali pada suaminya, sejak dia keguguran karena pertengkaran di basement waktu itu.."
"apakah kamu percaya padaku?" tanya Bayu, menggenggam erat tangan Mitha.
"aku tidak tahu...mungkin juga aku cemburu pada Nadia...aku sadar aku siapa...aku merasa aku tak pantas untukmu..." lirih Mitha
Bayu membelai rambut Mitha lembut.
"aku mencintaimu...kembalilah padaku..."
"aku masih sakit hati padamu...aku berjuang sendiri melahirkan anakmu, dan kau? malah bersama Nadia..."
"aku meninggalkanmu karena aku berpikir sudah banyak orang yang menyayangimu yang pasti akan bersamamu, sedangkan Nadia? dia sendiri disini, tak ada siapapun yang menemani sakitnya..."
"dia punya suami, seharusnya Nadia pun tahu batasannya!" kata Mitha keras.
"dan sekarang aku bertanya padamu, pernahkah Nadia berada diposisiku?" pekik Mitha
"katakan padaku apa yang harus kulakukan supaya kamu memaafkanku.."
"pilih aku atau dia..."
"pilihan itu lagi?"
"aku ingin tahu!"
"tanpa pilihan pun aku tetap memilihmu.."
Mitha menatap Bayu, mencoba mencari kebenaran di dalam mata hitam yang juga tengah menatapnya.
"aku sudah jatuh cinta padamu...aku ingin punya anak denganmu...aku ingin terus bersamamu sampai maut memisahkan kita..."
*****
__ADS_1