Aku Atau Dia

Aku Atau Dia
Gara-gara Ramen


__ADS_3

Ketika Raga sedang berbincang dengan Ryu tentang apa yang akan di rencanakan, terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan kerjanya Raga menghentikan pembicaraan nya bersama Ryu ia menoleh ke arah suara tersebut dan ternyata Tania beserta mamah nya. Tania menebar senyum kepada Raga namun Raga membalas dengan tatapan sinis, mamah Raga yang melihat perilaku anak kesayangan nya terhadap Tania merasa malu.


"Raga sayang..jangan gitu dong sama Tania, Tania cuman kasih senyuman sama kamu kamu malah balas gitu."


Raga menarik nafas karena mulai jengah kehadiran mamah nya beserta Tania.


"mamah ngapain kesini" Raga berucap dengan nada sinis


"mamah mau nengokin kamu, kamu sekarang udah ga pernah pulang ke rumah mamah kangen kamu raga.. oh ia kata papah mulai sekarang Tania jadi sekretaris kamu,"


"apa!! sekertaris? aku udah punya sekretaris mah kenapa harus Tania, lagian mana mungkin om Frans ngijinin Tania jadi sekretaris toh dia udah jadi anak pemilik perusahaan." Raga memprotes tidak setuju


"justru itu om Frans minta Tania belajar dulu bersama kamu setidaknya menjadi sekretaris kamu."


"nggak aku nggak setuju!! " raga kukuh dengan pendirian nya, belum kelar masalah keberadaan putri ditambah menghadapi Maslaah Tania yang akan menjadi sekretaris nya. sementara Tania yang menjadi objek pembicaraan mamah Raga dan Raga hanya terdiam, Tania menyadari sikap Raga yang acuh dan dingin membuat kehadiran nya di tidak di harapan oleh Raga.

__ADS_1


"setuju tidak setuju pokoknya Tania tetap akan menjadi sekretaris kamu mulai hari ini!" jawab mamah Raga dengan Tegas.


" hah.. terserah mamah" sambil memijat pelipisnya.


sementara Tania tersenyum mengembang karena Raga menyetujui dirinya akan menjadi sekertaris Raga.


**


sementara di negri sakura Jepang


"maaf kak Bima aku bukan berarti masih memikirkan Raga tapi... untuk saat ini biarkan putri menenangkan hati putri dulu.


Bima tersenyum kemudian mengangguk paham


"sekarang aku tinggal disini di negri yang sama dengan kamu, kalau kamu minta bantuan apapun atau kamu ingin mencurahkan isi hati kamu ini pundak aku selalu siap menopang kepala kamu."

__ADS_1


putri mengangguk kecil sebenarnya Bima sosok laki-laki yang sangat baik dan perhatian tapi putri tidak mau melangkah terlalu jauh hanya sekedar teman bagi putri sudah cukup.


"oh ya kamu belum makan sore kan? emh.. setau aku ada tempat makan Ramen yang paling enak dekat taman ini kita kesana yuk" Bima mengajak antusias, putri pun menerima ajakan Bima.


berdiri dan meninggalkan dan melangkah meninggalkan taman Rekugien. dan sepanjang perjalanan menuju arah keluar Bima mencuri pandang dan sesekali memotret putri tanpa sepengetahuan putri. kemudian Bima memberanikan diri untuk mengajak Selfi bersama putri, awal nya putri menolak namun ketika Bima berkata" just a Friend" putri setuju


beberapa Poto Bima ambil bersama putri dengan berbagai mimik wajah. putri melihat hasil Poto bersama Bima dengan mimik wajah memanyunkan bibirnya tertawa renyah, Bima melihat putri sudah bisa tertawa merasa senang.


tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, Bima dengan fasih berbahasa Jepang memesan apa yang ada di daftar menu buku tersebut. putri pun bertanya


"kak Bima ternyata sudah fasih berbahasa Jepang ya."


"oh..ah..biasa aja kebetulan kalau nggak ada halangan setiap musim gugur aku suka kesini dan sering bertemu dengan paman disini jadi ya mau tidak mau aku harus bisa bahasa jepang."


putri mengangguk angguk kepalanya, tidak lama kemudian hidangan Ramen tersaji namun ketika hidangan itu ada di hadapan putri, tiba tiba putri merasa bau menusuk di hidung nya ia merasa mual dan seolah akan muntah, kemudian putri berlari cepat menuju toilet ia memuntahkan apa yang ada di dalam perut nya. Bima menghampiri putri karena merasa hawatir dengan berinisiatif Bima memijat tengkuk putri sedangkan putri masih terus memuntahkan walaupun sudah tidak ada yang harus di keluarkan. beberapa menit kemudian putri menyeka bibir nya dengan air dan Bima mengelap bibir putri dengan tisu yang ada di toilet tersebut kemudian putri memejamkan matanya dan Brukkkkk putri terkulai lemas untung tangan kokoh Bima masih bisa menopang tubuh putri. Bima melihat wajah putri sudah pucat pasi.

__ADS_1


"putri..........."


__ADS_2