
Semalaman putri tidak bisa tidur ia terus bermonolog pada dirinya sendiri sambil mengelus perutnya yang rata namun ada malaikat kecil yang tumbuh disana. ia merasa sangat bersalah karena kejadian kemarin dia dengan lantang ingin menggugurkan kandungan nya, ia sangat beruntung di kelilingi oleh orang orang yang selalu baik dan melindungi dia. namun...ia kemudian sedih karena bayangan Raga kembali terlintas di benak nya. ia mengingat saat malam panas yang dirinya dan Raga lakukan. kemudian ia tersenyum kecut "bodohnya diriku..." namun apalah daya rasa penyesalan tidak akan membuat kehamilan nya hilang, ia harus berjuang mempertahankan benih Raga yang tumbuh di rahim nya.
"ayo sayang kita berjuang sama sama ya, " ucap nya sambil mengelus perutnya.
terdengar suara kakak nya memanggil dirinya.
"put ayo sekarang kamu ke Rumah sakit untuk cek up kehamilan kamu."
"iya kak, putri udah siap."
" sebentar lagi Bima sampai, kamu cek up dengan Bima ya, karena kakak ada urusan di kantor bareng istri kakak"
"loh tapi kata kakak...."putri menggantung ucapannya.
"udah kamu sama Bima aja. toh nanti identitas Bima di rumah sakit sebagai suami kamu."
putri tidak menjawab ucapan kakak nya ia sebenarnya masih tidak enak hati karena Bima menjadikan nya sebagai suami identitas.
tak lama kemudian istri Faisal menghampiri,
"putri Bima sudah datang, ayo!!" sambil menarik tangan putri.
__ADS_1
kini putri dan Bima sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit tujuan, tidak ada kera terucap dari keduanya, mereka laris dalam pikirannya masing-masing.
sebenarnya Bima tidak mempersalahkan dirinya menjadi suami identitas bahkan Bima pun ingin menjadi suami yang sesungguhnya ia akan mencintai bayi yang ada di dalam kandungan putri. namun ia takut kalau sewaktu-waktu Raga tiba tiba muncul di hadapan putri.
"kak..." putri memecah keheningan
"ah...iya put ada apa?"Raga tersadar
"maaf ya kak....."
"maaf kenapa? kamu nggak mukul aku nggak gigit aku." tanya Bima sambil bercanda smabil mengendarai mobil.
putri mengulum senyum, setidak nya kehadiran Bima mengobati rasa sakit hati putri namun bukan berarti Putri telah membuka hati untuk Bima.
"jangankan suami palsu suami asli aku mau kok put." goda Bima
putri tersenyum malu kemudian menundukkan wajahnya.
**
Raga dan Ryu sedang melakukan pertemuan bersama beberapa perwakilan dari perusahaan Nitori Industries. Ltd. beberapa kali Raga mendatangi kontrak kerja sama dengan perusahaan itu. kedua belah pihak telah sepakat dan pertemuan mereka di akhiri dengan berjabat tangan.
__ADS_1
setelah melakukan pertemuan sesuai rencana nya Raga da Ryu akan mengunjungi rumah sakit dimana pemilik perusahaan tersebut sedang di rawat, ketika Raga hendak membuka pintu mobil.
"Raga.....!" teriak suara perempuan, Raga menoleh ke arah suara tersebut, kemudian Raga menghela nafas kasar dan ternyata Tania.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Raga ketus
"Aku kesini disuruh papah kamu buat nganterin dokumen penting yang kamu lupa bawa. bukan nya semalam kamu telepon om Winata."
"Ya memang semalam aku TLP papah tapi bukan berarti kamu harus anterin kesini kan? kamu bisa suruh divisi Humas buat anterin" Raga masih berdecak kesal.
"Raga! aku tau kamu tidak suka dengan kehadiran aku, tapi setidaknya hargai aku sebagai sekretaris kamu!" bentak Tania sedari kemari dia terus menahan emosi.
"hah terserah kamu!" Raga masuk kedalam mobil, ia melonggarkan dasinya.
Tania terkejut karena Raga membentak dirinya, dia bingung kenapa Raga yang ia kenal sekarang tidak seperti Raga yang dulu.
"mbak Tania mari ikut kami ke rumah sakit untuk menjenguk kakak nya Mr. Akihito" Ryu mempersilahkan.
**
Bima dan Putri sedang berada di dalam ruangan. putri terbaring di atas kasur sedangkan Bima duduk di dekat dokter. cairan Gell mulai di oleh ke perut putri. dr.kandungna mulai melakukan USG. Bima mengalihkan pandangannya untuk tidak melihat ke perut putri.
__ADS_1
"tuan sini, lihat usia kandungan nya baru menginjak 5 minggu, ya walaupun hanya sebesar biji nanti seiring berjalannya usia kandungan akan bertumbuh besar, saran saya tuan jangan dulu melakukan hubungan ****, karena di usia segitu masih sangat rawan." ucap dokter spesialis kandungan.
deg..... sementara Putri dan Ryu saling pandang