
Mitha memandang rumah dihadapannya.
Ya, akhirnya kembali lagi ke rumah ayah dan ibu mertuanya, setelah 5 hari memulihkan diri di rumah sakit usai melahirkan.
"Non Mitha??"
Bik Minah tergopoh2 menghampiri Mitha.
"apa kabar Bik..?" tanya Mitha tersenyum
"Bibik baik Non..." Bik Minah memeluk Mitha tanpa merasa canggung lagi.
"ayo masuk dulu.."
Bu Surya sumringah menggendong baby Mitha masuk ke dalam rumah.
Pak Surya pun bergegas mengikuti istrinya menuju ruang keluarga yang luas dimana sudah terdapat boks bayi di samping sofa.
"cucu oma yang ganteng, bobok sini dulu ya, biar nek Minah memberesi kamarmu dulu..."
Ingin rasanya Mitha tertawa melihat perilaku ibu mertuanya itu.
Ayah dan ibu mertuanya tampak begitu bahagia, setiap menit selalu melihat baby, padahal si baby tidur dengan nyaman.
"apa sudah punya nama untuk baby?"
"Daniel Surya Mahendra, apa bagus 'bu?"
"iya...nama kakek dan Ayahnya..." angguk Bu Surya tersenyum senang.
Ponsel Pak Surya berbunyi, membuatnya undur diri masuk ke ruang kerjanya.
"Bu..."
"hemm?"
"dimana ayah anakku?"
Wajah Bu Surya langsung berubah pias.
"tak perlu lagi kamu pikirkan, dia sudah mendapat pelajaran.."
"Bu...apa benar Ayah menghajarnya sampai babak belur?" tanya Mitha lagi
"tahu darimana kamu?"
"Yuri.."
"aahhh dasar mulut ember bocor!" dumal Bu Surya
"ibu!" protes Mitha karena ibu mertuanya yang berbelit2 menjawabnya
"sudah tak usah dipikirkan! fokus saja sama baby,"
Mitha terdiam, tak bisa lagi berkata2.
*****
Samuel mencuri pandang ke arah atasannya yang tampak melamun, menatap keluar melalui jendela besar dalam ruangan kerjanya.
Bekas2 luka diwajahnya mulai mengering dan sembuh.
"apa Bapak ingin makan siang sekarang? bisa saya pesankan.."
"aku tidak mau makan.."
Samuel menghembuskan napasnya.
"kalau tidak makan Bapak bisa sakit.."
Bayu tak menggubrisnya, asyik dengan lamunannya.
"apa aku harus menemui Tuan Besar..." batin Samuel
"kalau begitu saya permisi Pak.." pamit Samuel undur diri.
Bayu hanya mengangguk.
*****
Mitha berjalan ke arah pintu saat mendengar bel pintu berbunyi beberapa kali.
"biar saya buka Non.." seru Bik Minah berlari tergopoh2
"aku saja Bik.." tolak Mitha dan meraih handle pintu
Mitha membulatkan matanya menatap seseorang dihadapannya.
"selamat siang 'bu.."
"Sam..? kenapa ada disini...?"
__ADS_1
"saya ingin bertemu Tuan Besar..apakah beliau ada?" tanya Samuel sopan
"Ayah ada di dalam...mari masuk.."
Mitha mempersilahkan Samuel yang mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam.
"siapa yang datang?"
Samuel yang hendak duduk langsung menegapkan kembali tubuhnya.
"kamu disini?" seru Bu Surya melihat Samuel berdiri sambil menunduk.
"maaf Nyonya Besar,..saya ingin bertemu Tuan Besar..." lirih Samuel.
Nyalinya langsung menciut bertemu Nyonya Besarnya.
"untuk apa? memohon biar mengampuni Tuan Mudamu??"
Mitha memeluk lengan ibu mertuanya, mencoba menahannya.
"maaf Nyonya..jika saya lancang..."
"bilang pada Tuanmu itu, kami tidak akan pernah memaafkannya!" omel Bu Surya
"ada apa ini?"
Pak Surya pun menyusul ke ruang tamu, mendengar suara istrinya yang melengking.
"Sam? kenapa ada di sini?"
"saya ingin bicara empat mata Tuan Besar.."
Pak Surya menghela napasnya kasar.
"apa Bosmu yang menyuruhmu..?"
"ini murni keinginan saya...Pak Bayu tidak tahu saya berada disini..."
Pak Surya terdiam.
"ikut aku," titah Pak Surya berjalan kembali menuju ruang kerjanya.
Samuel pun mengikuti dengan kepala menunduk, menghindari tatapan tajam Bu Surya.
"Bu..."
"Mitha...kali ini ibu tidak akan memohon lagi padamu mempertahankan anak lelakiku yang benar2 memalukan itu!"
"alasan apa? alasan membuatmu harus menderita karena ulahnya? ibu benar2 malu padamu.."
"Bu...apa aku boleh menemui ayah anakku?"
"untuk apa lagi Mitha?? apa tidak cukup selama ini ia menyakitimu?"
Mitha menatap wajah sendu ibu mertuanya itu.Mata indahnya mulai berkabut oleh airmata.
"Bu...aku ingin menemuinya untuk mencari kejelasan kami ke depannya...Aku dan anakku butuh kepastian.."
"Mitha...apa kamu yakin?"
"iya 'bu...meskipun aku harus menanggung sesal.."
Bu Surya langsung memeluk Mitha, terisak menangis di bahu Mitha.
"maafkan ibu ya Mith...ibu sudah gagal mendidik anak.."
"saya yang salah 'bu...keburukan suami, adalah keburukan istri juga.."
Dan Bu Surya semakin terisak.
*****
Mitha memandang gedung pencakar langit dihadapannya.
Pak Saleh membantu Mitha turun dari mobil begitu sampai di lobi gedung.
Security yang mengetahui kedatangan istri pemilik perusahaan pun langsung berjalan menghampiri.
"selamat siang 'Bu.." sapa security ramah saat membukakan pintu utama.
"selamat siang.." balas Mitha tersenyum
"ada yang bisa saya bantu 'Bu?"
"saya ingin bertemu suami saya.."
"Ooh..mari saya antar,"
"terimakasih.." angguk Mitha kembali tersenyum.
Security bergegas mengantar Mitha menuju Lift khusus untuk petinggi perusahaan.
__ADS_1
"silahkan 'Bu.."
Mitha mengangguk dan memasuki lift yang akan membawanya ke lantai teratas, dimana ruangan Bayu berada.
Sudah sebulan berlalu, Mitha menata hati dan hari ini ia akan meminta kepastian masa depannya bersama Daniel, putra semata wayangnya bersama Bayu.
Mitha mengingat kembali semuanya, dan akan merelakan Bayu bersama Nadia jika memang dirinyalah penghalang kebersamaan mereka.
TING!
Lift berhenti dan pintunya bergeser membuka saat tiba di lantai tujuan.
Dengan langkah pasti Mitha berjalan keluar lift dan menuju ruang kerja suaminya.
Beberapa staff tampak terkejut melihat kedatangan Mitha yang tampak cantik siang itu, dengan mengenakan gaun terusan navy, dan sepatu flatshoes favoritnya.
Mitha mencengkeram erat tas jinjing bermerk nya saat menghadapi tatapan2 penuh tanya staff2 pembantu Bayu.
"selamat siang..." sapa Mitha mencoba tersenyum seramah mungkin.
"se-selamat siang 'Bu..." sahut para staff berbarengan, tak lepas memandang Mitha.
"Bu Mitha??" Samuel yang tengah berbicara dengan salahsatu staff terlonjak kaget melihat Mitha berjalan ke arahnya.
"apa suamiku ada?" tanya Mitha
"Bapak ada 'Bu..." jawab Samuel gugup
"apa aku boleh masuk?"
"si-silahkan 'Bu.."
Samuel mendekat ke arah pintu dan membukanya untuk Mitha.
Dengan berdebar Mitha melangkah masuk ke ruang kerja Bayu.
Bayu duduk disana, tampak menunduk serius menekuni dokumen2 di mejanya.
"Pak.." panggil Samuel
"sudah kubilang jangan ganggu aku!" bentak Bayu tanpa mengalihkan pandangnya dari dokumen.
"ada tamu 'Pak.."
"aku tidak ada janji bertemu siapa pun!"
"termasuk istrimu?" sahut Mitha gemas dengan sikap arogan Bayu.
Bayu mengangkat wajahnya, bertemu pandang dengan Mitha.
Wajahnya pias menatap wanita dihadapannya.
Wanita miliknya yang sudah sebulan ini tak ditemuinya.Ibu anak lelakinya, yang hanya bisa dilihat fotonya dari ponsel kiriman Dimas secara sembunyi2 yang tak tega dengannya.
"saya permisi.." pamit Samuel takut akan adanya perang dunia suami istri atasannya itu.
"sayang...kamu.."
"apa aku boleh duduk?"
Bergegas Bayu menghampiri Mitha yang berjalan ke arah sofa.
"kenapa ke sini?"
"apa aku tidak boleh kesini?"
"tentu saja boleh...semua ini milikmu.."
"aku hanya ingin bicara.."
"apa?"
"apa kamu mau menjawabnya dengan jujur?"
"tentu..."
"jujurlah padaku...apa kamu masih mencintai Nadia?"
Wajah Bayu menegang menahan amarah.
"apa..?"
"lepaskanlah aku dan anakku.."
"aku tidak akan melepaskanmu! kamu milikku dan selamanya akan begitu!" teriak Bayu
"baiklah, kalau begitu aku yang akan melepasmu..."
"apa??!"
******
__ADS_1