
Harum masakan menyerbu penciuman Mitha dan membuatnya terjaga.
Sinar matahari menyilaukan pandangan Mitha saat membuka mata dan memandang keadaan sekitar.
Mitha mencoba mengingat kembali kejadian kemarin.
Ya, Mitha bertengkar hebat dengan Bayu yang kemudian ditinggalkan terkunci dalam kamar.
Karena kelelahan menangis, Mitha pun tertidur diatas lantai, dan kini ia terbangun di atas ranjang.
Sendirian, tidak ada Bayu disampingnya.
"Non sudah bangun?"
Pintu kamar terbuka, wajah Bik Nar menyembul dari balik pintu.
Wanita setengah baya yang setiap hari datang untuk membersihkan apartemen ini.
"iya...Bibik pagi sekali.."
"iya 'Non..Bapak yang menyuruh Bibik datang pagi2 buat masakin sarapan 'Non.."
Jantung Mitha menjadi berdebar, rasanya belum siap ia bertemu Bayu pagi ini.
"Bapak sudah berangkat pagi2 sekali tadi,"
ucap Bik Nar seolah mengerti apa yang dirasakan Mitha.
"Oh ya?" gumam Mitha
Mungkin ia juga tak mau bertemu denganku, batin Mitha.
"mau mandi sekarang apa nanti 'Non? Bibik siapin airnya.."
"sekarang juga boleh Bik..terimakasih.."
Mitha tersenyum memandang Bik Narti yang langsung sigap masuk ke kamar mandi.
"apa ayahmu masih marah ya.." gumam Mitha sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit.Baby nya menendang kuat seolah menjawab pertanyaan Mitha.
"ayo Bibik bantu 'Non..." ucap Bik Nar mendekati Mitha begitu selesai menyiapkan air di bath up untuk berendam.
"aku bisa sendiri..." geleng Mitha menolak halus
"Bibik bantu sampai kamar mandi, sudah hamil besar hati2..takut kalau kepeleset.."
Bik Nar pun menggandeng lengan Mitha sampai masuk ke kamar mandi dan segera keluar begitu Mitha beranjak mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Mitha pun keluar dari kamar mandi disambut dengan paper bag besar diatas ranjang.
Didalamnya berisi gaun2 hamil dan baju dalam, yang sekali lihat saja bukan barang yang murah.
"tadi ada pegawai butik ke sini 'Non..katanya Bapak yang suruh kirim," jelas Bik Nar melihat Mitha yang berdiri termangu menatap paper bag itu.
Mitha hanya mengangguk,ternyata, semarah apapun Bayu, ia masih memperhatikan kebutuhan istrinya.
Bergegas Mitha memakai gaunnya dan keluar kamar untuk sarapan.
"Bik.."
"iya 'Non ?"
"sudah lama ikut Pak Bayu?" tanya Mitha
"dari Bapak masih bujang 'Non..kenapa?"
"pasti banyak wanita yang diajak ke sini 'ya?"
"tidak ada 'Non seingat Bibik...cuma seorang, itu saja cuma mampir sebentar.."
__ADS_1
"Oh ya?" Mitha terkejut mendengarnya
"iya.. cuma pacar Bapak waktu itu, sekali ke sini, mampir sebentar mengambil barang.."
Mitha cukup kaget mendengar cerita Bik Nar.
"jarang ada pria seperti Bapak 'Non..sudah tampan, kaya, setia.."
"aahh.. sok tahu Bik Nar 'nih.." tawa Mitha
"iya 'Non..Bibik aja bisa lihat kalau Bapak itu cinta mati sama Non Mitha.." tukas Bik Nar
"itu kan cuma kelihatannya saja..."
"percaya sama Bibik 'Non..Bapak itu cinta banget..apalagi Non sedang hamil anaknya, pasti tambah cinta mati..."
Mitha tertawa mendengarnya, entah, rasa bahagia menyelimuti hatinya pagi ini.
Seharian Mitha di apartemen ditemani Bik Nar, mereka mengobrol layaknya sahabat.
*****
Mitha memandang ponselnya.Hening.Tidak ada pesan ataupun telepon yang masuk.Ibu mertuanya pun tidak berkirim pesan seperti biasanya.
Mungkin Bayu sudah memberitahu orang tuanya, batin Mitha.
Sekarang benar2 terasa sepi karena Bik Nar sudah pulang jam 4 sore tadi setelah pekerjaannya selesai.
Mitha melirik jam dinding.Jam 6 lebih, tidak ada tanda2 kepulangan Bayu.
Mitha pun memutuskan untuk makan malam lebih dulu.
"katanya cinta mati, tapi kok tidak peduli.." gumam Mitha tersenyum sendiri.Getir rasanya.
Airmatanya menetes, Mitha makan malam dengan tangis pilu nya.
*****
Samuel memasuki ruangan Bayu setelah mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban.
Atasannya itu tampak duduk termenung menatap ke langit lewat jendela besar diruangannya.
"jam berapa ini?" tanya Bayu memijit dahinya.
"hampir jam 8 Pak.." jawab Samuel
Beberapa hari Bayu selalu pulang malam, membuat Samuel merasa bingung, karena seharusnya atasannya itu senang, istrinya sudah kembali ke apartemen bersamanya.
"maaf Pak..apa ada masalah?" tanya Samuel memberanikan diri.Hening.
"istriku minta berpisah Sam.."
"apa?" Samuel menganga tak percaya.
"istriku ingin berpisah, karena ia tidak bisa bersamaku jika Nadia masih memiliki perasaan padaku.."
"lalu bagaimana perasaan Bapak sendiri ?"
Samuel semakin berani, entah darimana keberaniannya itu muncul.
"aku mencintai istriku Sam...entah sejak kapan Nadia sudah tersingkir terganti olehnya..."
Samuel tersenyum.
"lalu apa yang menjadi masalahnya 'Pak..? karena anda berdua saling mencintai..."
"istriku tak yakin aku mencintainya.."
"mungkin Tuan Gama benar2 melakukan ancamannya.."
__ADS_1
Bayu pun menoleh ke arah asistennya itu.
"mungkin Tuan Gama berhasil menemui istri anda tanpa sepengetahuan anda 'Pak.."
Dan pikiran Bayu pun berlari ke hari dimana istrinya meminta pulang ke apartemen, dimana setelahnya mereka bertengkar hebat.
"aku harus membunuh pria itu!" desis Bayu
"semua bisa dibicarakan baik2 'Pak..ingat sebentar lagi istri anda melahirkan.."
Samuel mencoba meredam amarah Bayu yang sudah tampak memuncak.
"saya akan mencari tahu dimana Tuan Gama berada, kita bisa selesaikan semua.."
"kamu benar Sam...masalah ini terus merongrong diriku.." angguk Bayu kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"sebaiknya Bapak segera pulang dan beristirahat,kasihan istri anda di apartemen sendirian..."
"baiklah...aku akan pulang sebentar lagi..."
"saya akan mengantar Bapak..saya tunggu dibawah 'Pak.."
Bayu hanya mengangguk, kemudian berdiri dan memakai jasnya, menyusul Samuel keluar kantornya.
*****
Bayu terjaga.
Derai hujan masih terdengar diluar sana.Pagi hari yang masih tampak gelap karena hujan deras mengguyur kota.
Bayu menatap Mitha yang masih tertidur pulas disampingnya.Tubuhnya miring ke arahnya.
Bayu merapikan rambut Mitha yang menutupi wajahnya, menyelipkan ke belakang telinga istrinya itu.
Beberapa hari terakhir, Bayu selalu terbangun lebih dulu, supaya ia bisa pergi ke kantor lebih awal tanpa harus bertatap muka dengan istrinya itu.
"cantik.." gumamnya tersenyum sambil mengelus pipi Mitha yang menjadi gembul karena kehamilannya.
Bayu mengecup pipi Mitha, di rasa tak terganggu, Bayu pun mengecup bibir Mitha.Pelan.Lembut.Dan ciumannya beralih ke lehernya.
Bayu menjauhkan tubuhnya saat istrinya menggeliat geli merasakan ciumannya.Seutas senyum menghiasi bibir istrinya yang masih terpejam itu.
Bayu menahan tawanya saat tersadar jika istrinya itu menganggap ciumannya hanya mimpi.
Dan Bayu pun semakin berani, mencium dan membelai tubuh istrinya, bersatu dengan lembut dengan bisikan cinta ditelinga wanita yang begitu dicintainya itu.
*****
Mitha membuka mata.Mengedarkan pandangnya ke seluruh ruangan.Masih tampak gelap.Dari jendela besar kamarnya masih tampak hujan.
Jam menunjuk pukul 8 lebih.Baru kali ini ia bangun sesiang ini.Mimpinya terlalu indah untuk membuatnya terbangun di dunia nyata.
Mitha bermimpi bercumbu dengan Bayu.Lembut.Penuh cinta.Membuat senyum bahagia mengembang dibibirnya.
Mitha menoleh ke samping, suaminya sudah bangun rupanya.Mungkin baru saja karena sprei nya masih terasa hangat.
Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi.
Mitha terbangun dan terperangah, mendapati dirinya polos dibawah selimut.
Mitha menutup mulutnya yang hampir menjerit, menyadari bahwa mimpi indahnya itu nyata!
Mitha menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, dimana muncul suaminya yang hanya mengenakan handuk melingkar dipinggulnya, sedang menyeka rambutnya yang basah.
Mereka pun bertatapan.Canggung.Wajah Mitha terasa panas saking malunya.Bayu pun tampak salah tingkah melihat istrinya yang masih polos diatas ranjang, berbelit selimut kusut.
Bayu bergegas masuk ke ruang ganti pakaian untuk menyembunyikan malunya.
Mereka seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
__ADS_1
*****