
Secara bersamaan Raga yang sedang makan siang di Restoran bersama mamah nya dan Tania gelas yang ia pegang spontan terjatuh tangan Raga seolah tidak memiliki tenaga. mamah Raga dan Tania mengernyit kan dahi nya.
"Raga kamu nggak apa-apa?" Tania mencoba bertanya, namun Raga hanya menggeleng kepala
"ya ampun Raga masa pegang gelas aja bisa terjatuh gitu." mamah Raga terheran heran.
" mah Raga ke toilet dulu ini biar pelayan yang beresin." Raga beranjak dari kursi dan melangkah menuju toilet. di depan wastafel Raga mencuci tangan dan membasuh wajah nya ia memegang dadanya perasaannya menjadi tidak enak. "putri..." Raga bergumam
Raga sangat sangat merindukan Putri.
kembali ke meja dimana Tania dan mamah Raga menunggu kehadiran nya.
"mah, Raga harus segera ke kantor ada pembahasan bersama Mr. Akihito dia baru tiba di Indonesia."
"loh tapi kamu baru makan sedikit" mamah Raga mencoba mencegah
__ADS_1
"Raga udah nggak lapar."
"yaudah kalau begitu nanti setelah Tania selesai makan nanti Tania nyusul."
Raga tidak menjawab apa apa ia melengos pergi meninggalkan Restoran itu.
sementara Tania menarik nafas kasar ia kesal kenapa Raga sebegitu dingin nya terhadapnya.
"Tania... maafin Raga ya, Tante juga nggak tau Raga jadi seperti itu, Tante pengennya kamu sama Raga lebih dekat lagi ya pengennya sih menjadi pasangan kekasih walaupun kalian masih bersaudara tapi.. itu kan saudara jauh Tante pengen kamu jadi menantu Tante." ucap mamah Raga tersenyum
sementara Tania mendengar ucapan mamah Raga hanya tersenyum simpul.
**
Bima membopong tubuh putri beberapa perawat dengan sigap menolong dan meletakkan putri di atas brangkar tubuh putri di dorong kedalam ruangan IGD, Bima menunggu di luar ruangan IGD sambil melipat tangan di dada nya ia mondar mandir meremas jari jarinya ia sangat khawatir terhadap putri. beberapa lama kemudian seorang perawat memanggil Bima, Bima di perintahkan untuk menuju ke ruang dokter yang menangani putri. Bima menuju ruangan dokter yang dituju. kemudian Bima mengetuk pintu dan masuk keruangan dokter yang dituju. setelah masuk ke ruangan Bima membungkuk hormat sebagaimana budaya Jepang. dokter mempersilahkan Bima untuk duduk, dokter pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada putri dan dokter yang menangani putri tersenyum dan memberikan selamat.
__ADS_1
"selamat karena mulai sekarang anda akan menjadi seorang ayah, untuk sementara pasien harus istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran." ucap dokter itu dengan santai namun setelah mendengar ucapan dari dokter Bima terhenyak. siapa yang akan menjadi ayah nafasnya seolah tercekik Bima bertanya balik kepada dokter tersebut.
"maaf maksud dokter apa? siapa yang menjadi seorang ayah" tanya Bima terbata bata
dokter yang menangani putri tersenyum mungkin pikiran nya Bima adalah pasangan pasien nya ia kembali menjelaskan.
"ya, sekarang pasien sedang mengandung buah hati anda usia kandungan sudah menginjak empat Minggu saya mohon agar pasien tidak banyak pikiran dan selalu rilex." dokter pun menyodorkan hasil tes kehamilan.
lalu Bima mengambil dengan tangan bergetar ia tidak mungkin berkata bahwa Bima bukan pasangan putri kepada dokter itu, Bima mengangguk lemas kemudian membungkuk hormat kembali untuk meninggalkan ruangan itu.
sepanjang perjalanan meninggalkan ruangan itu, pikiran Bima sangat kacau bingung dan marah karena kenapa putri bisa hamil siapa yang menghamili putri apakah Raga? Bima terus berperang dalam batin nya kalau benar itu Raga ia ingin sekali menghajar wajah nya hingga babak belur. dan bagaimana Bima menjelaskan kepada putri. langkah kaki nya terhenti di depan tubuh putri yang masih terbaring dan belum sadarkan diri.
Bima menatap lekat wajah putri yang masih memejamkan mata.
"aku sungguh sangat mencintai kamu putri, aku bahkan rela nyusul kamu kesini buat selalu ada di samping kamu, tapi apakah aku sanggup berada di samping kamu sementara kamu mengandung dan mungkin itu dari darah daging Raga. dan bagaimana kamu kembali lagi bersama Raga sungguh aku tidak sanggup putri..." Bima berkata lirih sambil memegang jari kanan putri.
__ADS_1
jari kanan putri bergerak merespon sentuhan dari Bima. bibir putri mulai bergetar mencoba berucap namun mata nya masih terpejam.
"Ra....Ra...Raga....." putri berucap sangat pelan.