Aku Atau Dia

Aku Atau Dia
#part 3


__ADS_3

Seorang gadis tampak berkutat dengan dokumen yang tampak menggunung di meja kerjanya.


Ya,,Mitha tampak begitu sibuk dengan pekerjaannya hari ini yang luar biasa banyaknya.


Mitha, bekerja sebagai supervisor di bagian produksi sebuah perusahaan farmasi yang memproduksi obat2an.


Mitha termasuk orang yang beruntung, walaupun tidak mengecap bangku sekolah yang tinggi tapi bisa mendapatkan pekerjaan dengan jabatan.


Bermodal pengalaman kerja selama ini, ditambah kecerdasannya,Mitha bisa mendapatkan semua ini, tak lupa juga perjuangan ayah ibunya menyekolahkannya dulu.


Mitha termasuk gadis yang unik, saat gadis seusianya sibuk berbelanja baju,tas,sepatu kosmetik dengan hasil bekerja, Mitha sebaliknya.


Mitha malah lebih suka menabung.


Mitha tak pernah membuang2 uangnya dengan percuma, karena dia tahu, perjuangan untuk mendapatkannya bukan hal yang mudah.


Karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,Mitha pun mempersiapkan tabungannya.


Dia pun ingat betul kehidupannya dulu, hidup susah itu tidak enak, dan menjadi cita2nya untuk calon anak2nya di masa depan jangan sampai merasakan hidup yang kesusahan seperti hidupnya.


"ciieeehhh yang sibuk banget.. uangnya buat beli Alph*rd buuukk.." nyinyir Dwika


teman seruangan dengan jabatan yang sama dengan Mitha tapi di divisi yang berbeda.


"iya... besok kalau sudah beli, pasti kamu boleh numpang kok.." sahut Mitha menahan emosi nya


"boleehh... nggak sabar deh..pasti lebih mewah dari mobilku.." nyinyir Dwika lagi dengan nada menghina


"dasar OKB (orang kaya baru)" dumal Mitha dalam hati


"semoga Tuhan melihat kelakuannya dan memberi Rizki yang berlimpah pada ku untuk menyumpal kesombongan mulut mereka yang nyinyir!"


batin Mitha mencoba bersabar


Lingkungan tempat kerjanya memang berisi orang2 yang saling berlomba memamerkan kekayaan.Gengsi yang begitu tinggi membuat persaingan semakin sengit, berlomba2 menunjukkan kekayaan masing2.


Mitha menarik napas dalam2 dan menghembuskannya.


Mitha menjadi penasaran dengan reaksi mereka saat berhasil memiliki mobil impiannya itu.Bagaimana ekspresi mereka pun membuat Mitha tersenyum sendiri membayangkannya.


Bel berbunyi dengan nyaringnya sore itu, tanda bahwa jam kerja untuk shift pagi telah usai.


Mitha pun bergegas merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.


"haaahhh... mendungnya gelap sekali.." keluh Mitha melihat langit sore itu yang tampak menggelap bersiap menurunkan hujan lebat.


Setengah berlari Mitha menuju halte bis, dan tepat selangkah setelah memasuki halte hujan mengguyur dengan derasnya.


"selamaaat..." batin Mitha mengelus dada lega.


Mitha terduduk di halte cukup lama , menunggu bis yang sedari tadi penuh penumpang dan juga hujan yang tak menampakkan tanda untuk mereda.


Mitha menatap kendaraan yang lalu lalang, terbersit rasa di hatinya, betapa enaknya memiliki seseorang yang datang menjemputnya dengan kendaraan pribadi, melindunginya dari panas dan hujan.


Usia Mitha memang sudah cukup untuk membina rumahtangga, tapi tak secuil pun terbersit keinginan untuk menikah.Mitha masih ingin bekerja, menabung dan menyenangkan kedua orangtuanya.Padahal ayah dan ibunya sudah begitu ingin melihat Mitha menikah.


Tiin Tiin Tiin


Suara klakson mobil yang berhenti di dekat halte.


Mitha tak peduli karena berpikir pasti mobil itu menjemput salah seorang yang berada di halte.


"mobil impianku..." gumam Mitha menatap mobil mewah besar berwarna hitam mengkilap di depannya.Begitu terpana menatapnya sampai tak sadar kaca jendela yang turun otomatis menampakkan wajah pria tampan melihat ke arah halte.


"Mitha !"


Mitha pun terlonjak kaget, saat menyadari namanya dipanggil seseorang dari dalam mobil mewah itu, yang ternyata adalah Bayu


"ayo naik, " seru Bayu


"apa ?" tanya Mitha menajamkan telinganya, tak yakin dengan apa yang didengarnya barusan


Bayu kembali menutup kaca jendela di bangku penumpang, dan tak lama dari bangku kemudi turun seorang pria paruh baya, berseragam hitam membawa payung berjalan ke arah halte

__ADS_1


"mari silahkan ikut saya.." ajak pria itu mendekati Mitha


"tapi pak.."


"mari... Pak Bayu sudah menunggu.."


Mau tak mau akhirnya Mitha mengikuti pria berseragam itu daripada menjadi tontonan orang2 yang berada di halte.


Pintu di bangku penumpang otomatis bergeser membuka, dan tampaklah Bayu duduk disana, menatap Mitha dengan tersenyum.


Dengan gugup Mitha pun masuk ke dalam, dan pintu pun kembali bergeser menutup otomatis.


"kita bertemu lagi.. seperti jodoh saja.."


Bayu menyeringai menatap Mitha yang duduk di bangku sampingnya


"kamu bicara apa..?" Mitha menatap gugup


"tidak ada..." geleng Bayu tersenyum


"dimana rumahmu ?" tanya Bayu sesaat setelah mobil berjalan memasuki jalan raya


"dijalan L.." jawab Mitha sambil menyeka rambutnya yang sedikit basah saat berjalan memasuki mobil tadi


"baru kali ini aku tahu rumahmu padahal kita sudah saling mengenal bertahun tahun yang lalu..."


ungkap Bayu meringis


"apa itu suatu kehormatan bagiku ?" tanya Mitha


"apa aku boleh menganggapnya begitu?" balik Bayu bertanya


"demi Tuhan kamu pasti menyesal melihat rumahku..." gumam Mitha


"aku tak sehina itu.. aku tak pernah memandang seseorang lewat statusnya.."


Bayu menepuk - nepuk tangan Mitha pelan seraya tersenyum yang membuat Mitha semakin salah tingkah.


"oohhh waktu itu... aku tak memberinya cuma2.."


"apa ?" Mitha kaget mendengarnya


"bagaimana kalau kamu membalas minuman yang kuberi kemarin dan hari ini karena aku mengantarmu pulang ?"


" haaaa..?" Mitha ternganga


" aku mendapat undangan pesta, tapi aku malu jika berangkat sendiri tanpa pasangan..."


"lalu...?" Mitha mengernyitkan dahi nya


" bagaimana kalau kamu menemaniku,,hitung2 sebagai balas budi ?" tawar Bayu terkekeh


"ciiihh, ternyata orang kaya perhitungan juga,,"


Mitha menggerutu mendengar perkataan Bayu


"kenapa? kamu tak mau?"


Bayu pura2 kaget melihat wajah Mitha yang cemberut


"lalu dimana kekasihmu ? bukankah kamu punya kekasih?" gerutu Mitha


"kekasih? yang mana hemm?"


"yang kemarin saat mobilmu menyiramku dengan air jalanan..? jangan bilang kau lupa?" dumal Mitha


"ooohh.. Amara? dia bukan kekasihku.."


" heeeeee... bukan kekasih kok manggil 'sayang'.." cibir Mitha membuat Bayu tertawa geli


"kenapa ? apa kamu cemburu ?"


"aku cemburu? memang siapa aku ??" teriak Mitha

__ADS_1


"lagak mu saja sudah seperti istri yang cemburu buta.." ejek Bayu


"dasar sinting.." Mitha melengos membuang pandangnya ke arah luar yang masih tampak hujan lebat


"aku akan menjemputmu sabtu malam besok.."


ucap Bayu mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya


"aku kan belum bilang mau... seenaknya saja mau jemput, memang orang kaya selalu seenaknya begitu ya ??" omel Mitha


"yaahh rata2 begitulah kami.." angguk Bayu tak melepas pandangannya dari ponsel


"maaf aku tidak bisa,.." tolak Mitha halus


Bayu pun mengalihkan pandangannya dari layar ponsel dan menatap Mitha.Baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya, padahal diluar sana begitu banyak gadis2 yang ingin bisa dekat dengannya.


"kenapa ?" tanya Bayu heran


"aku...aku merasa tak pantas saja..kamu bisa malu mengajakku.." lirih Mitha


"aku kan sudah bilang, kalau aku.."


"aku percaya... " potong Mitha cepat


"bukan kamu yang bermasalah, tapi orang2 yang hadir disana, pasti akan membuatmu malu...aku sadar aku siapa..." jelas Mitha


"memang kau siapa ?"


Mitha menatap Bayu yang juga tengah menatapnya, ada sorot geli di kedua mata indahnya


"aku cuma orang miskin, baju pesta saja tidak punya..."


"nonsense... itu bukan alasan.." geleng Bayu


"aku berkata jujur.. " Mitha semakin jengkel melihat tingkah Bayu yang seperti orang tak peduli


"kalau cuma baju, itu hal yang mudah..kamu ini,.."


Bayu menggelengkan kepalanya sambil kembali fokus dengan layar ponselnya


"mana ponselmu ? " tanya Bayu mengulurkan tangan meminta


"untuk apa ?" Mitha menatap bingung


"cepat keluarkan saja, kenapa kamu banyak bicara seperti nenek2 pikun saja !" omel Bayu


Mitha pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas


"apa ini ?"


"ponselku ?"


"jadul sekalii.. apa ini benar2 bisa dipakai ?"


"siaallannn,, aku harus menabung satu tahun untuk bisa membelinya !" teriak Mitha jengkel


"haahh.. dasar miskin,,"


"apa katamu !!" Mitha bersiap ingin mencakar wajah Bayu yang sibuk mengotak atik ponsel Mitha


"sudah..nomerku sudah kusimpan diponselmu.."


Pria ini !!! Mitha tak kuasa lagi menahan emosinya


"kita sudah sampai Pak Bayu.."


"okay Pak Saleh,, nona ini akan turun, tolong siapkan payungnya.." angguk Bayu memberi perintah


"turunlah, nanti aku akan menelponmu memastikan acara besok, dadada.."


iiiihhhhh ingin rasanya aku menghajar pria ini !!! jerit Mitha dalam hati.


****

__ADS_1


__ADS_2