Aku Atau Dia

Aku Atau Dia
#part 24


__ADS_3

Bayu terduduk di kursi kerjanya yang empuk.


Seulas senyum menghiasai bibirnya sejak tadi, pikirannya tak fokus pada layar laptop yang menampilkan laporan2 kerja karyawannya.


Percintaannya semalam masih saja terngiang, apalagi saat istrinya menjadi malu saat bertatapan dengannya, sungguh menggemaskan.


Bayu berharap, mereka bisa berbaikan, setelah terjadi perang dingin beberapa hari terakhir.


Bayu sengaja tak menutup pintu ruang kerjanya supaya bisa mengawasi Mitha yang tampak asyik menonton televisi sambil memakan camilan dalam toples miliknya.


Sesekali istrinya itu tertawa sendiri.


Bayu pun beranjak dari kursinya dan mendekati Mitha, ingin melihat acara tv apa yang membuatnya tertawa begitu ceria.


Bayu membulatkan matanya melihat istrinya menonton kartun.


"apa yang membuatmu tertawa?" tanya Bayu duduk disebelah Mitha.


"mereka lucu sekali he he he.." tawa Mitha terkekeh


"ayo jalan2.." ajak Bayu sambil mengelus perut buncit Mitha.


"kemana?" Mitha tak mengalihkan perhatiannya dari tv dan masih saja terkekeh


"makan mie?" usul Bayu


Mitha langsung menoleh dan tersenyum.


"aku mau...ayo...aku ganti baju dulu?"


"tidak usah..." geleng Bayu melihat penampilan istrinya itu.


Mitha mengenakan celana pendek khusus ibu hamil berwarna krem dipadu kemeja Bayu yang kebesaran berwarna putih.Rambutnya dikuncir asal2an ke atas.


"baiklah...aku ambil tas dulu,"


Bayu membantu Mitha yang sudah kesusahan berdiri dengan perut buncitnya.


Mitha mematut dirinya sebentar dicermin meja rias kamarnya sebelum meraih tas dan beranjak mengikuti Bayu keluar dari apartemen.


*****


Bayu menatap Mitha yang tampak senang saat mereka sudah duduk di resto masakan Jepang yang berada di lantai teratas sebuah mall.


"mood nya bumil sedang baik hari ini," batin Bayu


Mitha tampak asyik membalik halaman buku menu, sambil sesekali bertanya kepada pelayan resto.


"bapak mau pesan apa?" tanya pelayan


" apa saja yang diingini istriku," jawab Bayu tersenyum membuat Mitha tersenyum senang.


Setelah memesan berbagai menu, pelayan pun mengundurkan diri untuk menyiapkan pesanan.


Mereka pun kembali terdiam, sibuk dengan ponsel masing2.


"Mba Mitha?"


Mitha langsung menoleh ke arah panggilan padanya,


"Sherly?" seru Mitha beranjak berdiri dari kursi


Mereka berpelukan sambil tertawa.


"Mba Mitha kapan ke rumah??aku kangeeennn.."


"baru juga berapa hari di apartemen..."


"kapan ponakanku launching??"


"perkiraan sih 2 minggu lagi..."


"iiihhh nggak sabar deehh.."

__ADS_1


Sherly mengusap2 perut Mitha gemas.


"ayo makan dulu..." ajak Mitha


"emang boleh?" tanya Sherly menatap kakak lelakinya yang tak peduli, sibuk dengan ponselnya.


"ya bolehlah...aku yang traktir..."


"asyiikk..." girang Sherly


"pakai kartu kakakmu tapiii..."


"issshhhh.."


Sherly langsung mengerucutkan bibirnya, membuat Mitha tertawa geli melihatnya.


Sherly duduk bersebelahan dengan Mitha, yang langsung bercengkerama kesana kemari, lupa ada sesesorang yang sibuk mengawasi mereka.


Bayu menghembuskan napasnya berat.


"kenapa sayang?" tanya Mitha


Sherly langsung tersedak minumannya, sementara Bayu hanya menyeringai mendengar panggilan Mitha padanya.


"Mba Mitha sudah rujuk sama cowok bar2 ini??"


"iisshh apaan sih.." pukul Mitha di lengan putih Sherly.


"dasar bocil kurang ajar," gerutu Bayu


"udaahh ah.. ayo makan,"


Mereka bertiga pun bersantap siang, sambil mengobrol kecuali Bayu yang lebih banyak diam dan jadi pendengar, membuat Sherly sedikit heran karena kakaknya begitu banyak berubah.


Yang dulu suka bercanda, bahkan urakan sekarang jadi seorang yang tenang, mungkin juga dingin.


Apa iya pernikahan bisa merubah seseorang?


"ayo pulang rumah?" ajak Sherly mengamit lengan Mitha saat mereka beranjak keluar dari resto


"boleh kalau cuma mampir.."


"menginap saja kenapa? Mba Mitha nggak takut apa tinggal di apartemen tiba2 kontraksi?"


"isshhh kamu ini nakut2i !" omel Mitha


"apa nggak pingin lihat kamar Mas Bayu yang sudah di renov buat baby..?" rayu Sherly


"dasar rayuan setan," gerutu Bayu memyentil dahi Sherly


"Mas Bayu!!" pekik Sherly sambil mengusap dahinya yang memerah


"ayo lihat sebentar...boleh ya sayang?" rengek Mitha memeluk lengan Bayu dan menggoyangkannya seperti anak kecil minta mainan.


"baiklah...tapi hanya sebentar..." angguk Bayu pasrah.


Mitha dan Sherly tersenyum sumringah.


Akhirnya, mereka pun bertiga memasuki lift untuk menuju basement tempat parkir berada.


"ada apa itu?" sontak Mitha dan Sherly menoleh ke arah ujung dimana tampak pasangan lelaki dan perempuan sedang berdebat.


"ayo, itu bukan urusan kita.."


Mitha mengamit lengan Sherly supaya berhenti menonton dan melanjutkan jalan mereka menuju mobil.


"itu Mba Nadia bukan?" seru Sherly


Bayu menghentikan langkahnya, begitu juga Mitha.


PLAK!


Suara tamparan menggema keras di area parkir yang lumayan sepi.

__ADS_1


Sherly menutup mulutnya begitu tubuh si wanita terpelanting jatuh menghantam bagian depan mobil, diiringi teriakan kesakitan.


''sial!"


Bayu langsung berlari ke arah pasangan tersebut.


"Lihat pujaan hatimu datang! apa kamu senang?"


Bayu membantu Nadia untuk berdiri.Wajahnya tampak pucat pasi, sambil sesekali mendesis, memegangi perutnya.


"apa kamu tak apa2?" tanya Bayu pelan


"perutku sakit sekali..." isak Nadia


Mitha berjalan mendekati, sementara Sherly masih termangu menonton semua.


"well...well..lihat siapa yang ada disini.."


Pria yang tak lain adalah Gama, suami Nadia itu tampak bertepuk tangan, suaranya menggema diseluruh area parkir.


"bahkan Nyonya Mahendra pun ada disini?"


Mitha menatap Bayu yang masih berada di dekat Nadia, memastikan bahwa wanita itu baik2 saja.


"anda bisa lihat sendiri Nyonya, betapa istri dan suami kita masih saling mencintai.."


Bayu langsung mengalihkan perhatiannya pada Gama, rahangnya mengetat marah.


"apalagi yang anda tunggu Nyonya? bukti semua sudah ada di..."


PLAK!


Bayu dan Nadia sama2 tertegun menatap pemandangan di depan mereka.


Mitha menampar wajah Gama keras, hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"apa yang kau lakukan?!" teriak Gama


"arrggghhh.. perutku.." raung Nadia


Semua orang pun mengalihkan perhatian ke arah Nadia.


Sherly memekik histeris melihat darah mengalir di antara paha Nadia.


Gama yang sebelumnya emosi menatap Mitha kemudian beralih menatap Nadia.


Wajahnya memucat, melihat Nadia terus berteriak kesakitan.


Tanpa berpikir panjang, Bayu membopong tubuh Nadia menuju mobil.


"Mba..."


Sherly menggenggam erat tangan Mitha yang tertegun melihat Bayu yang terus saja berjalan.


"jangan pernah mengatakan apapun apa yang kamu lihat hari ini..." ucap Mitha dengan pandangan nanar.


"ta-tapi Mba..."


"Mba mohon..." bisik Mitha, tersenyum getir.


Gama langsung berlari ke arah mobil dan meninggalkan Mitha dan Sherly.


"Mba maaf yaa...." isak Sherly melihat Mitha yang tampak menunduk dan menangis.


"Mba kenapa? Mba....!" Sherly tergagap bingung


Tangan Mitha gemetar saat berpegangan pada lengan Sherly.


Mitha mencoba mengatur napas dan menghembuskan perlahan seperti yang diajarkan saat mengikuti kelas senam ibu hamil.


"sepertinya Mba mau melahirkan..." ucap Mitha tersendat sambil meringis menahan kontraksi.


"apa???"

__ADS_1


******


__ADS_2