
Sungguh, Mitha merasakan perjalanan hidupnya seperti rollercoaster.
Apa yang dulu selalu diinginkan dan harus berjuang untuk mendapatkannya, sekarang semua bisa didapatkannya tanpa susah payah.
Tinggal hitungan hari Mitha akan menikah dengan Bayu, dan hari ini Mitha selesai fitting akhir kebaya pengantinnya untuk acara ijab qobul dan resepsi.
Bu Surya yang tampak paling semangat, Mitha dan keluarga tidak diperbolehkan repot mempersiapkan acara karena semua sudah di atur olehnya.
Mitha meminta ijin untuk berhenti di taman kota saat Bu Surya meminta sopir untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"jangan pulang malam ya..sebentar lagi kamu menikah, pamali kalau pergi2 !" nasehat Bu Surya
"hanya sebentar 'bu..menikmati masa lajang.."
Bu Surya tersenyum mendengarnya.
"baiklah, hati2, nanti telepon ibu kalau sampai rumah ya?"
" iya ' bu.." angguk Mitha, mencium punggung tangan Bu Surya dan beranjak keluar dari mobil
Mitha berjalan santai, memasuki taman kota yang ramai dengan anak muda, ada juga ibu2 yang mengajak anak2nya hanya jalan2 berkeliling taman.
Mitha memilih duduk di atas rumput, memandang ke sekeliling.Dipanggilnya seorang penjual minuman keliling untuk membeli sebotol air mineral, entah kenapa, tiba2 tenggorokannya terasa kering.
"ini mbak kembaliannya.."
"buat bapak saja," tolak Mitha halus
"terimakasih mbak, semoga rejeki mbak nya berlimpah.." si penjual tampak sumringah
"sama2 pak.." angguk Mitha tersenyum
si penjual pergi dengan girang, meninggalkan Mitha yang tersenyum senang
"rupanya benar kamu.."
Mitha mendongak kaget.
"Nadia ? sedang apa di sini ?" tanya Mitha
Nadia tampak terduduk menyebelahi Mitha.
"kamu sendiri sedang apa?" kata Nadia meringis
"tidak sopan menjawab dengan pertanyaan kembali.." keluh Mitha
Nadia tertawa.Cantik sekali.Wajahnya tak banyak berubah dari jaman sekolah, meskipun sekarang memakai make up.
"cincinmu bagus sekali.." Nadia melihat cincin yang melingkar di jari manis Mitha.
"terimakasih.." senyum Mitha
"pintar sekali Bayu memilihnya.."
Mitha tersentak kaget.
"aku sudah tahu..tak perlu kaget..selamat yaa.."
Nadia menepuk-nepuk punggung Mitha.
"tak menyangka rasanya..dunia ini begitu sempit..aku pikir Bayu tak akan menikah..ternyata..?"
"kenapa kamu berpikir Bayu tidak akan menikah?"
"karena dulu dia begitu hancur saat aku meninggalkannya..." terang Nadia
Mitha menelan saliva nya.
__ADS_1
"aku dulu meninggalkannya dan memilih menikahi pria yang dijodohkan oleh kakekku.."
"kakekku tak menyukai Bayu, saat itu Bayu hanya seorang pria yang hobi menghamburkan uang orang tuanya dan tak pernah berpikir masa depan,tapi entah kenapa sekarang dia berubah..membuatku menyesal saja,,"
Mitha menatap wajah Nadia yang tampak bergurat kesedihan.
"apa..apa kamu masih mencintai nya?" tanya Mitha gugup, berharap jawaban Nadia adalah 'tidak'
"aku juga tidak tahu...kami dekat sejak sekolah dulu..." geleng Nadia tersenyum
"lagipula aku sudah punya suami dan anak.."
"Nadia...mungkin Bayu masih mencintaimu.."
Nadia tertawa mendengar ucapan Mitha.
"kamu itu bodoh atau apa sih ??"
"kamu kan cinta pertama Bayu ?" sentak Mitha
Ya Tuhaaannn aku ini ngomong apa???? jerit Mitha dalam hati.
" Bayu itu pria yang amat sangat possesif..dia bisa marah besar kalau ada seseorang yang hanya melirik miliknya..itulah yang membuatku pergi darinya..aku merasa terkekang.."
"apa ?" Mitha membulatkan matanya
"aku hanya berpesan padamu..aku yang cuma kekasihnya saja dia begitu possesif, pikirkanlah jika posisimu sebagai istrinya..?"
Mitha kembali menelan saliva nya.Takut.
'' tak perlu setakut itu...mungkin kamu berbeda.."
Nadia beranjak bangun dari duduknya.
"aku harus pergi menjemput anakku, kapan2 bisa kita ketemu..? senang rasanya ada teman mengobrol..." kata Nadia berkacak pinggang
"bye bye Mitha..selamat untuk hari bahagia mu.."
Nadia berjalan meninggalkan Mitha yang termenung.Pandangnya terus mengikuti sosok Nadia yang semakin menghilang di antara keramaian orang2 yang lalu lalang.
Semoga aku tak salah melangkah...doa Mitha dalam hati.
*****
Hari ini, hari terakhir kerja Mitha karena esok Mitha mulai mengambil cuti untuk pernikahannya.
Rekan2 kerjanya yang selama ini bersikap sombong, mulai berubah baik, begitu tahu Mitha akan menikah dengan pria yang notabene bukan orang sembarangan.
Mereka begitu antusias saat menerima undangan pernikahan Mitha yang akan mengadakan resepsi di ballroom hotel pusat kota.
"kami pasti hadir Mith.." seru Dwika, diikuti teman sekelompoknya.
"iya... terimakasih ya.." angguk Mitha tersenyum
"kita kan teman...pasti datang dongg..":
"teman kepalamu" gerutu Mitha dalam hati, mengingat perlakuan mereka dulu.
"duluan ya...sampai ketemu besok di pernikahanku.." pamit Mitha
Dwika melambaikan tangan saat Mitha melenggang pergi meninggalkan mereka.
Mitha berjalan keluar dari tempat kerjanya pelan2, hmm.. 7 hari kedepan, statusnya sudah berubah saat menginjakkan kakinya kembali diperusahaan ini.
Mitha melihat sebuah mobil besar mewah seperti milik Bayu tapi berwarna putih, tampak terparkir di depan gerbang.
Dan betapa terkejutnya Mitha saat mengenali sosok pria yang turun dari bangku penumpang.
__ADS_1
"Fahri ?" seru Mitha tertegun
"Hallo Mith.. ayo ku antar pulang..."
" ngapain kamu disini ??"
" menjemputmu.."
Beberapa orang yang keluar gerbang pun menatap Mitha dengan serempak.Dengan pandangan curiga mereka menatap Mitha, yang lagi2 dijemput mobil mewah tetapi dengan lelaki yang berbeda.
Mitha pun menarik Fahri masuk ke dalam mobil daripada menjadi bahan gunjingan mengingat sebentar lagi ia akan menikah.
"ada apa? tidak biasanya kamu menjemputku.." ucap Mitha setengah curiga
Fahri hanya tersenyum, menyuruh pria muda yang duduk di balik kemudi untuk menjalankan mobil
"bagaimana kalau kita minum kopi sebentar?"
"aku mau langsung pulang..." tolak Mitha halus
"kenapa? takut dimarahi calon suamimu?"
Fahri tersenyum mengejek membuat Mitha jengkel
"tidak! tidak ada yang perlu ku takuti dari nya.."
"ayo 'dan.. aku dan nona muda ini mau minum kopi di cafe XYz.." titah Fahri kepada sopirnya
"siap pak," angguk pria muda itu
"kenapa selama ini kamu berbohong?" tanya Mitha
"bohong apa?"
" keadaanmu yang sebenarnya..."
Fahri terdiam sebentar lalu tersenyum.
"aku takut kamu membenciku.." ucap Fahri pelan
"sekarang aku malah membencimu karena kamu tak jujur padaku.." kata Mitha tak bisa lagi menyembunyikan rasa kecewanya
sejak terakhir pertemuan mereka di restoran waktu itu, Mitha memang tak pernah lagi berkomunikasi dengan Fahri.
"apa kamu mau memaafkan aku ?"
Mitha terdiam.Kedua bola matanya menatap Fahri dengan berkaca-kaca.
Betapa Mitha ingin marah, tetapi tak mampu, karena baginya Fahri adalah seseorang yang begitu berarti baginya.
Seseorang yang selama ini menemani hari2nya, seseorang yang selalu mendengar keluh kesahnya, yang mau menghiburnya saat sedihnya.
"mana mungkin aku tak memaafkanmu.."
Mitha terisak pelan, tak mampu lagi menahan airmatanya.Entah mengapa hatinya begitu sakit.
Tiba2 saja menarik Mitha dalam pelukannya, mencoba menghiburnya.
"maaf.." bisik Fahri mencium puncak kepala Mitha
Mitha semakin terisak.
"jangan menangis..kamu membuatku sedih.."
Fahri mengetatkan pelukannya.Sungguh, betapa ia mengasihi gadis dalam pelukannya ini.
*****
__ADS_1