Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 17. Menemukan bukti


__ADS_3

Kini Mira masih terbaring lemah belum sadarkan diri seusai ardhan membawanya ke kamar Mira lantai atas.


Sedangkan Ardhan membersihkan tubuhnya di lantai bawah, awalnya dia tidak mau namun setelah Dany mengatakan.


"Maaf tuan,apa sebaiknya anda bersihkan tubuh anda terlebih dahulu."Sebagai sekertaris nya Dany mencoba mengingatkan.


"Kau tidak liat Mira masih pingsan bodoh, kau tau aku mengkhawatirkan kondisinya bukan. Jadi aku takkan pergi sebelum dia sadar, sialan."


"Anda yang sialan tuan ,apa anda tak sadar kau membuat seisi kamar nona Mira mencium bau busuk mu."


Dany melihat Siti dan lainnya yang menahan nafas sesekali mereka mengibaskan tangannya didepan hidungnya.


"Bahkan mungkin Bunga peace Lily nona tidak akan bermanfaat lagi setelahnya."


bunga peace lily adalah jenis tanaman holtikultura yang salah satunya bermanfaat meningkatkan kualitas udara,jadi sangat bagus jika di letakkan di kamar tidur atau ruangan lainnya.


"Maaf tuan, tapi."


perkataan Dany menggantung saat melihat ardhan,dia menelisik penampilan Ardhan Dari atas sampai bawah.


Menyadari itu Ardhan refleks melihat penampilannya sendiri dan begitu melihat dari pantulan kaca langsung terbelalak kaget dengan penampilan kacaunya,belum lagi saat Ardhan mencium bau tubuhnya sendiri.


"argh sial,kenapa aku baru sadar sekarang?"dia hanya menggeram dalam hati.


Hampir saja dirinya melakukan kecerobohan seperti dulu lagi.


" Dany,bagaimana pelakunya?


karena merasa malu mengakui,Ardhan mengalihkan pembicaraan.


"Sudah diamankan tuan,dan menurutku di sini ada sesuatu yang mencurigakan."


"Yah,aku juga merasa seperti itu."dia curiga saat baru sampai,dia melihat dari kejauhan sebelum pelaku bertindak sempat menerima panggilan entah itu siapa.


"Kita pergi dari sini"


"Maaf lagi tuan,bagaimana kalau anda mandi dan ganti pakaian dulu dan soal nona Mira apa anda tidak jadi menunggu sampai siuman tuan?"


Dany mengucapkan tanpa sadar membangunkan singa tidur, bisa -bisanya membahas itu lagi dan setelah nya Dany hanya meringis meratapi kebodohannya.


"Aduh, gawat salah ngomong lagi sepertinya, sialan mulut."ucap Dany dalam hati.


Sementara Ardhan hanya melototi nya, dan langsung berjalan keluar dari kamar, namun baru saja pintu terbuka karena karyawan pria yang membuka nya ardhan membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Dany,urus wanita itu dan suruh dia untuk menjaga Mira sampai dokter datang dan laporkan jika Mira sudah sadar." Setelah mengatakan itu Ardhan pun berlalu cepat dari kamar tersebut,karena dia sendiri juga sudah tak tahan dengan bau busuknya.


"O**h ya ampun,aku ingin memotong tangan pelaku sialan itu."dalam hati Ardhan mengumpat.


Sementara di dalam kamar, begitu mendapatkan perintah Dany langsung mengarahkan tatapannya pada Siti,berniat menyampaikan pesan ardhan namun belum juga bersuara mata Siti sudah melototi nya.


"Apa?"


"*Apa, dasar kerdil!"


"dasar tiang listrik!"


Mereka terus berlanjut tanpa suara, ada sampai akhirnya dering telfon Dany menyudahinya, kepergian Dany menjadi kelegaan tersendiri bagi Siti.Namun entah kenapa perasaan Siti begitu sepi seperti ada sedikit sesuatu yang hilang .


Bertepatan dengan kepergian Dany, seorang dokter muda cantik muncul dari pintu karena pintu kamar yang masih terbuka seusai Dany keluar.Siti yang menyadari itu langsung mempersilakan dan langsung memeriksa Mira.Siti sendiri memilih untuk keluar agar dokter lebih leluasa memeriksa Mira.


" Bagaimana dengan teman saya dokter apa dia sudah sadar?"Siti cukup khawatir melihat raut wajah dokter yang baru keluar selesai memeriksa Mira.


"Nona sedikit terganggu dengan psikisnya, sebaiknya cepat di tangani.Karena saya khawatir akan mempengaruhi kondisi kejiwaannya." Dokter mengatakan demikian karena melihat Mira yang terus merasa gelisah sewaktu belum sadar.


Tak lama dokter berpamitan untuk pergi dan saat siti masuk langsung di suguhkan kondisi Mira yang membuatnya iba,wanita itu tengah berbaring menatap kosong ke arah jendela.


Siti masih merasa bersyukur dengan nasibnya, meskipun hanya dilahirkan dikeluarga yang sederhana tapi masih mempunyai kasih sayang seorang ibu .


Alasan dia mengatakan itu tak lain karena masih mengingat kejadian barusan, meskipun sudah biasa mendapat kata-kata hinaan.Tapi nyatanya dia masih saja terluka dengan kata-kata mereka.karena lidah memang lebih tajam.


"Kamu ngomong apa sih?"Jalan mendekat lalu duduk di samping Mira yang berbaring.


"Jangan ngelantur deh, udah tidur lagi aja atau kamu makan dulu yah sebelum minum obat karena tadi aku udah suruh Dito buat Nebus obat kamu di apotik."Lanjutnya lagi.


Karena sebelum masuk kamar, Siti sempat meminta tolong sama salah satu teman kerjanya untuk ke apotek.


"Aku tidak lapar dan juga aku baik-baik saja jadi tidak perlu minum obat.Aku hanya ingin sendiri sekarang." Mira tidak bergeming, jiwanya cukup terguncang tatkala masih mengingat sadisnya cara mereka terhadapnya.Seolah dia tidak memiliki perasaan.


"Eh..tau gak mba waktu kamu menginap di panti,kamar kamu kan kosong kata anak yang lain kalo malam kaya ada suara.Kalo kamu pernah denger gak pas kamu tidur?"Siti seakan sedang berfikir bagaimana mengalihkan pembicaraan yang mungkin menambah beban pikiran mira ,oleh sebab itu Siti mencoba menakut-nakuti Mira.


Dia tidak sadar wanita yang berbaring di depannya,menggenggam erat selimut tengah ketakutan.Mira diam mencerna omongan Siti.


"Kalo aku sih ogah,amit-amit jangan sampai denger apalagi ketemu."Siti masih gigih menakutinya karena melihat Mira yang sepertinya tidak terpengaruh.


"Baiklah,aku keluar dulu yah banyak kerjaan."


Namun saat siti mulai beranjak berdiri Mira menahan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa,mba Mira butuh sesuatu?"


"K**ena kau,maaf mba aku cuma gak mau mba bertindak yang macem-macem.Lagian aku juga gak mau di salahkan sama tiang listrik itu.Ucap Siti dalam hati.


"Katanya kamu suruh aku makan,jadi suapi aku makan yah."


"gak mungkin kan aku bilang karena takut."ucap Mira dalam hati.


"Okeh"


Mira pun akhirnya sedikit melupakan kesedihannya,karena omongan dan tingkah Siti yang mengalihkan dunianya.


...----------------...


"Sesuai kecurigaan kita tuan,jika dia memang sengaja melakukan nya.


dan satu lagi dia mengatakan jika yang menyuruhnya seorang laki-laki."


Sepulang dari tempat Mira, Ardhan dan Dany kini berada di Apartemen Ardhan ,tepatnya di ruang kerja.


Mereka terus mencari informasi tentang pelaku dari orang suruhan Dany.Mereka menemukan salah satu bukti penting.


"Baiklah ,apa pelaku pelempar telur busuk sialan itu sudah kau bebaskan?


"Sudah tuan?"Dany merasa bingung kenapa ardhan membebaskannya.


"kau pasti ingin bertanya kenapa aku membebaskannya bukan?"Ardhan tau raut wajah Dany yang kebingungan dengan tindakannya.


"Selain karena dia seorang perempuan apalagi ibu-ibu, jadi kau cukup suruh orang mu untuk terus pantau dia dan laporkan jika ada yang mencurigakan".


"Baiklah tuan."


Setelah cukup membahas mengenai masalah tersebut,Dany undur diri.


Hanya keheningan yang menyelimuti ruang kerja Ardhan,dia beranjak dari tempat duduknya dan berganti berdiri mengarah ke jendela kaca besar di ruangannya.


Terdengar helaan nafas dari Ardhan,dia sangat mengkhawatirkan kondisi Mira.Apalagi setelah mendengar kabar dari mba Siti bahwa Mira butuh perawatan untuk psikisnya.Gadis kecil yang dulu ingin melindunginya,sekarang di depan matanya .


Saat ini ia berjanji dan tidak ingin egois jika hanya memikirkan perasaan nya,karena keadaan Mira kini lebih penting.


Ardhan begitu menikmati pemandangan malam dari ruangannya, lampu-lampu kota menyala begitu indah.Ttakkan pernah mengalahkan cahaya rembulan malam.Karena sungguh ciptaan Tuhan yang maha kuasa di atas segalanya.


...***************...

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2