
Semburat cahaya masih terhalang untuk masuk disalah satu kamar Apartemen.Hanya cahaya remang yang terlihat karena sang pemilik kamar masih terlalu sibuk dengan urusannya.Meskipun itu hanya menyibak gordennya saja namun ia tidak sempat atau mungkin karena lupa.
"Argghhh!"Dany mengerang kesakitan.Tangannya terus meremas perut yang sedari subuh terasa diaduk-aduk.
Dia tidak mengingat sudah berapa kali kakinya keluar masuk kamar mandi.Hingga tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
Bahkan dirinya sampai tidak kuat meskipun itu hanya untuk berjalan.
"Padahal sudah minum obat diare,tapi kenapa masih seperti ini."Dany berbicara sangat lirih,lemas seperti tak bertenaga.Keringat di dahinya sampai keluar.
Dia berbaring di ranjang,tangannya mengusap-usap perut dengan botol yang di isi air hangat.Cukup efektif menetralisir rasa sakitnya.
tapi tak lama dia bangun lagi,karena gejolak yang diperutnya minta dikeluarkan.Padahal saat sudah duduk di toilet duduk,sama sekali tak ada yang keluar,malah dahinya yang mengeluarkan keringat dingin.
Dengan tertatih Dany berjalan keluar,memilih menyerah.Sekarang dia duduk di sofa angin berwarna coklat.
Melirik jam weker digital yang atas Nakas.Jam sudah menunjukan waktu 06.00 pagi.
"Mungkin dia sudah bangun."Gumamnya lirih menebak.Lalu dia langsung memencet keypad ponselnya.
"Hallo Ard,maaf hari ini aku tidak bisa datang.tubuhku sedang tidak enak."Ucapnya lirih, tenaganya sudah terkuras habis karena terus mengejan.
"Memangnya siapa yang mau memakan mu?"jawab asal Ardhan,dia kesal karena masalah pelik asmaranya yang tak kunjung selesai.
Saat mengantar Mira pulang,dirinya mencoba meminta bantuan pada Bu Fatimah untuk menyakinkan Mira.Tapi yang dia dapatkan malah petuah jika dirinya dianjurkan untuk bersabar sampai masalah kejelasan hubungan Mira dan Jhon kelar.Karena diantara mereka ada Jessica yang sama-sama putri Jhon meski hanya sebagai anak tiri.
Dany hanya bisa memejamkan matanya,tak kuat kalau harus berdebat.Ikutan kesal karena jawaban Bos Besarnya.
"Maksud aku,tubuhku yang sedang tidak sehat Ard.Aku hanya butuh istirahat."Jelasnya kemudian.Masih di intonasi rendahnya.
"Kamu kenapa?sudah panggil dokter?tumben sakit.Biasanya tubuhmu kuat,sekalipun itu harus bekerja satu bulan full."Ucap Ardhan masih kesal,tetapi ada nada khawatir yang terselip.
__ADS_1
Aku juga hanya manusia biasa Bos.
"Belum Ard,aku tidak sempat menghubungi.Aku terlalu sibuk bolak-balik kamar mandi."
Ardhan tampak mengernyit mendengar jawaban sekretarisnya.
"Ya sudah aku telfon dokter untuk datang ke Apartemen mu.Nanti aku juga akan kirim seseorang untuk bantu merawat mu."
"Terima kasih Ard."
Dan benar saja setelah mematikan ponsel,Ardhan langsung menghubungi dokter kepercayaan nya.Dia juga yang biasa memeriksa kesehatan Ardhan dan Dany secara rutin.
Berlanjut menelpon seseorang yang hendak mengeluarkan motornya.
*
*
"Hallo Nak."Ucapnya begitu panggilan tersambung yang langsung mendapatkan respon."Sehabis jam makan siang,sebaiknya kita datang ke Rumah Sakit.Hasilnya sudah keluar Ard."Lanjutnya lagi singkat.
"Baiklah paman,nanti aku akan jemput Mira dan langsung datang."
Sehabis menelpon Siti untuk menyuruhnya ke Apartemen Dany.Ardhan mendapatkan panggilan dari Jhon jika pagi tadi Dokter spesialis genetika yang menangani hasil tes DNA antara Jhon dan Mira menghubunginya.
"Ayah!"seru Jessica kesal begitu masuk keruangan Presdir.
Jhon masih aktif datang ke kantor,sesuai janjinya jika ia akan terus membimbing Jessica dalam menjalankan perusahaan besar keluarganya.
Meskipun sudah ada Nessa yang beralih menjadi sekretaris Jessica.Namun Jhon berinisiatif jika mungkin Jessica akan lebih nyaman bersamanya.
"Ayah,aku malas berurusan dengan direktur marketing.Dia sama sekali tidak mendengar pendapat ku."Ucapnya kesal setengah merengek,dia mengeluh tentang pendapat nya yang berhubungan bagaimana strategi pemasaran tidak pernah digubrisnya.
__ADS_1
Jhon hanya menghela nafasnya dan tersenyum,merasa cukup kaget dengan tingkah Jessica yang mencoba membodohi nya dengan kepura-puraan putrinya,bertingkah bahwa ia tidak tau apa-apa.Jhon sudah tau kemampuan bagaimana putrinya saat masih kuliah diluar negeri.
Meskipun terlihat cuek dengan kegiatan putrinya saat masih diluar negeri.Tapi sebenarnya Jhon terus memantau lewat Dosen dimana Jessica belajar.
Dan ia tau jika Jessica sudah sangat mampu untuk menggantikan nya.Jadi mungkin dia sengaja memberi pendapat yang bakal ditolak Divisi pemasaran.Agar terkesan bahwa Jessica sangat kurang mampu menggantikan jabatan Ayahnya.Karena Jessica tau jika Ayahnya sangat mempercayai mereka yang sudah bekerja keras mengembangkan perusahaan.Jadi tidak mungkin jika Ayahnya akan memecat mereka tapi mungkin lebih melengserkan Jessica.
"Memangnya apa pendapatmu?"tanyanya saat mereka tengah duduk di sofa.
Jessica tampak gelagapan,dia belum siap jika ditanya seperti itu.
"A_a itu,tadi apa ya?maaf Ayah sepertinya Jess lupa karena terlalu kesal.Pokoknya Jess mohon marahi dia atau perlu pecat saja mereka."
Jhon tersenyum simpul,merasa gemas dengan tingkah putrinya.Karena terkadang dia merindukan sosok Jessica yang manja seperti saat ini.
"Baiklah,Ayah akan menegur mereka yang sudah membuat putri cantik Ayah kesal."Ucap Jhon sambil mengusap sayang kepala Jessica.
Ada rasa nyeri sakit saat melakukan itu,karena Jhon teringat dengan putrinya yang lain yang tidak pernah merasakan kasih sayangnya,bahkan saat masih didalam rahim ibunya.
Ada senyum puas saat mendengar,meski begitu Jessica masih harus terus waspada dan berpikir mencari cara lain jika ini tidak berhasil.
"Satu hal lagi nak, persiapkan dirimu nanti malam,kita akan makan malam dengan seseorang.Ayah akan mengenalkannya padamu."Ucap Jhon menahan Jessica yang hendak bangun.
"Oke Ayah,aku harus tidur.Dia bukan cuma membuatku kesal tapi membuatku merasa bosan."Ucapnya lalu bangun dan menuju kamar khusus yang ada di ruangan itu.
Tidak terlalu penasaran dengan omongan Ayahnya yang mengatakan akan bertemu seseorang.
Rasa khawatir seketika datang,Jhon terus menatap kemana Jessica sampai gadis itu lenyap memasuki kamar.
Semoga kamu bisa menerimanya nak,menerima masa lalu Ayah.
...****************...
__ADS_1