
Keesokannya sebelum Siti berangkat bekerja,dia lebih dulu mengantar Mira pulang ke Panti Asuhan.
Awalnya Mira menolaknya,karena takut Siti mendapatkan masalah karena terlambat masuk kerja.Mengingat Siti masih tergolong karyawan baru.
Namun karena Siti tidak mau dibantah dan sedikit memaksa,akhirnya Mira pun mengalah.
Sesampainya di Panti Asuhan, setelah Mira melepas Siti pergi bekerja dengan motornya.Mira sempat terdiam melihat didepan pintu terdapat dua pasang sendal, laki-laki dan perempuan.
"Sepertinya ada tamu,siapa ya."Gumamnya lirih.
Lantas Mira pun masuk tak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu yang langsung dibalas salam ketiga orang yang tengah duduk diruang tamu.
"Mbok Darmi,Mas Karyo!"Ucapnya begitu kaget melihat siapa gerangan tamu yang datang.Lantas Mira langsung menyalami dan mencium punggung tangan Mbok Darmi dilanjut juga ke Bu Fatimah.Berbeda dengan ke Karyo yang sekedar berjabat tangan saja.
Mira tidak menyangka jika masih bisa bertemu dengan orang yang pernah menolongnya.Sebenarnya Mira juga mempunyai keinginan untuk menengok beliau di kampung lain waktu.
"Mbok kapan sampai?"Tanya Mira,setelah dirinya duduk yang disampingnya Bu Fatimah.
"Baru sampai Neng,nih teh nya masih panas."Jawab Mbok Darmi diselingi senyum sambil menunjuk secangkir teh yang masih mengepul.
Mira dan yang lain hanya terkekeh,seperti biasa sosok wanita ini selalu bisa mencairkan suasana.
"Kamu pulang sama siapa?"tanya Bu Fatimah karena tadi hanya mendengar suara mesin motor berhenti.
"Sama Siti Bu,tapi dia langsung pergi karena harus pergi kerja."
Lantas Bu Fatimah hanya mengangguk,kembali fokus pada tamunya.
"Abah mana ya Mbok?"tanya Mira saat merasa seperti ada yang kurang.Tidak dipungkiri jika dirinya terkadang merindukan sosok laki-laki penyabar itu.
Mungkin saat mengenal Beliau,Mira merasa mempunyai sosok ayah yang tak pernah dirasakannya.
Tapi Melihat wajah Mbok Darmi dan Karyo yang terdiam,membuat Mira berpikir jika sesuatu terjadi setelah kepergiannya dari kampung itu.
"Abah sudah berpulang Mir,dua hari setelah kamu pulang."Yang menjawab Karyo,melihat ibunya tampak tak sanggup untuk menjawab.
__ADS_1
Wajar bila ibunya sangat kehilangan sosok suami seperti Abah Ruslan.
"Innailaihi Wainnailaihi Rojiun."Jawab Mira bersamaan dengan Bu Fatimah.Mereka begitu kaget mendengar kabar duka tersebut,terutama Mira yang mengenalnya.
"Kami turut berduka cita ya Mbok,semoga semua amal baik beliau diterima."Ucap tulus Mira.
"Maaf,jika boleh tau.Beliau meninggal karena apa Bu?"tanya Bu Fatimah ingin tau, saat tau dua orang yang bertamu adalah yang menolong Mira sewaktu kecelakaan.
Maka dari itu Bu Fatimah berniat akan berterima kasih kepada kepala keluarga .Karena sudah menolong dan merawat Mira yang sudah ia anggap putri sendiri.
Namun sayang niatannya belum tersampaikan karena Beliau sudah lebih dulu menghadap Sang Khaliq.
"Abah sakit biasa ,mungkin karena sudah waktunya beliau bertemu Yang Maha Kuasa."Lagi Karyo yang menjawab.
"Bagaimana kabarmu,neng sehat?" kali ini Mbok Darmi yang bertanya mengalihkan pembicaraan.Karena kalau sampai terus membahas tentang suaminya,bisa-bisa dia akan menangis lagi.Bukankah orang yang sudah mati tak patut terus ditangisi.
"Neng Sehat Mbok, Alhamdulillah."jawabnya jujur,secara fisik Mira memang sehat.Lain halnya dengan hatinya saat ini.Namun ia enggan menceritakan pada siapapun,dia tidak mau membebankan pikiran orang lain dengan masalahnya lagi.
Dan begitulah seterusnya,mereka terus berbincang-bincang.Mbok Darmi bercerita pada Bu Fatimah bagaimana Mira bisa ditemukan pada waktu itu.
Melihat ketiga wanita itu yang sepertinya sedang asik,tak ingin mengganggu dan merasa dirinya yang hanya laki-laki sendiri.Karyo pun meminta izin pada ibunya untuk keluar mencari udara segar.
"Bawa minumnya juga Mir,temani dia mengobrol.Mungkin dia bosan mendengar cerita para nenek tua ini."Ucap Bu Fatimah,ternyata beliau menyadari gerak-gerik Karyo saat menatap Mira.
Mira pun keluar dengan membawa secangkir teh milik Karyo.Meninggalkan dua wanita yang berlanjut membicarakan tentang tatacara memanfaatkan lahan sempit untuk bercocok tanam.Karena Bu Fatimah seperti mempunyai keinginan mencoba teknik Hidroponik,membuatnya cukup menarik setelah mendengar cerita dari Mbok Darmi.
"Nanti aku titipin benihnya sama Karyo yah Bu."
Kalimat itu yang terdengar Mira saat hendak keluar dari ruangan.
"Ini teh nya Mas."Ucap Mira saat dirinya menghampiri Karyo yang berdiri di teras depan.Menaruh teh dimeja yang kecil yang di apit dua kursi rotan.
"Makasih Mir."Jawab Karyo lantas dia duduk dan di susul Mira.
Sebelum memulai pembicaraan Karyo menyesap tehnya yang masih panas,karena sebelum di bawa keluar Mira sudah menambahkan kembali isinya.
__ADS_1
"Kenapa nggak telfon?"tanya Karyo,menatap halaman panti yang Asri karena banyak di tumbuhi pohon dan tanaman hias.
Mira terdiam,dia jadi teringat kecerobohannya.
"Mira sebenarnya lupa kalau menyimpan catatan nomor itu di kantong jaket Mas Dan_."Menggantung ucapannya,Mira melirik Karyo yang tengah menunggu kelanjutan ucapan Mira.
"Maaf,Jaket mas nggak sengaja kena tumpahan kuah mie cup waktu di Bus,dan langsung Mira cuci begitu sampai rumah."Mira langsung menunduk begitu selesai dengan pengakuannya.
Dia merasa bersalah,karena secara tidak langsung mengabaikan kebaikan Karyo yang selama ini membantunya.
Karyo hanya menghela nafasnya,tersenyum getir.Padahal waktu itu dia sudah sangat menanti ponselnya berdering,namun nihil_ seseorang yang dinantikan kabarnya tak kunjung menghubungi.
Selama ini Karyo terus bertanya pada sendiri,perasaan apa yang selalu dirasanya saat memikirkan Mira.Namun entahlah saat ini pun ia masih belum tau.
"Sudahlah,aku hanya merasa khawatir saja."
Mira semakin merasa bersalah dengan Karyo saat mengucapkan itu,bagaimana bisa dia mengabaikan amanat laki-laki baik seperti Karyo.
"Bagaimana kabarmu sekarang?"
"Baik mas."Menjawab sedikit percaya diri lagi.
"Jangan bohong,wajahmu mengatakan lain."Mengucapkan dengan menunjuk wajah Mira.
Mira reflek memegang kedua pipinya,dia mencebikkan bibir saat tau Karyo tengah tersenyum.Sadar jika Karyo hanya menjahilinya.
Mereka terus mengobrol hingga tak sadar Adzan Dzuhur berkumandang,barulah mereka mengakhirinya.Mbok Darmi dan Karyo pun akhirnya pamit,mengatakan jika besok Karyo akan mengantar ibunya pulang ke kampung terlebih dahulu.
Dan kembali ke Kota lagi,karena ternyata selama ini Karyo menaruh berkas di sebuah pabrik dan lusa dia akan melakukan wawancara.
"Hati-hati ya Mbok,maaf Mira tidak mengantar sampai ke terminal."Ucapnya sembari merangkul tumbuh tua itu.
"Tidak apa-apa Neng."Tersenyum,lalu berlanjut melangkah keluar dari Panti Asuhan itu setelah mereka berpamitan.
Tak lama kedua tamu itu pergi, kini Mira dan Bu Fatimah yang masih dihalaman melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang Panti.
__ADS_1
Seorang laki-laki terlihat keluar dari mobil tersebut.
...****************...