
Pagi harinya,,,pasangan suami istri itu masih tertidur dengan lelapnya. padahal hari sudah terlihat terang, selimut tebal berwarna putih masih menutupi tubuh polos mereka.Mungkin karena terlalu lama melakukan olahraga malam, mereka jadi kelelahan dan baru tertidur setelah sang istri yang terus meminta berhenti, menyerah dengan keganasan sang suami.
Semalam setelah makan malam, sebelum tidur mereka tengah mengobrol di tempat tidur. Ardhan menyampaikan niatannya untuk mengajak istri bulan madu, meskipun awalnya Mira tak begitu tertarik tapi Ardhan selalu memaksanya dengan alasan ingin membahagiakan sang istri dan ingin mempunyai waktu lebih untuk mereka.
Setelah urusan masalah ajakan bulan madu selesai, tinggal ganti dengan urusan masalah kemana mereka akan pergi. Lagi-lagi mereka berdebat, mereka selalu berbeda berpendapat, tapi tidak sampai berdebat hebat karena mereka saling mencintai .Ardhan yang ingin mengajak Mira ke luar negeri berbeda dengan Mira yang justru ingin bulan madu di dalam negeri.
Obrolan mereka menjalar kemana-mana, sekarang mereka sudah dengan posisi berbaring dengan tubuh Ardhan yang miring dan bertumpu dengan sebelah tangannya. Memandang wajah cantik istrinya yang polos.
Akhirnya Ardhan menyetujui keingian Mira yang ingin pergi ke daerah pegunungan, daerah dimana ia pernah mengalami kecelakaan.
Alasannya karena dia ingin mengunjungi seseorang yang dulu menolongnya, sekalian Mira ingin melihat dimana makam Abah Ruslan berada. Dia merindukan orang-orang yang pernah ia kenal menolongnya dengan tulus.
Karena keinginan istri itulah Ardhan akhirnya menyetujui, di samping dia ingin membahagiakan Mira, Ardhan juga ingin tau siapa yang orang-orang yang pernah menolong istrinya, dia juga penasaran dengan omongan istrinya yang mengatakan jika tempat itu sangat indah.
Obrolan mereka jadi merambat ke hal lain, seperti saat Ardhan menanyakan berapa jumlah anak yang di inginkan istrinya.Berbicara sambil menyentuh perut istrinya.
Ardhan yang ingin mempunyai banyak anak, banyak dalam arti cukup lima anak yang akan meramaikan rumah mereka. Karena Ardhan adalah pewaris tunggal, maka dia ingin mempunyai banyak anak yang akan mewarisi setiap anak perusahaan keluarganya.
Belum apa-apa wajah Mira berubah pias saat tau keinginan suaminya soal anak. Meskipun Mira belum pernah merasakan hamil sampai melahirkan, dari artikel yang pernah ia baca dia tau resiko-resiko yang akan didapatkan saat akan menjadi seorang ibu. Tapi bukan berarti dia tidak menginginkan hanya saja mendengar jumlah anak membuatnya tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika dia sampai mengandung anak Ardhan sampai lima kali.
"Apa kamu serius Bee?"tanya Mira saat itu, dia menatap wajah suaminya yang terlihat senang.
Ardhan tampak sumringah saat Mira bertanya seperti itu, membayangkan jika ia akan hidup dengan di kelilingi lima anak yang tampan dan cantik.
"Tentu saja honey, jadi ayo kita cicil mulai dari sekarang." Ardhan berbicara dengan suara yang sangat menggoda, posisi mereka berubah sangat intim. Ardhan berada di atas tubuh istrinya, mata Ardhan sudah dipenuhi dengan hasratnya yang mulai bergelora.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama karena Ardhan langsung membungkam mulut istrinya dengan bibirnya yang hendak berbicara.
Mereka akhirnya melakukan proses dimana ingin memiliki bayi mungil di antara mereka, buah cinta mereka yang sudah sangat mereka inginkan.
Pergulatan mereka semakin memanas, ada banyak gaya yang Ardhan coba. Sampai pada
akhirnya Ardhan teringat sesuatu namun sebelum itu ia ingin menuntaskan sesuatu akan meledak dari bagian tubuhnya, sesuatu yang berharap akan menjadi hal yang mereka inginkan.
Mira menggeliat saat Ardhan semakin memeluknya, dia memicingkan mata karena sedikit silau dengan cahaya matahari yang masuk ke sela-sela gorden yang tersibak sedikit.
"Bee,,,ini sudah jam berapa?" menanyakan waktu tapi sendirinya malah semakin menenggelamkan wajah di dada bidang suaminya, tak lama Mira terlelap kembali. Mira sedikit malas untuk bangun pagi karena tenaganya terasa terkuras habis semalam.
"Tidurlah lagi sayang, jika masih lelah." Ardhan mengecup kepala istrinya, dia tau kalau Mira pasti masih lelah karena perbuatannya semalam.
Kenapa rasanya tak asing kalau kita habis melakukan?Ardhan terus memandangi wajah istrinya.
"Apapun itu semoga hal baik untuk kita sayang, aku mencintaimu." Gumam Ardhan lirih, lalu dia mengecup dahi istrinya.
*
*
"Kenapa kamu nggak bangunin aku sih Bee?" Ucap Mira di sambungan telefon.
Dia sudah bangun, sudah mandi dan sekarang tengah duduk di depan meja rias sambil menelepon suaminya.
__ADS_1
Saat membuka matanya Mira tidak melihat suaminya karena Ardhan sudah berangkat, karena jam sudah menunjukkan waktu 10 pagi.
Sebelumnya saat Ardhan melihat istrinya yang terlelap kembali Ardhan beranjak dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Kini dia berada di ruangannya, Dany sedang membereskan berkas yang akan di tanda tangani Ardhan.Ternyata pihak Supplier bahan datang lebih awal, jadi Ardhan bisa menandatangani semua berkas lebih dulu sebelum keberangkatan bulan madu.Jadi waktu bulan madu mereka tidak akan terusik dengan pekerjaan Ardhan.
Dia juga sudah mengkonfirmasikan pada Sekretarisnya soal perubahan tempat bulan madunya yang akan pergi ke daerah pegunungan sesuai permintaan istrinya dan meminta Dany untuk mengurus semua keperluan mereka selama bulan madu.
Karena tidak mau mengusik mood bosnya yang terlihat sedang bahagia, Dany hanya menuruti saja semua perintah bosnya.
Hah, padahal sudah aku pesan...visa Nona juga sudah diurus, tapi apalah daya yang hanya seorang bawahan.
Kemarin setelah Ardhan memerintahkan kepadanya, Dany langsung mengurus semua, namun sekarang Ardhan malah membatalkan semuanya yang sudah Dany persiapkan.
Di tempat lainnya, Jessica menyeringai puas karena rencana untuk mengerjai asisten barunya sudah dimulai.
Ternyata soal dirinya menerima Karyo sebagai asisten karena mempunyai niat jahat, dia masih mempunyai dendam soal kata-kata Karyo sewaktu pernikahan Mira dan Ardhan.
Saat itu dia merasa di permalukan, padahal niatnya hanya untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah menghina adik tirinya. Tetapi Karyo malah mengkritik nya sebagai wanita yang tidak mempunyai sopan santun.
Alhasil sekarang Jessica merasa beruntung karena ternyata orang yang akan menjadi asisten nya adalah orang yang sama, orang yang sudah membuatnya malu dua kali, pikir Jessica. Padahal yang kedua justru dia yang membuat malu sendiri karena kecerobohannya.
Sekarang kita lihat, siapa yang lebih tidak sopan saat ini.
...****************...
__ADS_1