
Kini Senja hari mulai terlihat,menandakan beberapa aktifitas hidup berhenti untuk sejenak.Namun tidak dengan Mira,dia terlihat sedang menata bahan-bahan masakan di dapur Panti.
Setiap hari Mira selalu membantu memasak.Meskipun orang yang di bagian dapur sudah ada,tapi lagi-lagi Mira merasa keberadaannya membuatnya takut akan merepotkan orang lain.
"Boleh aku minta tolong sama mba Siti?"Tanya Mira,sambil tangannya memilah sayur yang akan ia masak.
"Minta tolong apa?"Siti menjawab tanpa menoleh,dia masih sibuk dengan bawangnya.
Dari pagi kedatangannya dia belum juga mau pulang ,dengan alasan masih merindukan Mira.Padahal besok dia harus bekerja berangkat pagi.
"Temani aku membereskan alat-alat kue di toko,nanti biar kurir yang mengantarnya."
"Untuk apa?"terkejut,Siti langsung membalikkan tubuhnya,menaruh pisau dan bawang yang dipegangnya.
Dengan sesenggukan dia menghampiri Mira.
"izt,aku hanya mau memulai jualan kue lagi.Jadi mba Siti tidak usah menangis."Mira berasumsi sendiri melihat mata Siti yang sembab.
"Siapa yang menangis?ini semua karena dia."katanya kesal,dengan menunjuk ke arah pisau dan bawang yang sejak tadi dia kupas kulitnya.
Seketika Mira membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.Merasa malu karena terlalu percaya diri dengan perkataannya.
"Maaf."Melanjutkan kegiatannya,meracik bumbu yang akan ia gunakan untuk memasak sayur SOP.
Sedangkan Siti tetap melanjutkan mengiris bawangnya yang membuat matanya sembab,meskipun ini sudah terbiasa dilakukan, sewaktu bekerja di rumah makan pamannya dulu.Namun entah mengapa dia selalu seperti itu.
Mereka sama-sama fokus dengan bagian masing-masing,menunda pembicaraan terlebih dahulu.
Sampai beberapa menit setelah semuanya matang,Mira dan Siti di bantu satu orang menyiapkan makanannya dimeja makan.
Tak lama setelah semua anak-anak Panti sudah menjalankan ibadah utamanya,mereka kini berada di meja makan,mereka menikmati semua yang tersaji di atas meja, mereka bersyukur masih di beri kesempatan untuk menikmati hidup.
"Lanjutkan!"ucap Siti mengagetkan Mira.
Mereka kini duduk di teras depan,setelah membereskan meja makan.
"izt, mengagetkan.Bahasamu kaya pencalonan."Ucap Mira kesal namun terkekeh karena kata-kata sendiri.Sejak tadi Mira tengah melamun,entah apa yang ia pikirkan.
"Masya?"jawabnya Siti ikut ngelawak.Setelahnya mereka sama-sama terkekeh dengan kekonyolan mereka.
Tak lama Siti ikut duduk di samping Mira,kaki mereka sama-sama selonjoran di lantai teras depan.
__ADS_1
Sama-sama menatap keatas,awan bertambah gelap namun malam itu tak seperti biasanya, tak ada bintang yang biasa menghiasinya.
"Sekarang katakan apa maksudmu tadi?"Siti memulai obrolan,menagih jawaban tadi yang masih belum jelas untuknya.
"Yang mana?"bicara masih sibuk menatap keatas.
"Ih,tentang kue."
"oh itu,aku cuma pengen jualan lagi.Tapi masih bingung."Suara Mira mulai pelan,kini kepalanya menunduk.
"Kenapa?"Fokus,menunggu jawaban dari Mira.
"Aku masih takut,jika orang masih mengenaliku siapa."ucap Mira jujur,nada bicaranya berubah sedih,mengingat bagaimana orang-orang memperlakukannya.
"Sudahlah tidak usah kamu pikirkan masalah itu.Nanti yang ada kamu bakal nggak maju-maju."
"Apanya yang maju?"tanya Mira menatap bingung.
"Bibirmu yang maju,tentu saja usaha jualan kue."jawabnya kesal,ada jeda sesaat."Bikin semua orang mengenalmu hanya karena hasil jualan kue kamu bukan masa lalu kamu."penasehat beraksi.
"Kalau kamu terus menengok kebelakang,yang ada usahamu untuk berubah juga tidak akan semulus kaya jalan tol."Selorohnya Siti kemudian.
"Semoga saja dia memang benar orang yang tepat untukmu,untuk terus membuatmu tertawa bahagia seperti itu.Doa Siti untuk Mira.
"Terima kasih."Ucapnya tulus
"untuk apa?"
"Semuanya,semua yang pernah mba Siti lakukan untukku."ucapnya dengan suara yang mulai serak, setetes air kepedihan meluncur dari matanya.Mempunyai kehidupan yang kelam membuatnya terkadang merasa tidak pantas untuk hidup.
Mira selalu dihantui dengan kesalahannya dulu,setiap orang yang disampingnya mendapatkan musibah,ia selalu berpikir jika itu karena ada kaitannya dengan profesi nya dulu.
"Aku hanya melakukan yang pantas untukmu.Jadi tidak usah menangis."Siti mengatakan sembari mengusap air mata Mira.
Dalam keheningan mereka sama menikmati angin yang mulai terasa dingin,menerpa wajah lelah mereka yang seharian ikut mengurus anak-anak panti.
Namun semua itu terbayar dengan kebersamaan anak-anak panti,mereka yang jauh dari orang terkasihnya seakan mendapatkan kebahagiaan yang lama mereka rindukan.
Tring...!!
Suara notifikasi terdengar dari ponsel Siti,seketika ia langsung mengeluarkan dari saku jaketnya dan mengeceknya.
__ADS_1
Terlihat nama sekretaris Tiang di layar ponselnya.
Buru-buru Siti membukanya,karena biasanya Dany selalu memberi tahu apa saja tugas yang harus dilakukannya besok ketika di kantor lewat pesan singkat,dan itu sempat membuatnya bingung.Karena setau Siti itu bukan tugasnya seorang sekretaris CEO seperti Dany.
Cukup lega ternyata isi pesan tersebut bukan seperti yang ia kira karena isinya bukan untuknya melainkan untuk wanita yang berada disampingnya.
Namun dia ragu-ragu untuk menyampaikan pada Mira,meskipun dia tau Mira yang terlebih dulu mengajaknya bertemu.Alasannya karena lokasi yang diinginkan Tuan Ardhan.Karena Siti tau Mira masih enggan untuk berada di keramaian.Mira masih trauma,dia takut kondisi Mira yang dulu masih ada di diri Mira saat ini.
Tapi dia ingat dengan kata-katanya sendiri yang baru saja ia katakan pada Mira.
"Mba."
"Iya."jawab Mira singkat.
"Apa ada kabar buruk tentang ibu?"tanyanya
menatap wajah Siti yang terlihat seperti orang yang tengah kebingungan.Karena Mira tau kondisi kesehatan ibu Siti yang naik turun.
Siti hanya menggeleng,namun setelahnya malah bertanya sesuatu.
"Mba Mira jadi mau bertemu Tuan Ardhan?"
Sedangkan Mira sepertinya juga nampak bingung,dirinya masih terpikirkan dengan berita putusnya hubungan Ardhan dengan tunangannya ada kaitannya dengannya.
Meskipun tak menampik jika dirinya ada rasa bahagia saat tau laki-laki yang masih dicintainya tidak mempunyai hubungan dengan siapapun.Tapi kembali dengan keadaannya sendiri,dia masih belum percaya diri.
Maka dari itu,dia ingin mengkonfirmasikan sendiri apa yang ditakutkan nya.
"Iya,ada sesuatu yang ingin aku tanyakan langsung.Kenapa memangnya mba?apa dia tidak bisa karena sibuk?"
"Tidak,bukan itu,tapi apa mba nggak keberatan jika lokasi ketemunya sedikit ramai?"mencoba bertanya,Siti menelisik wajah Mira yang tampak ragu.
"Memangnya dimana?"masih menimbang akan keputusan yang Mira ambil,namun ia sudah bertekad jika ia harus bertemu langsung.
"Pantai"
Sejurus kemudian Mira terpaku dengan jawaban Siti.
"Ada apa lagi ini?kenapa lagi-lagi dia memilih tempat seperti itu?pantai kan termasuk tempat yang romantis."
...****************...
__ADS_1