
Acara pernikahan sekaligus resepsi Ardhan dan Mira kini sudah selesai.Tamu undangan yang kebanyakan relasi bisnis Ardhan sudah kembali kekediaman mereka masing-masing.
Jhon belum mengumumkan siapa Mira,karena Mira sendiri yang meminta jika dirinya belum siap.Padahal Jhon dan Ardhan hanya tidak ingin jika ada seseorang yang akan menghujat Mira jika saja masih ada yang mengenal seperti apa masa lalunya.
Ketakutan Jhon dan Ardhan bukan hanya tentang masa lalu Mira tapi juga tentang Jessica yang tak lain adalah mantan tunangan Ardhan.
Mereka tidak ingin Mira kembali menerima hinaan tentang hubungan mereka,karena sekarang dialah yang menjadi pengantin wanitanya.
Kini hanya sisa kemeriahan resepsi saja yang terlihat sedang dibereskan para pelayan dan pekerja,Dany dan Siti sudah tidak tampak.Hari itu mereka dibebaskan untuk beristirahat setelah mengatur semua acara pernikahan Ardhan.
Begitu juga dengan Bu Fatimah dan Jhon,mereka sudah kembali ke kamarnya masing-masing.
Sedangkan Jessica masih berjalan di koridor Hotel,dengan tergesa-gesa dia mencari dimana No kamarnya.Sampai tidak menyadari jika pintu yang akan ia tuju sudah ada laki-laki yang tengah berdiri didepannya.
Karyo tampak kesusahan saat akan membuka akses pintu,karena ini adalah pengalaman yang pertama kali untuknya.
"Ini gimana sih bukanya,,susah juga jadi orang kaya.mau buka pintu saja ribet! ini lagi aneh kuncinya pakai kartu begini." Karyo sejak tadi hanya membolak-balikkan kartu akses yang ia pegang,masih mencari letak tempat untuk menggesek kartu, dia berpikir jika cara penggunaannya sama dengan kartu ATM yang di masukkan.Padahal pihak hotel sudah memberitahu cara menggunakannya jika hanya ditempelkan saja.
"Minggir! ngapain kamu didepan pintu kamarku?!" Jessica marah karena dia pikir laki-laki tersebut akan berbuat macam-macam.
Karyo yang kaget dengan tindakan Jessica hampir saja jatuh,tetapi beruntung dengan tubuhnya yang besar tinggi hanya bergeser sedikit,meskipun dorongan Jessica kuat tapi masih kalah dengannya.
Jessica mengambil alih,dia terus mencoba menempelkan kartu tapi tidak berhasil juga.
"Iz,wanita ini lagi!" gerutu Karyo setelah tau siapa wanita yang disampingnya,sambil mengusap lengannya yang didorong tadi.
Karyo penasaran kenapa Jessica tiba-tiba mengklaim itu sebagai kamarnya padahal jelas-jelas nomor kartu yang tengah dipegang dengan nomor kamar sama,lalu kenapa wanita ini mengaku bahwa ini kamarnya.
"Anda tidak salah kamar kan Nona?"tanya Karyo yang sama sekali tidak digubris Jessica, karena Jessica masih sibuk dengan kartunya.
"Apa pintu ini rusak?kenapa susah sekali sih?!" geram Jessica kesal yang akhirnya menyerah.
Lalu kemudian Jessica mengeluarkan ponselnya dan langsung mencoba menghubungi bagian pelayanan hotel berniat meminta bantuan.Tapi belum tersambung panggilannya, Jessica mendengar suara pintu terbuka.
Klik..
__ADS_1
Seketika dia melihat Karyo yang tengah mengibaskan kartu yang dia pegang dengan seringai meremehkan.Karyo bisa membukanya karena dari tadi dia memperhatikan cara Jessica menggunakan kartu aksesnya.
"Lagi-lagi karena amarah Anda menjadi tidak waras Nona." Setelah mengatakan itu Karyo langsung masuk meninggalkan Jessica begitu saja.Wajah Jessica berubah pias karena malu.
Bodoh! apa yang kulakukan?! aaaaaaa...
*
*
Dikamar presidential suite,kamar pengantin yang sudah disulap sedemikian romantis oleh pihak hotel.Lebih tepatnya Ardhan yang meminta ditata lebih indah dari yang biasanya.
Begitu masuk akan disuguhkan aroma bunga mawar yang semerbak, karena seluruh lantai kamar dipenuhi kelopak mawar merah yang bertebaran dimana-mana, termasuk ranjang king size yang diruangan tersebut.
Lampu kelap-kelip disusun berbentuk hati,sangat indah jika dimalam hari.
Mira dan Ardhan sudah berada didalam,mereka duduk bersisian ditepi ranjang.Ardhan sudah mengganti pakaian pengantin dengan baju tidur. Tapi tidak dengan Mira, dia menutupi pakaian kurang bahannya dengan handuk kimono.
Pasti Kak Jessica yang mengambil semua bajuku dan menggantinya dengan ini.
Tidak ada yang bersuara,mereka sama-sama terdiam karena bingung harus memulai darimana.
Lebih-lebih Mira dia terus menunduk dan merasa tidak pantas untuk Ardhan.
"Honey..." Ardhan memulai,dia langsung meraih tangan Mira.Menggeser duduknya lebih dekat lagi.
Terasa dingin karena baru saja mandi,tapi Ardhan tau ada sesuatu yang dipikirkan istrinya tersebut saat genggaman tangannya terasa bergetar.
Ardhan menarik dagu istrinya,mata mereka saling bertatapan.Ada air mata yang sepertinya ditahan Mira agar tidak menetes.
"Ada apa?apa aku melukaimu?"
Mira menggeleng,terdengar helaan nafas pelan dari Ardhan.
Kini Ardhan menggeser tubuhnya agar lebih leluasa untuk menatap istrinya.
__ADS_1
"Katakan honey,apa yang membebani pikiran mu?jangan seperti ini." Kini Ardhan meraih kedua tangan Mira.
Hening sejenak diantara mereka,hanya suara deru nafas mereka berdua lah yang terdengar.
"Aku minta maaf Bee.." Ucap Mira masih menundukkan kepalanya.Tubuhnya juga bergetar.
Momen malam pertama mengapa diawali dengan tangisan,pikir Ardhan.
"Aku sudah tidak lagi utuh untukmu,seharusnya kamu bisa mendapatkan yang lebih pantas lagi,maafkan aku Bee."
"Aku mohon jangan katakan itu lagi,aku memilihmu karena aku mencintaimu,karena aku tulus menerima semua yang ada padamu dulu dan sekarang." Ardhan merengkuh tubuh Mira kedalam dekapannya.
"Honey,,,bisakah kita memulai dari awal?tidak ada lagi masa lalu yang menjadi beban untukmu mulai sekarang."
Ardhan berbicara sambil menangkap kedua pipi Mira dengan tangannya.
"Apa kamu mencintaiku?"Mira mengangguk, "Kamu berjanji tidak lagi mengungkit masalah ini?" tanya Ardhan lagi yang di jawab Mira dengan anggukan.
Mira merasa sudah lebih tenang,kini dia sudah siap jika mereka melakukan yang seharusnya dilakukan sepasang pengantin dimalam pertama mereka.
Malam semakin larut,dinginnya ruangan karena AC sudah tidak terasa untuk dua orang yang sudah diselimuti gairah yang panas.
Kini mata Ardhan berpindah pada bibir indah Mira yang sejak tadi diam,deru nafas mereka terasa di wajah masing-masing.
Masih memegang kedua pipi Mira yang bersemu merah,Ardhan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
Mira hanya diam menerima semua apa yang akan dilakukan dengan laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Sampailah bibir Ardhan berlabuh dibibir manis Mira,awalnya hanya sentuhan dan kecupan yang Mira rasakan, sampai akhirnya Ardhan mencoba menerobos bibir Mira agar masuk semakin dalam.
Lidah mereka saling membelit saat Ardhan berhasil membuka mulut Mira, jantung mereka berdua semakin cepat berpacu.Gairah mereka semakin meningkat manakala Ardhan semakin dalam menyesap.
Sampai nafas mereka yang tersengal karena kehabisan oksigen,mereka sama-sama melepaskan namun tidak dengan dahi mereka yang masih beradu.
"Honey,bolehkah aku meminta malam pertama kita malam ini?"tanya Ardhan dengan nafas tersengal-sengal yang di jawab langsung dengan anggukan.
__ADS_1
...****************...