
Dari sekian banyaknya tempat wisata yang dicari di medsos, Ardhan lebih memilih pantai.Selain karena Mira memang menyukainya,tempat itu hanya ramai ketika waktu libur.Selebihnya hanya beberapa pengunjung yang entah warga sekitar pantai yang menghabiskan waktu atau pengunjung lain yang memang hanya ingin menjernihkan pikirannya saja diwaktu kosong mereka.
Tiket masuk pun sangat murah meriah,hanya sepuluh ribu untuk sepeda motor dan dua puluh ribu untuk transportasi roda empat.
Panas matahari mulai menyengat kulit meskipun hari itu angin bertiup cukup kencang,mereka kini duduk berteduh dibawah pohon Ketapang yang daunnya rindang.Dengan hanya beralaskan tikar yang Ardhan sewa dari bapak-bapak penyewa ban bekas yang dijadikan pelampung dan tikar.
"Aww!"
Tiba-tiba saja Ardhan mengaduh,lidahnya tergigit saat dirinya dan Mira tengah makan siomay yang dibelinya di pinggir jalan saat mereka menuju lokasi.
Perasaan ku jadi tidak enak ya?
"Kenapa Bee?"tanyanya khawatir karena mendengar Ardhan mengaduh,Mira juga melihat Ardhan tengah meringis.
"Tidak apa-apa Honey,lidahku hanya tergigit sedikit tadi."
Wajah khawatir Mira seketika berubah memerah mendengar panggilan itu yang terasa menggelikan di telinganya.
Ah,telingaku masih saja geli tiap kali dia memanggil dengan sebutan itu,tapi aku juga suka,hihi.
"Jangan-jangan ada yang menyumpahi kamu Bee?"hal konyol terlintas begitu saja dipikirkan Mira.
"Haaa,itu tidak mungkin Honey."Tertawa,setelahnya menghabiskan sisa siomay yang hanya tinggal dua potong.Ardhan bergumam dalam hati tentang kata-kata Mira jika mungkin ada orang yang menyumpahinya.
Memangnya siapa yang berani menyumpahi ku,jika memang ada.Akan aku sumpahi balik dia sakit perut.
Dia tidak tau jika gumamnya berefek pada seseorang.Meskipun itu hanya mitos.Terkadang memang iya jika kita harus bisa menjaga lisan kita sendiri untuk kesejahteraan bersama.
Setelah menyudahi list pertama kencan mereka,dengan mengisi perut.Dan rasanya ada yang kurang jika tidak meminum minuman wajib jika berkunjung ke pantai,minum air kelapa langsung dari buahnya.
Rasanya sungguh manis dan segar saat melewati mulut dan kerongkongan.Karena itu banyak orang yang menyukai buah tersebut,karena airnya tak cuma menghilangkan dahaga tetapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan.Begitu juga dengan dagingnya.
__ADS_1
Mereka belum beranjak dari duduknya.Namun Ardhan terlebih dahulu membayar minuman buah kelapa.Lalu berlanjut membayar uang sewa tikar,namun kali ini dia memberinya lebih berkali-kali lipat dari sewa biasanya,membuat sang empunya girang bahagia sambil mengucapkan rasa terima kasih berulang-ulang,karena biasanya dia akan mendapat uang lebih jika hanya di hari libur saja itupun masih kalah dari jumlah yang Ardhan berikan.
Bapak itu bergegas merapikan usahanya,memeluk erat tas yang berisi tumpukan uang.Beliau sudah tidak sabar memberitahu keluarga kecilnya jika hari yang panas ini baru saja mendapatkan uang kaget dari laki-laki tampan.Mungkin beliau akan mengatakan hal itu.Entahlah.
Sambil menunggu panas matahari berubah senja.Mereka masih menikmati pemandangan indah yang Tuhan suguhkan ke mereka.
Duduk bersisian dengan kekasih tercintanya hanya beralaskan tikar di bawah pohon saja sudah membuatnya sangat bahagia.Selama ini Ardhan tidak pernah memikirkan seperti apa kelak hidupnya.Dia hanya memikirkan pekerjaan yang sudah dibebankan dipundaknya saja.
Begitupun dengan Mira,masa lalunya yang kelam membuatnya mengubur semua keinginan untuk masa depannya.Merasa tak pantas hanya untuk memikirkan tentang pasangan hidup yang akan menemani di masa tuanya nanti.
"Kenapa hanya penyewa tikar saja?"Mira mengawali pembicaraan diantara mereka setelah ada jeda keheningan.
Ardhan mengernyitkan dahinya,merasa kurang jelas dengan pertanyaan Mira.Namun di detik berikutnya dia tersenyum,mulai tau kemana arah pertanyaan nya.
"Kamu lihat tidak,penjual kelapa itu?"
Mira menengok kebelakang,cukup bingung dengan kalimat Ardhan.Melihat tenda yang bertuliskan Sedia Mie Ayam Dan Bakso tapi menyediakan juga minuman kelapa muda.Seorang Ibu-ibu gemuk tengah melayani pelanggan yang mungkin membeli diantara menu itu.
"Dia itu berpenghasilan cukup,berbeda dengan bapak-bapak tadi yang hanya mengandalkan dari sewaannya saja."Ardhan mulai memberitahu alasannya.Mira tampak mengangguk mengerti.
"Memang kamu juga tidak melihat tadi benda apa yang ada di kedua tangan ibu-ibu itu?"lanjutnya lagi menunjuk tangan Mira.
"Ibu itu masih mampu,terlihat banyaknya perhiasan yang dia pakai.Berbeda dengan pemilik tikar yang kita sewa,belum tentu saat pulang beliau membawa uang untuk anak istrinya."
"Meskipun jangan pernah membedakan saat kita menolong seseorang,tetapi juga kita perlu pilih siapa yang lebih pantas untuk kita tolong."Kata-kata bijak Ardhan membuat wanita yang disampingnya merasa beruntung karena sudah menjadi wanita spesial saat ini.
Karena bukan hanya bapak penyewa tikar saja yang ditolongnya,melainkan hidupnya yang lebih buruk karena pernah hidup di dasar yang penuh dosa.
"Terima kasih Bee."ucap Mira tulus,dia menatap sendu wajah tampan kekasihnya.
Ardhan mulai mendekatkan tubuhnya,mendekati wajah Mira yang mulai tegang."Ucapan terima kasihnya diganti yang lain saja nanti."Ucapnya berbisik yang seketika membuat Mira meremang.
__ADS_1
"Dasar mesum!"ucapnya langsung menutup telinganya yang berubah merah setelah mendorong jauh tubuh Ardhan.
"Siapa yang mesum?memang apa yang kamu pikirkan Honey?"ucapnya menggoda dengan mengerlingkan mata yang sukses menambah gelak tawa hanya untuk Ardhan.Tidak untuk Mira yang justru kesal dengan kelakuan Ardhan.
Memangnya apa yang kupikirkan.Ck
*
*
Tak terasa waktu begitu cepat,panasnya Matahari yang begitu gagah berada di cakrawala berubah senja.Matahari tenggelam atau yang biasa disebut Sunset Sudah menunjukkan keindahannya,membawa kesan romantis untuk dua anak manusia yang sedang berjalan menyusuri bibir pantai.
Saling bergandengan tangan,air laut tampak menerpa kuat di kaki putih mereka.Angin sore mulai terasa dingin.
Mira terdengar menghela nafas, rupanya seharian ini pikirannya masih saja bimbang.
"Kenapa?"tanya Ardhan,dia menghentikan kakinya yang berjalan membuat Mira juga melakukannya.
Dia tersenyum,menatap dalam wajah penasaran laki-laki yang kini menjadi penghuni dihatinya.
"Jika memang aku putrinya,itu berarti aku nona Jessica adalah saudara.Lalu apa yang harus aku lakukan,dia sangat mencintaimu Bee."Ucapnya pelan,Mira menunduk.Dia mulai takut akan kehilangan sosok laki-laki yang tengah menggenggam tangan nya.
Dia berpikir,jika ibunya saja mau berkorban dengan membiarkan Ayahnya menikahi ibu Jessica karena balas budi.Lalu sekarang apa dia juga harus berkorban merelakan laki-laki yang dicintainya untuk wanita yang akan menjadi saudaranya.
Ardhan semakin erat menggenggam tautan tangan mereka.Tangan satunya menyentuh dagu Mira dan mendongakkan membuat mata mereka saling menatap.
Ada hawa panas yang tercipta dari tatapan itu,desiran hati mereka mengalahkan deburan ombak yang menerpa kaki mereka.
Wajah mereka mulai mendekat,mata Ardhan seketika fokus menatap bibir tipis Mira yang indah.
Belum lagi degupan jantung mereka mulai tak normal.genggaman mereka mulai berkeringat,dan semakin dekat,semakin tipis jarak wajah antara mereka.Dan_
__ADS_1
...****************...