
Sebulan berlalu, pasangan pengantin baru masih hangat-hangatnya selalu menunjukkan kemesraan mereka, Ardhan kini tidak lagi pendiam, dia justru semakin memamerkan tingkah yang tak biasanya,meski itu di kantor sekalipun.
Mungkin karena jatuh cinta, dia jadi seperti itu.
Ardhan terlihat sibuk, berkas-berkas proyek pembangunan mall dan hotel tampak bertumpuk dimeja kerjanya.
"Bagaimana sudah kamu urus?" tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah ia tandatangani Ardhan bertanya.
" Sudah Tuan dan Tuan Jhon sudah setuju, bahkan beliau langsung menugaskannya." Jelas Dany, dirinya di perintahkan untuk ikut mencari asisten pribadi untuk Jessica. Mengingat sekarang dia sudah menjadi Presdir Miller Crop
Kali ini Ardhan mendongak menatap sekretarisnya, tersenyum saat membayangkan bagaimana Kakak iparnya dan asisten barunya yang tak lain musuh bebuyutan sendiri.
Beberapa hari yang lalu Ayah mertuanya meminta bantuan Ardhan untuk mencarikan asisten untuk Jessica, karena selama ini orang yang melamar pekerjaan tersebut selalu di tolak Jessica dengan alasan yang tidak jelas.
"Apa ada sesuatu Tuan?" tanya Dany karena melihat Ardhan yang terus tersenyum.
"Tidak ada, aku hanya merindukan istriku saja." Ucapan Ardhan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan." Apa menurutmu dia akan bosan tinggal di rumah utama?" lanjutnya lagi, ada sedikit rasa khawatir mengingat Mira dulu tinggal di panti yang ramai karena keberadaan anak-anak.
Semenjak menikah Ardhan mengajak Mira untuk pindah ke rumah utama, rumah keluarganya yang penuh kenangan manis dan pahit. Karena semenjak mengenal Mira dia sedikit berupaya menghilangkan trauma karena masa lalunya di rumah itu.
.Hah si bucin mulai, separah itukah efek jatuh cinta?
"Sepertinya tidak Tuan,, karena sekarang Nona Mira dan ibu saya sudah mulai akrab dan teman Nona juga beberapa kali mengunjunginya." Jelas Dany yang ditanggapi Ardhan dengan anggukan mengerti. Dia tau siapa teman istrinya yang tak lain adalah Siti.
" Kapan ada jadwal kosong?" tanya Ardhan tengah berpikir." Mungkin jika ada selama seminggu ." Lanjut Ardhan lagi, setelahnya dia menyesap kopi latte yang hampir dingin karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, karena Ardhan ingin secepatnya pulang menemui Mira.
Dany tengah berpikir, mengingat jadwal agenda bosnya, dia masih setia berdiri di hadapan Ardhan di balik mejanya.
__ADS_1
" Sepertinya dua hari lagi jadwal Anda kosong selama seminggu Tuan, karena kita masih menunggu bahan yang kita butuhkan dari pihak Supplier bahan bangunan.
" Baguslah, siapkan tiket untukku dan istriku. Dan selama kepergian ku, kau urus semua dan laporkan saja lewat email jika ada yang menurut mu penting."
"Memangnya selama seminggu Anda akan pergi kemana Tuan?" tanya Dany penasaran, Ardhan sudah beranjak dari duduknya, dia juga sepertinya sudah siap akan pergi.
" Tentu saja honeymoon bersama istriku." jawab Ardhan tersenyum, bersamaan dengan dirinya yang langsung keluar dari ruangannya. Dia jadi ingat dengan istri cantiknya karena itu selesai menandatangani semua berkas-berkas nya Ardhan langsung pulang.
Aku jadi kangen Mira.
Dany langsung mencebik jiwa jomblonya meronta mendengar bosnya akan pergi bulan madu.
*
*
Sore itu Mira terlihat sedang menyiram tanaman bunga milik nyonya rumah, semenjak kepergian tuannya biasanya bunga- bunga tersebut bibi pelayan yang merawatnya. Tapi kini setelah Tuan muda mereka memiliki istri jadilah Mira yang sekarang ganti merawatnya.
Mira juga dengan senang hati menerima tugas itu, di samping karena tanaman tersebut milik mertuanya, dia juga merasa bosan jika tinggal di rumah besar itu tanpa ada yang dia kerjakan.
" Mira ,teh nya di minum dulu." Ucap Bu Ratih, ibunya Dany sekaligus yang selama ini mengurus rumah utama.
Sepeninggal orang tua Ardhan dan suaminya yang bekerja sebagai asisten Tuan Prayoga, karena Bu Ratih termasuk orang kepercayaan keluarga Prayoga.
Mendengar itu Mira menengok ke asal suara, dia langsung menaruh selang air yang tengah digunakan saat menyiram tanaman bunga itu.
"Terima kasih Bu, tapi lain kali ibu gak usah bikinin Mira minum nanti biar saya minta tolong yang lain saja." Ucapnya saat Mira sudah mendekat ke arah Bu Ratih, kini mereka tengah duduk bersama di teras belakang dimana terdapat taman yang cukup luas dan kolam renang.
__ADS_1
"Ibu senang sekarang Ardhan tampak lebih terbuka, tidak seperti saat kepergian Nyonya. Dia tampak lebih pendiam padahal sifat aslinya tidak seperti itu." Bu Ratih menatap wajah Mira." Ibu mewakili Ardhan untuk berterima kasih padamu Nak, mungkin berkat kehadiranmu hidupnya lebih berwarna sekarang." Ucapnya sambil mengusap tangan Mira sayang, tangan Bu Ratih yang sudah semakin renta dan keriput.
Mira tidak menyangka jika masa lalu suaminya juga begitu berat, sudah menjadi yatim piatu semenjak kecil apalagi menyaksikan sendiri bagaimana ibunya meregang nyawa. Tapi dia cukup bersyukur setidaknya trauma yang dialami Ardhan tidak terlalu parah.
Mira menggelengkan kepalanya." Saya yang seharusnya berterima kasih dengan suamiku Bu, karena berkat dia saya bisa keluar dari kehidupan masa laluku."
Bu Ratih tampak mengernyitkan keningnya, " Kalau boleh tau memangnya masa lalu seperti apa nak?" tanya Bu Ratih cukup penasaran.
Mira hanya tersenyum, tidak mungkin dirinya memberitahu aibnya sendiri. Karena sudah cukup banyak orang yang mengetahui masa lalunya.
Bu Ratih sepertinya paham jika Mira tidak bisa memberitahu, karena dia tau setiap orang pasti mempunyai rahasia kehidupan masing-masing yang tidak bisa orang lain tau.
" Ya sudah, ibu tinggal dulu ya ke dalam." Ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
Mira mengiyakan, lalu dia ikut beranjak dari duduknya juga. Sekarang berdiri menatap setiap kuntum bunga yang mulai bermekaran. Bu Ratih sudah memberitahu jika setiap bunga yang mati dia akan mengganti dengan bibit bunga yang baru, karena dia tidak ingin di setiap sudut yang ada di rumah mewah itu jangan sampai ada yang berubah. Supaya jika suatu saat Ardhan kembali ke rumah utama, dia tidak akan kehilangan kenangan tentang kedua orang tuanya.
Sore itu semilir angin nampak dingin, menerpa wajah Mira yang terlihat semakin cantik. Semenjak menjadi istri seorang Ardhan Prayoga kehidupan Mira kini lebih berarti. Dia ingin membahagiakan suaminya, memberinya banyak buah hati mereka.
Dia juga merasa bahagia sekarang, ternyata dirinya masih mempunyai anggota keluarga yang masih mengalir darahnya. Seorang Ayah yang baru ia ketahui.
"Aku jadi kangen sama Ayah." Gumam Mira lirih.
Grebbb
Seseorang mengagetkan Mira memeluknya dari belakang , sontak membuatnya kaget dan takut, membuat Mira berniat memukul orang itu.
...****************...
__ADS_1