Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 55.Luka Lama


__ADS_3

Masih di hari yang sama, dimana dua orang masih sibuk dihari kencan pertama mereka dan seorang bawahan yang masih berkutat dengan setumpuk pekerjaannya.


Jessica sendiri sudah mau mulai bekerja,dengan didampingi Nessa sekretaris barunya.Yang akan membimbing tentang pekerjaan,selagi Jhon masih sibuk mengurus kesaksiannya.


Seperti sekarang setelah memberi kesaksian tentang kejahatan Samuel dan Ben.Jhon terlihat melamun di mobilnya.Duduk di kursi penumpang belakang karena dibalik setir sudah ada sopir yang menempatinya.


Dan untuk kejahatannya sendiri,dirinya mengaku dijebak oleh Samuel sehingga dia bisa bebas dari jerat hukum terlebih Ardhan Mira sudah memberi kesaksiannya.


Dia masih memikirkan alasan sekretaris kepercayaannya,hingga tega mengkhianatinya.Lagi-lagi karena masalah uang seseorang bisa menjadi gelap mata,padahal menjadi sekretaris pimpinan perusahaan besar gajinya tak sedikit dan kalaupun masih kurang dia bisa memberitahu pada atasannya.Lalu kenapa Ben bisa melakukan itu padanya?entahlah,Jhon pun tidak mengerti.


Terdengar helaan nafas dari kursi belakang,sang sopir terlihat melirik kearahnya.


"Apa tuan baik-baik saja?"tanya sang sopir yang terlihat cemas,karena melihat tuannya tengah melamun menopang dagu.


"Maaf tuan,apa baik-baik saja?"tanyanya lagi lebih keras karena tidak ada sahutan.


Jhon langsung tersadar dari lamunannya."Tidak apa-apa pak!"dia celingak-celinguk seperti ingin tau sudah sampai mana mobil mereka.


"Putar balik pak,kita ke Panti Asuhan sekarang."Perintahnya kemudian.


Setelah sang sopir mengangguk,dirinya langsung memutar balik mobilnya menuju lokasi sesuai perintah.


Hanya memerlukan waktu sebentar,mobil Jhon sampai pada tujuannya.Mobil mereka langsung masuk ke halaman Panti.


Terlihat Bu Fatimah sedang menyapu halaman, dedaunan kering yang masih berserakan tak jauh dari pohonnya.


Bu Fatimah tampak mengernyitkan dahinya,cukup asing dengan mobil mewah itu.


"Assalamualaikum mba."Sapa nya begitu keluar dari mobilnya.Dia sendiri karena sang sopir menunggu didalam mobil.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."Jawab Bu Fatimah kemudian.


Dipertemuan kali ini sudah tidak ada lagi ketegangan karena semua kesalahpahaman diantara mereka sudah tidak ada.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama mba."Ucapnya sedikit terbata,karena takut jika Fatimah masih membencinya.


Lain halnya dengan Fatimah sendiri,dia sudah memaafkan semua kesalahan Jhon.Karena Fatimah berharap Mira akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah didapatkannya.


"Masuklah,sebaiknya kita bicara didalam saja."Ucapnya lalu mereka masuk,namun sebelumnya Bu Fatimah menaruh sapunya terlebih dahulu ditempatnya lagi.


Kini mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.Jhon terdiam karena merasakan suasana seperti itu mendadak mengingatkan dirinya akan kenangan saat dirinya bertamu dulu bersama Tuan Alan.


Mengingat bagaimana untuk pertama kalinya melihat wajah ramah Brenda dulu saat menyajikan minuman.Hingga Sampai beberapa kali bertemu mereka akhirnya mempunyai perasaan yang sama dan mulai menjalin hubungan.


"Apa kedatangan saya menganggu mba?"ujarnya memulai berbasa-basi.


"Tidak sama sekali, waktu mba sedang senggang karena anak-anak sekolah."Jelas Bu Fatimah kemudian.


"Tidak apa mba,justru itu bagus karena saya masih merasa bersalah dengannya,aku belum berani bertemu."Ucapnya lirih,menahan sesak di dadanya.


Karena Jhon sudah sangat yakin jika Mira memanglah putrinya.Pengakuan Ben tentang menukar hasil DNA dulu ketika Mira masih kecil,membuktikan jika memang benar Mira putrinya yang dikandung Brenda.


"Jangan seperti itu,Mira gadis yang baik jadi mba yakin pasti dia tidak akan menaruh dendam sama sekali apalagi terhadap ayahnya sendiri."


Rasa bersalah Jhon terhadap Mira semakin besar,bagaimana bisa putrinya dengan gampangnya memaafkan padahal dirinya hampir saja membunuh nya.Sedangkan dia bertahun-tahun menaruh dendam terhadap ibunya yang sama sekali tidak bersalah,malahan menderita karena kebodohannya yang tidak tau tentang kehamilannya.


"Lalu dimana Brenda sekarang mba?"


Bu Fatimah tampak berkaca-kaca,mendengar nama itu."Mira bilang ibunya sudah meninggal karena sakit."Air mata yang sudah ditahannya tidak bisa terbendung lagi.

__ADS_1


Apalagi saat Fatimah menceritakan bagaimana saat dirinya dengan terpaksa mengusir Brenda karena kehamilannya.


Bagaimana kehidupan Mira saat beranjak dewasa.Karena suatu paksaan soal biaya pengobatan ibunya yang mengharuskannya menjadi wanita penghibur.


Jhon langsung membeku mendengar penuturan Bu Fatimah.Tak terasa dirinya pun langsung menangis,begitu banyak kesalahan pada wanita malang itu.Apalagi untuk putri mereka.


"Untuk itu mba mohon,kali ini bahagiakan putrimu,darah daging mu sendiri Jhon."


Karena sekarang bukan hanya Mira yang sebagai putri Jhon tapi kini sudah ada Jessica dan yang lebih membuatnya takut adalah mereka mencintai laki-laki yang sama.Fatimah takut Jhon akan lebih condong ke Jessica daripada Mira yang putri kandungnya sendiri.


" Aku janji mba,kali ini aku akan lebih memikirkan kebahagian putriku sendiri.Cukup sekali aku mengecewakan Brenda dengan menikahi wanita lain,kali ini aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama pada putriku."


" Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan putrimu yang lain?bukankah kamu juga sangat menyayanginya,bahkan kamu pernah mengancam putrimu sendiri hanya untuk membuat dia bahagia."Singgung Bu Fatimah.


"Maafkan aku mba,tapi mba juga tau saat itu aku belum tau jika Mira putriku."Jhon terlihat malu karena menyesal.


"Walaupun jika Mira bukan putrimu,tak sepantasnya kamu berbicara kasar dengan orang lain Jhon.Apalagi itu seorang wanita."


"Iya aku sadar,aku memang salah mba."


"Lalu Jessica,apa yang akan kamu lakukan?"tanya Bu Fatimah Lagi.


"Secepatnya aku akan beritahu,jika Mira adalah saudaranya."


"Kalau jika Jessica tidak mau menerima Mira,apa yang akan kamu lakukan?"Bu Fatimah semakin mendesaknya.


Jhon tampak berpikir,dirinya juga masih belum tau apa yang akan dilakukannya jika itu terjadi.Namun dia berjanji pada dirinya sendiri jika kali ini akan lebih menuruti kata hatinya daripada soal balas Budi.


"Aku janji aku akan berusaha menyakinkan dia mba."

__ADS_1


Bu Fatimah pun akhirnya hanya bisa berdoa,semoga apa yang ditakutinya tidak akan terjadi.Karena sudah begitu banyak penderitaan yang Mira terima,dan dia berharap kali ini setelah tau siapa dirinya,dia akan terus hidup bahagia dengan orang terkasihnya.


...****************...


__ADS_2