
Seusai jam makan siang,Ardhan melanjutkan meeting yang tertunda bersama Dany dan karyawannya.
Membahas perihal rencana pembangunan Grand palace Hotel di kawasan pegunungan.
Sejak semalam dirinya mampu untuk tidak menemui Mira dahulu karena perkataan Dany yang terus saja menahannya.
Namun tidak dengan saat ini,Ardhan terus saja merasa gelisah.Bahkan apa yang disampaikan Dany hanya lewat pendengaran nya saja.Dirinya tidak konsentrasi dalam bekerja.
Walaupun Dany sudah mengkonfirmasikan lewat Siti jika keadaan Mira baik-baik saja.Tapi entah kenapa siang itu rasanya Ardhan sudah tidak bisa menahannya lagi.Ingin rasanya segera menyusul dan menemui sendiri kekasihnya itu.
Keadaan itu tak luput dari mata elang Sekretarisnya,Dany yang sedang fokus menjelaskan perihal rencana yang akan dilakukan perusahaan tersebut.Sesekali matanya terus melirik kearah Ardhan yang tengah duduk gelisah.
Mata Ardhan memang menatap kearah depan,namun entah dengan pikirannya.Karena hanya satu yang dipikirkannya.Mira,dia sudah tidak sabar ingin menemui wanitanya.
Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan Bosnya,Dany secepatnya menyelesaikan pekerjaannya.Beruntung semua pembahasan begitu mudah diterima oleh semua karyawan yang berada diruang meeting tersebut.
"Tuan tidak apa-apa?"Tanya Dany,begitu membubarkan acara meeting tersebut.
Mereka hanya berdua di ruangan sekarang.
"Entahlah,rasanya aku begitu khawatir dengan Mira."
"Bukankah Siti sudah mengatakan bahwa saat ini Non Mira baik-baik saja?lalu apa apa yang Tuan pikirkan?"Dany berusaha membuat Ardhan sedikit nyaman.Tapi dia juga tidak bisa berbohong,melihat Ardhan seperti itu dia juga ikutan khawatir.
"Tanyakan lagi dengan gadis itu,dimana Mira sekarang dan kita langsung menemuinya saja."Perintah ultimatum Ardhan.
"Baik Tuan."
Secepatnya Dany melakukan apa yang Ardhan suruh,takut jika dia mendapat getahnya jika tidak dituruti.Merogoh ponselnya dan langsung menghubungi Siti.Guna menanyakan keberadaan kekasih Bosnya.
"Dimana Nona Mira sekarang?"tanya Dany tanpa basa-basi,begitu panggilannya tersambung.
"Di_di itu Tuan."suara Siti yang terbata-bata serupa orang yang ketakutan.
__ADS_1
Baru saja dia mendapatkan amanah dari Ibu Panti,dan sekarang orang kepercayaannya malah menghubunginya.
"Cepat katakan yang sebenarnya!"Desaknya Dany.Karena Siti masih saja bungkam,membuat Dany semakin mencurigainya.
Ardhan yang hendak keluar ruangan urung meneruskan,karena mendengar suara keras Dany Pada Siti.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Mira, secepatnya Ardhan berbalik dan langsung menyambar ponsel dari tangan Dany.
"Katakan ada apa dengan Mira?dan bagaimana keadaannya sekarang!"Bentak Ardhan dengan suara yang lebih keras dari Dany.
Sebenarnya Ardhan tak berniat membentak,namun karena pikirannya yang sedang tidak tenang membuat nya bertambah emosi.Alhasil orang lain yang menjadi sasarannya.
Siti yang kaget mendapatkan bentakan dari Bos besarnya,seketika gemetaran.Mau tidak mau dia berkata jujur sekarang.Karena pekerjaan yang menjadi taruhannya,jika sampai dia masih menutupi keadaan kekasih Bosnya.
Dengan suara yang pelan Siti mengatakan semua yang ia tau.Jika Mira berada di Panti Asuhan dan dia baru saja kedatangan seseorang yang tiba-tiba memakinya dan parahnya sampai mengancam Mira.
Siti sempat menghubungi Mira sewaktu istirahat,untuk menanyakan keadaannya.Namun Bu Fatimah lah yang mengangkat dan menjawab panggilannya,jika kesehatan mental Mira sempat down lagi akibat kejadian yang terduga di Panti Asuhan.
Dan Bu Fatimah sempat menanyakan tentang hubungan Mira dan Ardhan,oleh karena itu Bu Fatimah melarangnya untuk memberitahu Ardhan tentang keadaan Mira yang sebenarnya.
Mendengar itu emosi Ardhan bertambah, buku-buku tangannya memutih saat menggenggam ponsel.Untung saja masih kuat ponselnya,jika tidak mungkin ponsel Dany sudah remuk redam.
Dia tau siapa orang yang mengancam Mira.Ancamannya tempo hari ternyata tidak ada pengaruh untuknya.
Sekarang tidak ada kata ampun atau belas kasihan lagi untuk laki-laki tua itu.
Tanpa ba-bi-bu, secepatnya Ardhan keluar membawa kemarahannya.Bersama Dany yang setia mengikuti kemanapun dia pergi.
Karena takut terjadi suatu hal,Dany menyuruh Dua pengawal untuk membuntuti kemana tujuan mobil Ardhan.
*
*
__ADS_1
Beberapa menit sebelumnya.
Jessica tengah kecewa,karena usahanya menjadi sia-sia.Niatan ingin memberi surprise untuk Ayahnya menjadi gagal.Padahal dia sudah mempersiapkan dengan membawa bekal makan siang untuk mereka makan bersama,meskipun ini bukan masakannya,melainkan masakan Bibi pelayan di rumahnya.
"Ayah minta maaf sayang,Ayah benar-benar tidak tau jika kamu akan datang kesini membawa makanan untuk Ayah."Ucap Jhon,merasa bersalah sekaligus gemas dengan putrinya yang sedang mengerucutkan bibirnya.
Sekembalinya Jhon dari Panti Asuhan,dia menemukan Jessica sudah berada di ruangannya dengan wajah cemberut,dengan bekal makan siang didepannya.
Jessica akan mencoba untuk menerima takdirnya,melupakan Ardhan, laki-laki yang selama ini dicintainya.Dengan awalan melakukan hal-hal yang dianggapnya menyenangkan.
Bibi Salma selama ini terus menasehati nya,jika tidak semua hal yang kita inginkan harus kita miliki.Ada kalanya kita harus bersabar untuk mendapatkannya atau justru merelakan dengan lapang dada.
Seperti sekarang, Jessica pernah berandai jika sampai menikah dengan Ardhan dia akan selalu membawa bekal makan siang untuknya.
Oleh karena itu dia akan tetap melakukannya namun bukan untuk Ardhan melainkan untuk Ayahnya.Berharap apa yang dilakukan sekarang akan mengikis perasaan tentang Ardhan dengan melakukan semua hal yang baik untuknya.
"Kalau saja Jess,memberitahu dulu.Ayah tidak akan makan siang dengan klien ayah."
"Kalau itu namanya bukan surprise Ayah."jawab kesal Jessica dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Oke,oke.Ayah benar-benar minta maaf."Ucap Jhon menarik kedua telinganya sendiri.Serupa anak-anak yang sedang mengaku salah.
Tingkah Jhon membuat Jessica terhibur,mereka sama-sama tertawa.Jessica merasa sudah cukup lama mereka tidak melakukan hal-hal konyol seperti itu lagi.
Semenjak dirinya dewasa dan Jessica hanya sibuk memikirkan cintanya pada Ardhan.Tanpa memikirkan kebahagiaanya sendiri.
Melihat putrinya yang tertawa lepas,Jhon merasa lega.Dia berharap keadaan Jessica akan seperti itu seterusnya.Bahagia tanpa ada air mata kesedihan lagi.
keseruan mereka terhenti tatkala seseorang masuk begitu saja keruangan Presdir.
Sekretaris Ben masuk di ikuti seseorang dibelakangnya.
...****************...
__ADS_1