Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 58.


__ADS_3

Seorang wanita tengah berdiri di pintu Apartemen.Dia mengecek lagi nomor kamar, memastikan jika nomor yang ia terima benar.


Deg-degan karena baru kali ini dirinya mendatangi kamar laki-laki,jika saja bukan Bos besar yang menyuruhnya mungkin dia akan ogah datang dan menemui laki-laki yang ada didalam kamar tersebut.


Tapi dia juga merasa bersalah saat tau pemilik apartemen yang ia datangi secara tidak langsung sakit karenanya.


"Aduh,,,,gimana ini?pencet-tidak,pencet-tidak,ah tau ah."Gumamnya Siti yang tengah kebingungan.Tangannya masih menggantung di udara, ragu-ragu saat jarinya tengah menekan nomor kunci pintu Apartemen.


Walaupun masih jauh dari kata wanita Solehah,dirinya begitu enggan jika berdekatan apalagi satu ruangan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.


Tapi apalah daya jika pekerjaan menjadikan dirinya mau tidak mau melakukannya.Tapi Siti tetap waspada meski dirinya dan Dany sudah mengenal lumayan dekat.


Dengan ragu-ragu Siti menekan nomor yang sudah ia ketahui karena Ardhan memberitahunya.


Klik


Pintu terbuka Siti langsung masuk setelah mengucap salam.


Celingak-celinguk waspada barangkali yang punya tempat ada tapi ternyata kosong.Diruang tamu,ruang tengah,dapur semua yang Siti lihat kosong.Hanya interior rumah yang ia lihat.Satu tempat yang belum ia periksa.Kamar yang pintunya berwarna hitam pasti kamar pemilik rumah,karena yang Siti lihat tempat itu hanya mempunyai satu kamar.


Ragu-ragu mau mengetuk,sama seperti saat masuk ke Apartemen ini.bawaannya gemetaran tangannya.


Tok..tok..


Lama nggak ada sahutan dari dalam, perasaan Siti jadi takut,jika sesuatu terjadi didalam.


"Kemana pak Dany,kenapa nggak ada suara?"


Karena khawatir,ditambah Siti ingat kalo Dany sedang sakit.Karena takut terjadi apa-apa Siti langsung membuka handel pintu dan masuk begitu saja.


"Aaaaaaa!"Suara jeritan Siti menggema dikamar,terkejut saat membuka pintu bertepatan Dany yang keluar dari kamar mandi.Laki-laki itu hanya menggunakan handuk sepinggang.Karena tak ingin melihat sesuatu yang lebih,Siti buru-buru keluar membanting pintu.

__ADS_1


Dany yang kaget jadi ikutan menjerit tak kalah kenceng.Seorang perempuan menjerit dan sudah berada di kamarnya.


Didepan pintu,Siti masih terpaku.


"Astaghfirullah..." Siti mengusap dadanya pelan.Kaget bercampur malu.Bagaimana tidak, hampir saja dia melihat benda yang seumur hidupnya belum pernah ia lihat.


Lagi-lagi,Siti menggeleng-geleng kepalanya.mengusir pikiran kotor, gara-gara kejadian tadi pikiran Siti jadi tercemar.Meski kepribadiannya yang somplak namun untuk hal seperti itu Siti sangatlah polos.Dia memukul pipinya sendiri sebab wajahnya berubah hangat.


Sedangkan yang didalam kamar,Dany masih saja syok.Dia hanya mengerjap-ngerjap matanya masih bergeming di posisinya,suara keras pintu yang ditutup menyadarkannya.Buru-buru dia membetulkan handuknya.


Beberapa saat setelah dokter yang memeriksanya pergi,Dany langsung pergi untuk mandi.Sebab dirinya merasa tidak nyaman karena badannya yang lengket keringat.


Dany masih tidak percaya bagaimana bisa ada seorang perempuan dikamarnya.Seingatnya dia tidak pernah menyuruh seseorang untuk datang ke apartemennya.


Detik kemudian dia langsung teringat sesuatu.


"Kenapa tuan tidak bilang jika orang itu perempuan,dan parahnya itu Siti."Jawaban saat ponselnya tersambung.Dia menanyakan tentang keberadaan perempuan yang membuatnya hampir kehilangan kesuciannya.


Panggilan mereka pun selesai,Ardhan tampak mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan kata kaget.Namun setelahnya dia memfokuskan lagi dengan ponselnya yang sempat tertunda karena panggilan masuk.Tapi bukan untuk bekerja,melainkan karena Ardhan sedang ON di salah satu butik ternama.


Dany masih bergeming diposisinya.Setelah tau kalau Ardhan yang mengirim perempuan itu ke apartemennya.Dia nampak bingung harus melakukan apa.Jujur saja dia belum siap jika bertemu Siti karena merasa malu.


Dia bilang apa tadi,merawat ku?oh,tuan jika untuk merawat ku kenapa harus perempuan itu.


*


*


Kini pagi berganti malam,Ardhan tampak lebih tampan malam itu,senyum diwajahnya tak pudar.Karena wanita cantik yang disampingnya.


Mereka tengah menunggu Jhon dan Jessica,hari ini Jhon ingin Jessica secepatnya mengetahui semua masa lalunya terutama keberadaan Mira yang sebenarnya putri kandungnya.

__ADS_1


Mira sendiri sudah tau hasil tes DNA dan dia bahagia karena ternyata dirinya tidak hidup sebatang kara.Dia masih mempunyai seorang Ayah kandung.


Namun disisi lain dirinya masih mempunyai rasa khawatir dengan Jessica,mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka.Masalah pelik antara mereka karena masalah laki-laki, laki-laki yang berada disampingnya,yang kini menjadi kekasihnya dan sudah melamarnya.


"Bee,,,aku takut."Ucapnya meremas tangannya.


Meskipun saat ini Mira sudah mengantongi fakta bahwa dia adalah putri kandung Jhon,tapi tetap saja dia merasa justru lebih khawatir.


Dan semalam dia sudah memikirkannya tentang kelanjutan hubungannya dengan Ardhan jika Jessica masih belum bisa menerima jika Ardhan mencintai Mira.


"Tidak apa-apa ada aku dan aku mohon kali ini pikirkan perasaanmu sendiri,jangan orang lain."Ucap Ardhan memberi semangat,padahal dia sendiri juga khawatir jika Mira akan lebih memikirkan perasaan orang lain terlebih Sekarang sudah tau jika dirinya dan Jessica bersaudara.


Mira hanya tersenyum,dia menatap dalam wajah laki-laki yang tengah memeriksa ponselnya yang menerima pesan.


"Bersiaplah,Ayahmu dan Jessica sudah sampai."


Mendengar itu Mira semakin tegang,sedikit terusik dengan sebutan Ayah tadi.Apa dia akan bersikap seperti ibunya dulu mengalah untuk orang lain.


Tak lama orang yang mereka tunggu datang,mereka langsung berdiri begitu melihat mereka mendekat.Wajah Jhon yang sangat berwibawa tapi kali ini ditambah senyum yang hangat.Sedangkan Jessica tentu saja tampak cantik menawan seperti biasa yang membuat Mira selalu rendah diri,merasa tidak pantas jika bersanding dengan Ardhan.


Langkah mereka yang mendekat sangat berbeda bagi Mira.Yang satu menyambutnya dengan hangat yang satunya lagi diawal mungkin terkejut,tapi setelah itu wajahnya berubah tanpa ekspresi begitu datar.


Mungkin Jessica mencoba menutupi perasaannya yang sebenarnya.


"Kalian menunggu lama?"suara dan wajahnya tampak senang saat Mira mencium punggung tangannya.Bahkan tak sadar tangan Jhon sampai mengusap kepala Mira.


Jessica terkejut dengan tindakan itu,wajah datarnya berubah kesal.Di tambah pemandangan yang membuat dirinya semakin geram saat tangan kiri Ardhan merangkul pinggang Mira.


"Menjijikkan!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2