
Masih di ruangan Presdir Miller Crop.
"Bagaimana?apa paman setuju?" tanya Ardhan melihat Jhon yang tengah duduk didepannya.
Selepas kepergian Mira dan lainnya,Ardhan masih berada di ruangan bersama Jhon.Dia ingin membahas perihal pertemuan antara Samuel dan Jhon di kantor itu.
Dan Jhon sudah memberitahukan semuanya.Termasuk soal permintaan sebagian saham milik perusahaan Miller.
"Ya,tentu saja.Karena aku ingin tau reaksi mereka saat tau surat ini palsu."Jawabnya kesal,meremas kuat bolpoin yang tengah dipegannya.karena mengetahui jika orang kepercayaannya telah membohonginya mentah-mentah.
Ya,surat pengalihan sebagian saham yang baru saja ditandangani Jhon adalah palsu.Karena pemilik sah masih atas nama Jessica.
Selama ini Jhon hanya menjalankan dan yang bertanggung jawab atas semua kekayaan keluar Miller.Namun selama ini semua orang menganggap jika perusahaan sudah dialihkan atas nama Jhon.Bahkan Jessica sendiri tidak tau itu.
Dirinya tidak ada niatan sedikitpun untuk menguasai semuanya.Baginya bisa membalas Budi kebaikan keluarga Miller saja sudah membuatnya puas meskipun dia harus berkorban dengan kisah cintanya.
"Terima kasih Nak,sudah mau memaafkan paman dengan tidak melaporkan ke polisi."Ucapnya tulus.
"Seharusnya berterima kasihlah dengan Mira,karena paman bisa bebas dari jerat hukum.Meskipun sebenarnya akulah yang ingin melaporkan paman."Jawab Ardhan dengan kekehannya.
Dia tau semua perbuatan Jhon serta Merta karena dendam yang tidak beralasan.karena kecemburuan bisa menutup mata hati siapa saja jika tidak menanggapi nya dengan lapang dada dan keikhlasan.
"Satu hal lagi,sebaiknya paman dan Mira lakukan tes DNA.Itu juga demi kebaikan kalian,supaya tidak ada lagi rasa ragu dalam hati paman ataupun Mira."Ucap Ardhan menyarankan.
Terdengar helaan nafas dari laki-laki matang itu."Baiklah,besok kita lakukan!" jawab mantap Jhon.
"Oke paman,biar nanti aku saja yang akan mengatur jadwal dengan dokter.Kita bertemu besok di Rumah Sakit."
Karena hari sudah semakin larut,oleh karena itu Ardhan langsung berpamitan.
Sepeninggal Ardhan,Jhon tampak merenung.Mengeluarkan sesuatu yang masih tersimpan rapi di dompetnya.
Potret seorang wanita berambut pirang,dengan senyum manisnya yang ia tampakkan.
Walaupun ia mempunyai dendam dengan wanita itu,namun tak dipungkiri jika dirinya masih menyimpan perasaan pada wanita yang ingin dijadikannya istri sekaligus ibu dari anak-anaknya.
Meskipun mungkin sekarang hanya satu yang terwujud,yaitu mempunyai anak dari wanita yang dicintainya.Jhon akan tetap merasa bahagia.
*
*
__ADS_1
Esoknya.
Di Rumah sakit,sesuai janjinya.Kini Ardhan dan Mira sudah berada di Rumah Sakit.Mereka tengah menunggu kedatangan Jhon.
Mira duduk di ruang tunggu,sedangkan Ardhan di sampingnya terus saja menggenggam erat tangannya.
Dia terus memberi Support untuk kekasihnya itu.
"Semua akan baik-baik saja setelah ini, percayalah."Ucapnya tersenyum tulus.
"Terima kasih untuk semuanya Tuan."
Mira menjawab tak kalah lebih tersenyum lebar.Secara tak langsung karena laki-laki inilah hidupnya menjadi lebih baik sekarang.
Namun senyum manisnya mulai meredup,manakala melihat wajah Ardhan berubah muram.
"Kenapa?"
"Apa itu tadi."Ucapnya sedikit merajuk.Tangan terlepas dari genggaman.
"Apanya?"masih bertanya polos.Mira tidak tau jika laki-laki di sampingnya sedang mode kesal.
Matanya beralih menatap kesamping,seperti anak kecil yang tengah merajuk karena tidak dibelikan sesuatu yang diinginkan.
Melihat itu dalam hati Mira tergelak dengan kelakuan laki-laki."Ternyata dia bisa lucu juga gemasnya."
Seketika ide untuk menjahili terlintas di otak Mira.
"Terus,memangnya aku harus panggil apa?"pura-pura polos.Mira menggigit bibirnya menahan tawa,karena Ardhan belum mau menatap kearahnya.
"Ya,,terserah asal jangan kamu sebut tuan lagi."Matanya mengerjap-ngerjap saat mengatakan,malu sendiri kalau sampai dia mengatakan langsung jika dirinya menginginkan panggilan yang lebih romantis.
"Bagaimana kalau Pak saja?"usulnya dengan santai tapi langsung Kaget.
Karena saat baru selesai mengatakan itu.Ardhan langsung berbalik menatapnya tajam.
Mira bukannya takut malah berasa geli sendiri.Ternyata senang juga menjahili pria pendiam dan dingin ini.hi,,hi,,
Meninggalkan sepasang yang masih sibuk berdebat soal nama panggilan.Tak lama orang yang mereka tunggu sejak tadi muncul.
"Maaf,apa paman terlambat."Ucapnya setelah berada didekat mereka.
__ADS_1
"Sama sekali tidak paman, Dokternya juga belum memanggil kita."Jawab Ardhan setelah menjabat tangan Jhon.
Padahal sebenarnya bukan menunggu Dokternya,karena Sejak tadi justru Dokter itu sudah- dua kali hampir menghampiri Ardhan namun urung karena melihat sepasang pasangan yang sedang kasmaran sedang asik dengan urusan mereka sendiri.
karena mereka sudah cukup lama menunggu,kalau saja mereka tidak berdebat karena hal kecil.Mungkin mereka akan merasa bosan.
"Baiklah,sebaiknya kita keruangan dokter sekarang."Ajaknya pada Jhon.
Merekapun akhirnya melakukan semua proses saat akan melakukan tes itu.Dimana untuk mengetahui hasil yang akurat dibutuhkan waktu yang cukup lama.
"Apa setelah ini paman akan memberitahu Jessica?"tanya Ardhan begitu semuanya selesai.
Kini mereka di parkiran Rumah Sakit.Tepatnya di samping mobil Jhon,karena mereka lebih dulu mengantarnya ke mobilnya.
"Tidak,Paman akan memberitahunya begitu semuanya selesai."Menatap kearah Mira.
"Maafkan Ayah,bukan berarti Ayah belum mau mengakui mu.Ayah ingin saat waktunya tiba,fokus Ayah hanya pada kalian.Jadi Ayah mohon bersabarlah."Jhon mengusap rambut panjang Mira.Kali ini dia sama sekali tidak menghindar.
Ada rasa bahagia saat mendapatkan perlakuan itu,sesuatu yang tak pernah ia dapatkan dari dulu.
"Hm,pasti Ayah!" ucapnya mengangguk semangat.Mata Mira mulai memanas saat bibirnya berucap kata Ayah.
Begitupun dengan Jhon,rasanya saat ini ingin langsung memeluk tubuh gadis yang di depannya.Putri yang tak pernah ia tau keberadaannya selama hidupnya.
"Sepertinya aku tidak melihat Ben,Paman?apa Paman sudah memecatnya?"Ardhan mencoba mengalihkan situasi haru.Di samping itu juga dia sebenarnya penasaran dengan keberadaan Sekretaris yang biasa selalu menempel dengan Jhon.
Walaupun dia tau,sesuatu pasti terjadi dengan sekretaris itu karena kebusukannya sudah terbongkar.
"Bukan paman yang memecatnya,melainkan dia sendiri yang mengundurkan diri setelah surat pengalihan saham itu sampai ke Samuel."
Pagi tadi sebelum Jhon datang ke Rumah Sakit,dia bertemu dahulu dengan Samuel di perusahaan Miller Crop.Untuk menyerahkan surat pengalihan saham itu.Yang lebih tepatnya surat palsu.
"Aku tunggu kabar dari paman soal itu."
Tak lama obrolan mereka selesai,Jhon pun akhirnya mulai masuk ke mobilnya,setelah Ardhan membukakan pintu untuknya dan melesat pergi dari tempat itu.
Kini Ardhan dan Mira sudah berada di mobil,sepanjang jalan mereka melanjutkan drama soal panggilan nama yang sempat terpotong karena kedatangan Jhon.Entah panggilan apa yang menjadi keputusan mereka.
...****************...
Kira-kira Mira bakal manggil dengan sebutan apa ya yang cocok buat Ardhan???❤️❤️❤️
__ADS_1