
Jika dua sejoli yang masih berada di pantai sedang bingung mencari jalan keluar untuk hubungan mereka.
Berbeda dengan yang didalam kamar yang di dominasi warna putih.
Sedari pagi dirinya terus berada di kamarnya, dia terus saja merasa gelisah.Kakinya terus mondar-mandir dan matanya terus saja menatap layar ponselnya.Seperti tengah menunggu kabar dari orang suruhannya.
Sampai langit terlihat petang,dia masih saja gelisah.Tak lama apa yang di tunggunya sampai.Sebuah foto yang dikirim ke ponselnya.
meskipun hanya terlihat Sekretarisnya dengan seorang wanita,namun dia tau siapa yang berada di dalam mobil.
Jessica terlihat gusar setelahnya,orang suruhannya yang diperintahkan untuk memata-matai Ardhan memberikan informasi yang cukup membuatnya marah.
Dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah kalah dari perempuan bernama Mira.Ardhan menunjukan bahwa status masa lalu Mira sama sekali tidak berpengaruh untuknya.
"Brengsek! umpat Jessica melempar ponselnya ke dinding sampai hancur.Dia merasa terhina dengan kabar ini,bagaimana mungkin seorang Ardhan lebih memilih wanita yang dia anggap kotor itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan,tidak bisa."Akkhhhh!"Teriaknya menjambak rambutnya sendiri. Lagi-lagi Jessica hilang kendali,dia seperti wanita yang mempunyai gangguan jiwa.Sosok anggun dan ramah seketika hilang.
Namun kali ini kemarahan dia tidak sampai membuat kamarnya hancur berantakan.Dia hanya menangis,duduk meringkuk di atas ranjangnya.
Tangisan menyayat hati terdengar dikamar putri tunggal keluarga Miller,andai saja Ibunya masih hidup mungkin saat ini Jessica lebih waras sedikit karena ada yang menenangkannya.
Sosok ayah tiri yang dulu selalu disampingnya,kini sudah jarang menampakkan wujudnya semenjak kepulangannya dari luar negeri.
*
Sebuah mobil terlihat memasuki halaman rumah yang luas.Itu mobil pemilik rumah tersebut,Tuan Jhon mulai memasuki rumah bersamaan sang supir yang membawa mobil tersebut ke area parkir.
Mengetahui Tuannya pulang,Bibi Salma langsung menyambutnya didepan pintu utama.
"Selamat malam Tuan."Ucapnya sedikit gelisah.Ada rasa khawatir di wajah yang mulai keriput.
"Apa ada masalah Bibi?"Tanya Tuan Jhon,dia merasa ada yang aneh dengan raut wajah Bibi Salma.
"I_itu Tuan,Nona_."Ucapannya menggantung,dia merasa bingung haruskah dia menyampaikannya.Dia juga merasa khawatir dengan keadaan Nona nya.
"Katakanlah Bibi."desaknya Jhon."Apa terjadi sesuatu dengan Jessica?Tebaknya langsung.
__ADS_1
"Iya Tuan,dari pagi Nona sama sekali tidak keluar dari kamarnya,dia bahkan tidak makan dan minum.Bibi sudah berusaha memanggilnya tapi tetap saja tidak ada balasan dari dalam,Bibi sangat khawatir Tuan."Ucapnya tampak gemetaran,matanya berkaca-kaca.
Bibi salma mengurus Jessica dari semenjak masih bayi,jadi dia merasa takut jika ada yang terjadi dengan putri majikannya yang sudah ia anggap sebagai putri sendiri.
"Tenanglah Bi,sebaiknya Bibi siapkan makanan untuk Jessica.Biar saya yang membujuk putriku."Suruh nya yang di jawab anggukan.
Lantas bibi Salma langsung menuju area dapur untuk menyiapkan apa yang di perintahkan Tuannya.
Sedangkan Jhon,langsung menuju kamar putrinya yang berada di lantai atas.Tak perduli dengan kondisinya yang lelah karena seharian bekerja.
Tok tok tok
Begitu Jhon sudah didepan kamar Jessica.
"Jess,sayang,bolehkah ayah masuk nak?"Ucapnya,berusaha membujuk Jessica untuk membuka pintu yang terkunci.
"Ayah hanya ingin berbicara,jadi biarkan ayah masuk,sayang?"lanjutnya lagi masih berusaha membujuknya.
Tak lama pintu kamar terbuka sendiri karena hanya dengan memencet tombol saja.
Saat Jhon masuki kamar putrinya,dia melihat Jessica masih bergeming diposisi yang sama.
"Jess."Hanya itu yang di ucapkan Jhon,tangannya mengusap kepala putrinya.Dia tidak kuasa untuk berbicara lebih.
masih dalam keheningan,hanya suara deru nafas mereka dan Isak tangis Jessica saja.
'Maafkan aku Alan,maafkan aku Lyla.'
Terdengar suara helaan nafas berat Tuan Jhon.Dia merasa bersalah dengan kedua orang tua Jessica.
Jessica mendongak,menatap wajah ayahnya yang terlihat khawatir.
"Ayah_."Ucapnya lirih,dengan matanya yang sembab.masih terdengar nafas yang tak beraturan karena Seharian dia menangis.
Jhon langsung mendekap tubuh putrinya,merengkuh tubuh gadis yang semakin bergetar karena menangis.Membiarkan putrinya terus mengeluarkan air penderitaannya.
Bibi Salma masuk karena pintu tidak ditutup,dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minum.
__ADS_1
"Tuan,ini makanan untuk Nona Jessica."Ucapnya Bibi setelah mendekat,lalu Disodorkannya nampan tersebut.
"Makanlah dulu sayang."Suruh nya pada Jessica,setelah putrinya berhenti menangis.
Jessica terlihat menggeleng,dia merasa tidak nafsu untuk memakan sesuatu.
"Ayolah Jess,apa perlu ayah suapi seperti dulu?"Jhon menggunakan jurusnya,karena dia tau putrinya akan malu jika kepribadian yang manja dibicarakan.
"Tidak usah,biar Jess makan sendiri."jawabnya kesal,karena ayahnya membicarakan masa lalunya yang manja.Dia malu walaupun Bibi juga sudah mengetahui sifatnya dulu.
"Baiklah,ayah akan keluar.Biarkan Bibi Salma menemanimu makan."Setelah melihat Jessica menganggukan kepalanya,lantas dirinya keluar dari kamar putrinya menuju ruangan lain.
Didalam ruang kerjanya,Jhon langsung menelepon sekretarisnya.
"Cari dimana wanita itu tinggal,aku akan buat perhitungan dengan-nya."Ucapnya langsung,setelah panggilan tersambung.
Dia sudah tak perduli dengan ancaman Ardhan.Kali ini dia tidak bisa diam saja melihat putri yang diamanatkan padanya terluka begitu saja.
Berpindah pada seseorang yang sehabis menerima perintah dari atasannya.Ben terlihat menyeringai,dia semakin bahagia mendengar perintah apa yang Jhon katakan.
Begitu juga dengan laki-laki yang tengah menghirup asap kenikmatan,duduk di sofa berwarna merah dengan gaya bak mafia yang berkuasa.
Dia juga mendengar pembicaraan mereka karena panggilannya diloudspeaker.Tak sia-sia dirinya beberapa bulan mendekam di jeruji besi.Rencananya hampir mendekati kata berhasil.
Dua orang yang seharusnya bersatu,kini malah akan berselisih karena kesalahpahaman di antara mereka.
"Anda senang Tuan Sam?" Ucap Ben mendekati nya,lantas duduk didepannya.
"Kau masih tanyakan itu?" Merasa heran,padahal dari raut wajahnya saja sudah menunjukkan bahwa Samuel sedang bahagia.
Ben terkekeh."Aku hanya memastikan saja,lalu apa yang akan tuan lakukan dengan ini?" Bersiap dengan rencana selanjutnya.
"Kita biarkan mereka berkelahi,yang terpenting jangan sampai Jhon tau siapa dirimu yang sebenarnya.Hasut dia seperti saat kau membodohi Jhon tentang Brenda."
"Itu masalah gampang Tuan,lalu untuk bocah tengil itu?"Ucapnya santai,sambil minum cairan berwarna merah dari gelasnya.
Sedangkan Samuel terlihat berpikir,rencana apa yang hendak ditunjukkan untuk Ardhan.Lagi-lagi sebuah ide muncul begitu saja dari otaknya.
__ADS_1
...****************...