Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 53.Kencan part 1


__ADS_3

Pagi itu rasanya sangat berbeda bagi Mira,entah karena apa yang jelas saat bangun tidur hatinya terasa lebih damai.


Mungkin ketakutan akan kelamnya jalan hidupnya kini sudah lenyap,berganti dengan warna pelangi.Meskipun belum lengkap warnanya.


Hari itu setelah bangun tidur dan melakukan rutinitas biasanya,membantu anak-anak bersiap untuk sekolah dan hal lainnya.


Mira tampak duduk termenung di teras depan, memikirkan hasil tes DNA yang sebentar lagi akan keluar.Entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia memang benar-benar anak kandung laki-laki yang pernah menculiknya.


Sebuah mobil mewah tampak berhenti didepan gerbang,mengalihkan pandangan kosong Mira yang sejak tadi entah kemana.Seorang laki-laki tampan muncul,senyum manis tampak diwajahnya mengalahkan sinar hangat mentari pagi itu.


"Pagi Honey!" seru Ardhan begitu sudah dekat Mira.Pagi itu Ardhan berpenampilan sedikit berbeda,setelan Jaz yang biasa ia kenakan tak nampak pagi itu.Berganti dengan setelan celana training dan kaos oblong berwarna putih yang ketat,lengkap sepatu sneaker.


"Pagi juga Bee."Mira menjawab heran,karena seingatnya hari ini bukan bukan hari libur.Lalu kenapa laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya itu pagi-pagi sudah berkunjung.


Satu hal lagi,perdebatan mereka kemarin menghasilkan nama panggilan untuk masing-masing, Bee dan Honey.Karena nama tersebut menurut mereka memiliki arti yang saling membutuhkan.


"Bee,,."Ucap Mira.Dia menatap heran penampilan Ardhan dari atas kebawah.


Ditatap kekasihnya seperti itu Ardhan malah senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana?apa masih kelihatan seperti Ardhan Prayoga?" tanya Ardhan pada Mira,dia membentangkan tangannya.Menyuruh Mira menilai penampilannya yang tidak seperti biasanya.


Ternyata dia merubah penampilan karena ingin menyembunyikan identitasnya?apa karena aku?wanita biasa yang sekarang di sampingnya.


Memikirkan hal itu membuatnya cukup terharu.ternyata sebegitu perhatiannya sampai Ardhan mau merubah penampilan hanya untuk membuatnya lebih percaya diri ketika disampingnya.


"Ada apa,kenapa sampai berpenampilan seperti itu?"bukannya menjawab,Mira malah balik bertanya.Dia mengernyitkan keningnya.


"Bersiaplah,aku akan mengajakmu jalan-jalan.Bukahkah semenjak kita jadian belum pernah jalan berdua?"ucapnya memelas.


Alasan Ardhan mengajaknya di hari kerja,karena dia merasa mungkin Mira masih trauma atau tidak menyukai keramaian.Jadi dia memilih hari dimana sebagian orang sibuk bekerja atau sekolah.


Maaf ya karena terlalu banyak masalah tentangku,kita tidak pernah mempunyai waktu untuk kita sendiri.Tapi aku berjanji setelah semuanya beres aku yang gantian bakal membuat hidupmu lebih berwarna.


"Eh,tapi bagaimana dengan pekerjaan kamu Bee?"tanpa sadar Mira bertanya soal pekerjaan,karena dia mengingat kalau hari ini bukan hari libur.

__ADS_1


"Tenang Honey,karena aku mempunyai seseorang yang bisa di andalkan.Jadi kita tidak perlu terlalu memikirkan itu.Sekarang cukup pikirkan saja kemana kamu ingin pergi di hari kencan kita yang pertama."Tanpa merasa bersalah Ardhan dengan entengnya menumpahkan semua pekerjaannya pada orang lain.


Setelahnya sambil menunggu Mira yang tengah bersiap,Ardhan memilih memainkan ponselnya.Membuka aplikasi Mbah G untuk mencari tempat kencan yang cocok untuk mereka nantinya.


*


*


Meninggalkan Ardhan yang sibuk mencari lokasi kencan.


Beberapa jam kemudian.


Seseorang tengah serius dengan pekerjaan yang dibebankan padanya.Tidak ingin adanya kesalahan sedikitpun yang nantinya akan menambah pekerjaan yang sudah mati-matian ia selesaikan.


Namun seserius apapun dirinya berusaha,tetap saja.Kemampuannya yang memang hanya sebatas sekretaris membuatnya terkadang kewalahan.


Apalagi ditambah kalimat Bosnya di telepon pagi tadi masih teringat jelas sangat menjengkelkan baginya.


"Kau senang kan,aku mengijinkan mu duduk di kursi kebesaran ku?"


dengan percaya diri Ardhan mengatakannya.Setelah menyuruh sekretarisnya untuk menyelesaikan pekerjaan di mejanya.


Ardhan menelpon nya,memberitahu jika dirinya pagi itu tidak bekerja.Tapi tidak memberitahu jika dirinya akan berkencan.Sebenarnya tidak ada pengaruh sama sekali jika memberitahu sekretarisnya,hanya saja dia tidak ingin membagi kebahagiaan nya bersama orang lain.


Itu menurut pribadi Ardhan sendiri.


Begitulah kalimat terakhir Ardhan saat sebelum mematikan ponselnya.


Kalimat yang menurut Ardhan suatu kebanggaan tapi begitu menjengkelkan bagi sekretarisnya.


"Apanya yang menyenangkan?ini sama saja seperti kursi lainnya.Yang ada malah pinggang dan leherku berasa mau patah."gerutunya bersamaan kedua tangannya memegang pinggang dan tengkuk lehernya.


Sudah berjam-jam Dany tidak beranjak dari duduknya.Karena tumpukkan berkas yang harus ia periksa dan pelajari masih cukup banyak bertumpuk didepannya.


Biasanya dia bekerja sesekali beranjak dari duduknya jika Ardhan menyuruhnya ini itu.Atau bahkan sampai keluar ruangan jika menyuruhnya menemui seseorang.

__ADS_1


"Hah, benar-benar Bos yang menyebalkan.Aku doain dia tersedak saat makan.Sebenarnya ada urusan apa sih dia?bukannya dia tau kalo hari ini banyak pekerjaan yang harus dilakukannya."


Dany masih terus menggerutu,dia merasa tenaga dan otaknya kali ini lebih terkuras habis.


Berbeda dengan Dany yang masih merasakan kesal,Siti di ruangan pantry justru sedang dilanda kebingungan karena Dany menyuruhnya membuatkan kopi untuknya.


Masalahnya bukan satu kali Dany menyuruhnya,melainkan ini kelima kali dirinya mendapatkan tugas itu.


"Duh,bagaimana cara ngomongnya?" bingung.


Menatap satu cangkir kopi Espresso yang menurutnya seperti kopi sianida.


Jika saja dirinya tidak sedang bekerja,mungkin dirinya tidak akan perduli seberapa banyak kopi yang masuk ke perut laki-laki itu.


Tetapi sekarang yang jadi masalahnya,bukan cuma tentang kondisi perut Dany,tapi juga nasib pekerjaan nya.Bagaimana jika ada masalah dengan perut laki-laki itu karena kopi buatannya.


"Ah,bomatlah! kan dia sendiri yang minta.Lagian aku bukan penasehatnya,di sini aku cuma OB."


Dengan penuh keyakinan Siti membawa sesuatu yang akan menjadi akhir nasibnya.Tidak perduli dengan tangannya yang gemetaran saat membawa nampan tersebut.


Tak!


Suara nampan yang membentur meja membuat jantung Siti sedikit ketakutan.


Saat di pintu tadi sebenarnya dia ingin berbalik,mengganti kopi dengan minuman lain yang lebih menyehatkan.Bukan berarti kopi tidak baik hanya saja dia tau jika mengkonsumsi kopi berlebih itu akan mengganggu kesehatan.


Namun urung mengingat sifat sekretaris Bosnya itu yang tidak suka dibantah.


"Silakan pak." Dengan hati-hati Siti menyajikannya.


Dany masih bergeming,mata dan jari-jarinya masih sibuk di posisinya masing-masing.Namun entah karena tidak sadar atau memang tidak mendengar seseorang berjalan pergi dan suara pintu ditutup dia menoleh.


OB yang tadi mengantar kopinya ternyata masih berdiri,Dany memperhatikan kearah tangannya yang memainkan jari-jarinya.Dia tau gadis yang didepannya sedang gelisah.


"Ada yang mau ditanyakan?"

__ADS_1


Seketika Siti langsung mendongak begitu suara Dany terdengar.Tetapi dirinya belum berani menjawab malah sibuk menggigit bibirnya yang malah membuat kepala seseorang bertambah pening.


...****************...


__ADS_2